Pentingnya Tauhid dan Kesesatan dari Mengabaikannya

Syaikh Shalih bin ‘Abdillaah Al-Fauzan
Dari bukunya Duroos min Al-Qur’an Al-Karim (h.5-11)

Bismillahir rahmaanirrahiim

Tauhid adalah dasar di mana agama Islam tegak dibangun, sehingga fokusnya pada inti utama agama itu sendiri. Jika kita menelaah seluruh kandungan Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa Al-Quran menguraikan isu-isu tentang tauhid secara berulang-ulang, begitu banyaknya sehingga ada tidak ada sebuah Surat pun dalam Al-Qur’an yang tidak menyebutkan tauhid, menjelaskan dan melarang apa yang menentangnya.

Bahkan Al-Imam Ibnu Al-Qayyim menyebutkan bahwa kandungan Al-Qur’an seluruhnya adalah tentang tauhid, karena hanya terdiri dari:

* Perintah untuk menyembah Allah saja tanpa sekutu dan larangan menyembah selain Dia – Ini adalah tauhid, yang disebut tauhid Ar-Rububiyyah.

* Informasi tentang Allah dan Nama dan Atribut-Nya. Ini adalah memaknai tauhid dengan kita harus memiliki pengetahuan mengenai-Nya, yang disebut tauhid Asma’ wa Sifat.

*  Perintah untuk beribadah hanya kepada Allahdan tidak beribadah kepada selain-Nya, yang disebut tauhid  Al-Uloohiyyah.

* Perintah mentaati Allah dan Rasul-Nya (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya (Shallallahu’ alaihi wa sallam) – Ini adalah bagaimana cara mengaktualisasikan tauhid secara lengkap dalam setiap ibadah kita sehari-hari.

* Informasi tentang apa yang Allah telah persiapkan bagi orang-orang yang menerapkan tauhid, serta kesenangan, kesuksesan, keselamatan, dan kemenangan yang akan diperoleh mereka dalam kehidupan ini dan kehidupan berikutnya (akhirat), dan hukuman yang akan diterima bagi pelaku-pelaku syirik dalam kehidupan ini, dan siksaan kekal yang disiapkan untuk mereka di dalam neraka – Yang pertama adalah bagi mereka yang mengaktualisasikan tauhid, yang terakhir adalah bagi mereka yang tidak. [1]

Oleh karena itu seluruh kandungan Al-Qur’an adalah berpusat pada tauhid. Jika kita telaah seluruh Surat dalam Al Quran yang turun di Makkah, kita akan menemukan bahwa kebanyakan dari mereka berfokus pada tauhid. Itu artinya Nabi (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) selama 13 tahun tinggal di Makkah inti dakwah beliau  tidak lainadalah memanggil seluruh umatnya kepada tauhid (untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya kepada selain-Nya) dan peringatan terhadap perbuatan-perbuatan syirik.

Sebagian besar kewajiban keagamaan seperti zakat, puasa, haji, urusan halal dan haram, transaksi bisnis, dll tidak diturunkan kecuali setelah beliau hijrah ke Al-Madinah. Pengaturan hukum shalat adalah pengecualian untuk ini, karena perintah mengenai kewajiban shalat ini diturunkan ketika Nabi (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) masih di Makkah yakni pada Malam Al-Mi’raaj, ketika beliau diambil pada malam hari (ke Yerusalem) [2], tapi itu pun hanya dalam kurun waktu singkat sebelum beliau Hijrah.

Jadi mayoritas seluruh Surat dalam Al Quran sebelum Nabi (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) hijrah ke Madinah berfokus sepenuhnya pada tauhid, sehingga hal ini menunjukkan betapa pentingnya tauhid ini. Dengan kata lain, kewajiban-kewajiban dalam agama Islam tidak diturunkan sampai ada pemantapan tauhid di dalam jiwa masyarakat, dan aqidah benar-benar telah berakar di hati mereka. Sebuah ibadah sesungguhnya tidak bisa menjadi benar kecuali dengan tauhid, dan tidak dapat dilakukan selain tauhid menjadi dasar ibadah tersebut.

Al-Qur’an telah menggambarkan bahwa misi semua Rasul, adalah mengundang orang kepada tauhid sebelum pada dakwah-dakwah yang lain, sebagaimana firman Allah [3]:

(Dan Kami mengirim utusan ke setiap bangsa (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilahtaghut!’)

Allah juga mengatakan [4]:

(Dan Kami tidak mengutus Rasul sebelum kamu, kecuali bahwa Kami mengajarkan kepadanya bahwa ‘Tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Aku, maka sembahlah Aku!’)

Dan setiap nabi selalu menyeru kepada umat-Nya [5]:

(Wahai manusia, ‘Sembahlah Aku’ sebagaimana engkau tidak memiliki sesembahan yang lain yang patut disembah)

Jadi ini adalah inti dakwah para Rasul – mereka selalu memulainya dengan dakwah tauhid.

Demikian pula seluruh pendakwah-pendakwah setelahnya, mengikuti para Rasul memulai dakwahnya dengan berfokus pada tauhid. Hal ini disebabkan karena setiap dakwah yang tidak dibangun di atas tauhid adalah dakwah yang tidak akan membuahkan hasil yang sesuai tujuannya, dan tidak akan ada hasil positif dari dakwah tersebut. Setiap dakwah yang tidak berfokus pada tauhid adalah dakwah yang sia-sia.

Di sisi lain, setiap dakwah yang berpusat pada tauhid adalah dakwah yang akan benar-benar sukses, dengan Izin Allah, dakwah tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat dan dapat dirasakan buah manisnya. Sejarah menjadi saksi ini.

Jadi kita tidak mengabaikan masalah-masalah yang terjadi pada kaum muslimin, sebaliknya kita sangat memperhatikan tentang mereka. Kita membantu mereka dan berusaha untuk mencegah kerusakan-kerusakan  menjangkau mereka. Bentuknya bukan seperti meratapi saudara-saudara kita yang dibunuh dan dibuang oleh musuh-musuh umat Islam dan meneteskan air mata tidak tulus, atau  kita isi dunia dengan pidato-pidato dan tulisan-tulisan, jeritan dan ratapan … karena sesungguhnya hal-hal seperti ini tidaklah akan mencapai apa-apa.

Menemukan solusi nyata untuk masalah umat Islam menuntut kita untuk mencari alasan yang menyebabkan hukuman yang menimpa umat Islam di tangan musuh-musuh mereka.

Apa yang menyebabkan musuh-musuh umat Islam bisa mendapatkan dan memegang kuasa atas mereka?

Ketika kita melihat kepada dunia Muslim, kita tidak melihat komitmen yang serius untuk menegakkan Islam, kecuali sedikit yang Allah beri rahmat pada mereka. Apa yang kita lihat adalah muslim dengan nama saja, aqidah ‘dari sebagian besar dari mereka, telah hilang. Mereka menyembah selain kepada Allah, meminta kepada orang-orang yang dianggap suci dan sholeh, mennyembah kuburan dan makam, tidak mendirikan shalat, tidak membayar zakat, tidak puasa, dll. Mereka tidak memenuhi kewajiban-keajiban dasar yang Allah minta dari mereka. Ini adalah kasus umum dari mereka yang menganggap dirinya telah ber-Islam – mereka telah kehilangan agama mereka, sehingga Allah Swt, Yang Maha Kuasa dan Maha Agung menyebabkan mereka dalam kesesatan.

Faktor yang paling utama yang telah menyebabkan mereka memperoleh hukuman ini adalah lemahnya kesadaran mereka mengenai urusan tauhid dan mereka jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik besar, sampai-sampai mereka tidak saling melarang dari itu, juga bahkan tidak menunjukkan penghinaan untuk itu ! Mereka yang tidak jatuh ke dalamnya sendiri masih memaafkan atau tidak menganggap itu syirik. Insha Allah penjelasan mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut. Jadi ketahuilah bahwa ini adalah alasan utama mengapa umat Muslim tidak terlepas dari ancaman hukuman Allah.

Jika mereka memegang teguh agama mereka, mengaktualisasikan tauhid dan menetapkan ‘aqidah mereka hanya kepada Kitab Al Quran dan Sunnah, bersama-sama berpegang teguh kepada Allah, dan menghindari perpecahan, maka sesungguhnya apa yang telah diizinkan untuk menimpa mereka tidak akan Allah izinkan untuk menimpa mereka, sebagaimana firman Allah [6]:

([Yaitu] mereka orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.)

Jadi Allah telah menegaskan bahwa kemenangan tidak akan diberikan kepada umat Islam kecuali mereka fokus pada apa yang disebutkan – mendirikan shalat, membayar zakat, memerintahkan apa yang baik, dan melarang apa yang jahat.

Kemudian menjadi pertanyaan, apakah hal tersebut sudah dilakukan oleh seluruh umat Muslim? Apakah kewajiban dasar seperti shalat telah dilakukan sebagian besar kaum muslimin? Atau bahkan yang lebih penting, apakah aqidah yang benar telah dimiliki oleh mereka yang mengaku Islam sebagai agama mereka?

Allah berfirman [7]:

(Alah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebaikan, bahwa Dia akan sungguh menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah [keadaan] mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa….)

Tetapi apakah persyaratan pertama untuk janji tersebut? [7]

 (… Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun…)

Jadi Dia menjelaskan bahwa kaum Muslimin mendapatkan kemenangan dan keselamatan, hanya akan terjadi ketika syarat ini terpenuhi – yaitu mereka menyembah Allah saja tanpa ada sekutu- dan ini adalah inti dari tauhid. Janji Allah ini tidak diberikan kecuali kepada mereka yang memahami dan menerapkan tauhid, menyembah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain, dengan ketaatan pada ibadah-badah seperti shalat, zakat, haji, dan semua ketaatan-ketaatan lainnya.

Perhatikan bahwa Allah, Maha Suci dan Maha Agung, tidak hanya mengatakan, “Mereka menyembah-Ku,”, melainkan diikuti dengan Pernyataan-Nya [7]:

(… Dengan tidak mempersekutukan-Ku kepada sesuatu pun..)

Hal ini karena ibadah tidak bermanfaat dengan kehadiran syirik. Semua bentuk syirik harus dihindari, apa pun bentuk dan namanya. Syirik berarti melakukan ibadah untuk selain Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.

Penerapan hal tersebut yang akan membawa umat Muslim pada keselamatan sejati, keamanan, kemenangan, dan kekuatan di bumi – memperbaiki ‘aqidah dan kemudian memperbaiki perbuatan. Tanpa ini, bencana dan hukuman akan terus menimpa siapa pun yang tidak sepenuhnya memenuhi persyaratan (untuk memperoleh Bantuan Allah) tersebut. Ditaklukkannya umat Islam oleh musuh-musuh Islam, kurangnya perhatian terhadap ‘aqidah dan Agama, dan kepuasan mereka dengan hanya membawa nama Muslim dan tidak lebih dari itu, tidak lain adalah dampak dari umat Muslim yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang diperlukan tersebut.

CATATAN KAKI:

[1] lihat Madaarijus-Saalikiin [3/468] untuk rincian

[2] seperti yang ditemukan dalam riwayat-riwayat mutawaatir dari (Al-Mi’raaj) Perjalanan Malam, lihat narasi pertama dari Anas Radihiyallahu Anhu pada kitab Al-Bukhari tentang Bab Tauhid (Bab 37, hadits # 7517) [13/583] dan Muslim Bab Imaan (Bab 74, hadits # 162)

[3] Surah An-Nahl (16): 36

[4] Surah Al-Anbiyaa ‘(21): 25

[5] Surah Al-A’raaf (7): 95

[6] Surah Al-Hajj (22): 41

[7] Surah An-Noor (24): 55


Berikan Opini:

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s