MAKNA “LAA ILAHA ILALLAAH” [Untuk Diketahui Agar Ibadah Tak Menjadi Sia-sia]

بسم الله الرحمن الرحيم

لا إِلَهَ إِلا اللهُ

Oleh: Al-Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah

Makna Kalimat Tauhid لااله الا الله

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf : 86)

Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.” (HR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini :

Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata (لا), kata (إِلَهَ), kata (إِلا) dan kata (اللهُ). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut :

1) Laa (لا) adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya).

Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.


2) Ilaha
(إِلَهَ) adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek) sehingga bermakna ma`luh yang artinya adalah ma’bud (yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud.

Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf :

وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَإِلَهَتَكَ

“ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?” .

Il ahat aka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah

3) Illa (إِلا) Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa.

Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.

4) Lafadz Allah (اللهُ) asal katanya adalah Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.

Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) :

“Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.

Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah.

Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa Laa ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab- membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya :

عَمَلَ إِنَّ اجْعَلْ لِلاَ فِي نَكِرَه ……..

“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khobar) untuk laa bila isimnya nakirah”.

Isim laa adalah kata ilaha, adapun khobarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama As-Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30 :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ

“Yang demikian itu karena Allahlah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62.

Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah.

Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya.

Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin maupun yang kafirnya- tatkala mereka mendengar perkataan laa ilaha illallah sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.

Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan benarnya apa yang telah kami paparkan :

*) Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh :

“Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)”.

Dan beliau juga berkata :

“Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.


*) Berkata Imam Ibnu Rajab :

“Al-Ilah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”.


*) Berkata Al-Imam Al-Baqo`iy :

“Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata”.

*) Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh :

“Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut :

  • Pertama :An-Nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha.

Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.

  • Kedua :Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat Illallah.

Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja.

Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan).

Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini :

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS. Al-Baqarah : 256).

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku ; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf : 26-27)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa` : 36)

Untuk melaksanakan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia serta langit dan bumi sebagai fasilitas buat mereka :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah : 29)

Karenanya Allah mengutus para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36)

وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya` : 25).

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (QS. Az-Zukhruf : 45)

Dan karenanya pulalah Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya :

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ

“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah”. (QS. Hud : 1-2)

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.”. (QS. Az-Zumar : 2)

Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala alihi wasallam semisal Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya, sebagaimana yang diungkap oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta mereka :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)

Maka lihatlah –semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.

{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh}

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau (2/5) :

“Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh saudara kita di jalan Allah Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Umar bin Ahmad Al-Malibary tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya :

Pertama : Laa Ma’buda bihaqqin illallah (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah).

Kedua : Laa Mutho’a bihaqqin illallah (Tidak ada yang berhak ditaati kecuali Allah).

Ketiga : Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).

Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau jelaskan. Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firmanNya Subhanahu :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 5)

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Isra` : 23)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Hajj : 62)

Demikianlah, dari penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, makna Syahadat “laa ilaha illallaah” adalah merupakan prinsip dasar kita dalam melaksanakan semua bentuk ibadah. Tanpa didasari pada prinsip tersebut ibadah kita menjadi tidak benar atau sia-sia, atau bahkan membuat kita terperangkap pada perbuatan syirik tanpa kita sadari, dan dapat mengekalkan seseorang ke dalam api neraka, karena perbuatan syirik termasuk dosa besar yang tidak Allah ampuni. Seorang Muslim yang ibadahnya tidak didasari pada makna ‘laa ilaha illallaah’ bisa jadi terjerumus pada ilustrasi-ilustrasi di bawah ini:

Seseorang bisa menyatakan ‘saya seorang Muslim’, bahkan dia berdzikir Syahadat ribuan kali, tapi dia tidak menafikan adanya penyembahan lain selain Allah, maka ibadahnya menjadi sia-sia, dan dia bukan termasuk golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam. Contohnya: kaum yang menyatakan dirinya Muslim, namun mengadakan ritual-ritual atau tradisi tertentu, seperti tradisi sekatenan, yaitu memberikan sesembahan kepada (Syetan) Nyi Roro Kidul, para nelayan atau petani yang memberikan sesembahan kepada (Syetan) Dewa Laut atau (Syetan) Dewi Padi, melakukan penyembelihan hewan kepada mereka dan bukan karena Allah. Memberikan sesajen-sesajen ketika membangun rumah atau menguburkan seseorang. Datang kepada seseorang untuk meminta atau menghentikan hujan. Mendatangi kuburan orang-orang suci, wali-wali bahkan shalat menghadap kuburan mereka, dan bukan kepada kiblat dan dilakukan di masjid, dll.

Ini artinya, orang-orang tersebut, walaupun menyatakan dirinya Muslim, melakukan ibadah shalat, puasa, membayar zakat, dll, tapi mereka tidak menafikan bahwa Allah adalah sesembahan yang satu dan hanya Dia yang patut disembah, karena mereka juga melakukan penyembahan-penyembahan kepada selain-Nya. Juga, mereka telah menyamakan sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah, dan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, kepada makhluk yang lain. Seperti mereka mengharapkan rezeki, keselamatan, dll, di mana hal tersebut hanya Allah yang bisa memberikan, kepada selain Allah. Mereka juga takut bahwa makhluk lain bisa menimpakan mara bahaya, bencana, dll, di mana hal tersebut tidak akan bisa menimpa seseorang, bila Allah tidak menghendaki tertimpa kepada mereka. Dan di sinilah, bagaimana mereka, orang-orang yang merasa dirinya seorang Muslim, telah terperangkap jauh ke dalam perbuatan syirik besar, di mana api neraka yang kekal adalah balasan bagi perbuatan tersebut.

Atau, seorang Muslim yang beribadah hanya karena mengharapkan sesuatu, misalnya pahala dan surga. Walaupun surga dan pahala adalah ganjaran bagi orang-orang yang beribadah, tapi dia telah menjadikan niat untuk beribadah tersebut hanya mengharapkan balasan Allah, bukan dia dirikan hanya karena kecintaan dia kepada Allah semata. Bahkan lebih buruk lagi seseorang beribadah karena ‘Riya’, karena ingin mendapat predikat sebagai orang shaleh, karena status dan jabatan, karena ingin mendapat pujian, karena ingin populer dan kaya, seperti kesesatan sebagian orang yang menyebut diri mereka para pendakwah, tapi di luar itu mereka berfoya-foya, menyukai kemewahan dan menikmati kepopuleran mereka, di mana hal-hal tersebut justru jauh dari nilai-nilai Islam yang berusaha mereka dengung-dengungkan, dll.

Atau, seorang muslimah yang mengenakan jilbab bukan karena diniatkan karena Allah semata, tapi karena alasan-alasan tertentu, seperti malu kepada pihak-pihak lain jika ia tidak mengenakannya; karena jilbab merupakan fashion yang sedang trend sekarang; karena tekanan-tekanan orang lain (misalnya di sekolah/kantor setiap muslimah wajib menggunakan jilbab, dsb), sehingga berjilbabnya bukan atas dasar keinginan sendiri dan karena Allah semata, dll.

Sehingga seorang muslimah, meskipun ia sedang melaksanakan satu syariat Islam, yaitu menutup aurat, tapi karena ibadahnya tidak dilandasai makna tauhid, ibadahnya menjadi sia-sia bahkan jauh menyimpang dengan apa syariatkan. Contohnya, ia menggunakan jilbab tapi masih menuruti hawa nafsunya, yakni mengikuti mode yang sedang trend dibandingkan berjilbab sesuai syar’i, seperti berpakaian ketat, menggunakan wangi-wangian yang mengundang nafsu seksual lawan jenis, berjilbab sanggul (walaupun dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam telah melaknat wanita-wanita yang menghiasi kepalanya layaknya punuk unta, dan mengharamkan atas mereka wanginya surga), dll.

Tidak memahami dengan benar akan tujuan dari jilbab itu sendiri, yakni melindungi aurat sehingga tidak menjadi fitnah bagi non-mahram, sehingga mereka walaupun berjilbab namun masih menjalin hubungan dengan non-mahram sebelum pernikahan/pacaran dan melakukan perbuatan-perbuatan zina, pergi berduaan dengan non-mahram, bercampur baur dan bergaul bebas dengan non-mahram, atau ketika seseorang mengingatkan mereka bagaimana berjilbab yang syar’i, mereka menafikan hal tersebut karena takut terlihat jelek, ditertawakan orang lain, dsb, di mana hal-hal tersebut sangatlah bertentangan dengan tujuan jilbab itu sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain, ibadah-ibadah kita sehari-hari yang tanpa kita sadari menjadi sia-sia dan bahkan menyimpang dari syariat yang telah ditetapkan karena minimnya pengetahuan mereka akan makna ‘laa ilaha illallaah’.

Apabila seorang Muslim tidak mengetahui makna syahadat dan menjadikannya sebagai landasan dalam setiap peribadahannya, maka dia pun tidak tahu bagaimana mengamalkan ibadahnya secara benar. Alih-alih benar, dia justru terjerumus ke dalam kesesatan dan dosa.

Oleh karena itu, merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengetahui makna ‘laa ilaha illallaah’ dan memantapkan tauhid di dalam setiap hati mereka. Setiap Muslim wajib mencari ilmu dan pengetahuan mengenai hal tersebut, sebelum ia melakukan segala peribadatan-peribadatan kepada Allah, sehingga dia mengetahui konsekuensinya, mengetahui bagaimana mengamalkannya dan meninggal di atasnya serta mendakwahkannya kepada orang lain. Insha Allah.

Sumber :

Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006 dengan tambahan.

Dengerin dan Unduh Kajian Mengenai Makna Syahadat bersama Ustadh Chalid Ruray dari KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimi’

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-1) :

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-1) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-3) :

Artikel Terkait:

Kenapa Setiap Muslim Harus Mempelajari ILMU TAUHID dan Urgensinya di Atas Ibadah Shalat, Puasa, Zakat dan Haji

Kajian Kitab Tauhid [Pentingya Belajar Tauhid dan Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya]

[DOWNLOAD Mp3] Kajian KITAB TAUHID ~ (Pentingnya Belajar Tauhid & Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya)

Dengerin & Unduh Kajian KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimmi’

yang disajikan oleh Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

 

 

LIHAT SIDEBAR SEBELAH KANAN PADA BLOG INI, UNTUK MENDAPATKAN LINK DOWNLOAD KAJIAN KITAB TAUHID INI

 

Kenapa kita harus belajar tauhid?

Kenapa para nabi seluruhnya selalu mendakwahkan kepada tauhid? Dan kenapa Allah ampuni segala dosa seorang hamba selama ia memelihara tauhidnya sampai ujung hayatnya…

Tatkala Allah memerintahkan sesuatu kepada kita maka Allah tidak semata-mata memerintahkan begitu saja, namun agar kita antusias untuk melaksanakan perintah-Nya maka Allah memberikan iming-iming kepada kita. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perintah yang paling agung yang Allah wajibkan kepada seluruh manusia adalah perintah untuk mentauhidkan Allah yaitu agar manusia hanya beribadah kepada Allah semata. Oleh Karena itulah Allah memberikan iming-iming yang tidak tanggung-tanggung lagi bagi orang yang melaksanakannya. Lalu apakah iming-iming tersebut? Marilah kita simak pembahasan berikut ini.

 

Di antara keutamaan tauhid adalah:

1. Orang yang mentauhidkan Allah akan mendapatkan ketenangan serta hidayah.

Baik hidayah di dunia berupa ilmu serta taufiq untuk mengmalkan ilmu tersebut maupun hidayah di akhirat yaitu petunjuk untuk menuju surga. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am : 82)
Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat, mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (mis. berbuat maksiat pent.), maka Rasulullah bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Lukman kepada anaknya,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Lukman : 13). (HR. Bukhari & Muslim)

Syirik disebut kezaliman karena orang yang melakukan syirik telah menujukan ibadah kepada sesuatau yang tidak berhak mendapatkannya. Ibadah adalah hak Allah semata, tidak pantas ditujukan kepada makhluk, meskipun kepada Nabi ataupun malaikat, lebih-lebih kepada jin atau arwah orang fasik.

Macam-macam Kezaliman:
a. Kezaliman yang paling besar yaitu menyekutukan Allah (Syirik).
b. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri yaitu bisa berupa maksiat atau tidak memberikan hak-hak dirinya sendiri, misalnya menyiksa diri sendiri dengan aksi mogok makan dan lain-lain.
c. Kezaliman seseorang terhadap orang lain, misalnya mengganggu ketenangan orang lain, mencuri harta orang lain, menganiaya orang lain dan lain-lain.
Seberapa besarkah ketenteraman dan hidayah yang didapat oleh orang yang tidak melakukan Kezaliman?
Jika keimanan seseorang sempurna dan tidak tercampuri oleh maksiat maka ia akan mendapat ketenteraman yang mutlak/sempurna, dan jika keimanan tersebut tidak sempurna maka rasa aman yang ia dapatkan juga tidak sempurna.

Sebagai contoh orang yang melakukan dosa besar (di bawah kesyirikan) maka ia tetap mendapat rasa aman dari ancaman kekal di neraka karena dosa besar tidak menyebabkan seseorang kekal di neraka akan tetapi ia tetap tidak merasa aman dari ancaman azab di neraka meskipun tidak kekal.

2. Orang yang bertauhid pasti akan masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersyahadat bahwa: tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Isa bin Maryam adalah hamba dan utusan-Nya serta kalimat yang Dia sampaikan pada Maryam serta ruh dari-Nya(yaitu ruh ciptaan-Nya, pent), surga adalah benar adanya, neraka adalah benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke surga betapapun amalan yang telah ia perbuat. (HR. Bukhari & Muslim).

Apakah yang dimaksud dengan bersyahadat?
Syahadat adalah persaksian yang disertai pengucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati serta pembuktian dengan amalan badan.

Jika anda bertanya kenapa harus terpenuhi tiga hal tersebut untuk disebut sebagai syahadat yang benar? Maka, sebagaimana kita ketahui, bukankah orang-orang munafik di zaman Nabi dulu juga mengucapkan syahadat, akan tetapi syahadat mereka tidak bermanfaat, bahkan mereka kelak akan berada di kerak neraka.

Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS. An Nisa :145).

Adapun tentang syahadat mereka, maka Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Ketika orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Namun pada kelanjutan ayat, Allah justru mengingkari syahadat mereka serta membongkar keadaan mereka yang sebenarnya, Allah berfirman yang artinya, “sedangkan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun : 1)

Jika kita tilik, kenapa syahadat orang munafik tidak diterima maka akan kita dapatkan dua hal yang menyebabkan hal tersebut:
a. Syahadat mereka tidak diiringi dengan keyakinan di dalam hati atau hanya sekedar di mulut mereka belaka.
b. Syahadat mereka tidak diiringi dengan amalan anggota badan, di mana amalan merupakan bukti benarnya syahadat seseorang.

3. Orang yang bertauhid akan terbebas dari Hisab dan azab dan api neraka

Yang dimaksud terbebas ada dua jenis, yaitu:
a. Terbebas dalam arti tidak pernah masuk neraka sama sekali
b. Terbebas dalam arti dikeluarkan dari neraka setelah dimasukkan ke dalamnya selama beberapa waktu.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal,

”Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya?” Aku menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau pun bersabda,”Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” Beliau bersabda lagi, “Apakah kamu tahu apakah hak mereka jika mereka memenuhi hak Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan (masuk) neraka bagi orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharap (pahala melihat) wajah Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah tidak semata-mata mengucapkan namun harus disertai dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibadah haji, beliau bersabda,

“Haji adalah (wukuf di) Arafah” (HR Ashhabus Sunan).

Sekarang kita tanyakan, Sahkah hukumnya orang yang berhaji namun hanya melaksanakan wukuf di arafah saja? Tentu orang yang mengetahui akan mengatakan tidak, agar ibadah hajinya sah maka ia harus melaksanakan rukun-rukun haji yang lain serta syarat-syaratnya. Nah, begitu juga dengan orang yang mengucapkan syahadat “laa ilaha illallah” maka ia harus melakukan syarat, rukun serta konsekuensi dari ucapan tersebut agar ia mendapatkan keutamaan terbebas dari api neraka sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Di antara contoh tidak melaksanakan konsekuensi dari ucapan ini adalah orang yang mengucapkannya tidak meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Oleh sebab itu banyak kita jumpai orang yang mengaku islam namun masih menggantungkan nasibnya pada jimat, keris, Nyi Roro Kidul, dukun, ramalan-ramalan, dan masih banyak lagi. Padahal itu semua termasuk dalam kategori syirik yang merupakan kebalikan dari tauhid.

4. Bobot timbangan tauhid melebihi timbangan langit dan bumi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Musa ‘alaihisallam berkata, ‘wahai Rabbku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu’, Allah berfirman, ‘Katakanlah wahai Musa, laa ilaha illallah’, maka Musa berkata, ‘wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan hal ini’, Allah berfirman, ‘wahai Musa seandainya ketujuh langit beserta penghuninya selain aku serta ketujuh bumi berada pada satu daun timbangan dan laa ilaha illallah berada pada daun timbangan (yang lain), niscaya laa ilaha illallah lebih berat timbangannya dengan itu semua.”( HR Ibnu Hiban dan al Hakim dan ia menshahihkannya).

5. Tauhid merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah berfirman, wahai anak adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau mendatangiku dengan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka pasti aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar bumi. (HR Tirmidzi dan beliau menghasankannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sungguh Allah akan membebaskan seorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat di mana ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman,’Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini, apakah para (malaikat) pencatat amal telah menganiayamu? Dia menjawab,’Tidak, Wahai Rabbku’. Allah bertanya,’Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab,’Tidak wahai Rabbku’. Allah berfirman,’Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak dianiaya sedikitpun’. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan ‘Asyhadu an La ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadan Abduhu wa Rasuluh’. Lalu Allah berfirman,’Datangkan timbanganmu.’ Dia berkata,’Wahai Rabbku, apakah artinya kartu ini jika dibandingkan dengan seluruh gulungan dosa itu?’ Allah berfirman,’Sungguh kamu tidak akan dianiaya’. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (la ilaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari sesuatu terdapat nama Allah” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang tentang keutamaan tauhid, akan tetapi karena keterbatasan tempat, hanya secukupnya yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan hal ini dapat memotivasi kita untuk giat mempelajari tauhid beserta rincian-rinciannya, mengamalkannya serta mendakwahkannya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

Apa Kata Islam Tentang KHALWAT (Berduaan dengan Non-Mahram) ?

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”[1]

ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.[2]

لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم فقام رجل فقال يا رسول الله امرأتي خرجت حاجة واكتتبت في غزوة كذا وكذا قال ارجع فحج مع امرأتك

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut”. Lalu berdirilah seseorang dan berkata, “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu”[3]

 

Apa maksud perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua”?

Berkata Al-Munawi, :

”Yaitu syaitan menjadi penengah (orang ketiga) diantara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di hadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitanpun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinaan.”[4]

Berkata As-Syaukani, “

Sebabnya adalah lelaki senang kepada wanita karena demikanlah ia telah diciptakan memiliki kecondongan kepada wanita, demikian juga karena sifat yang telah dimilikinya berupa syahwat untuk menikah. Demikian juga wanita senang kepada lelaki karena sifat-sifat alami dan naluri yang telah tertancap dalam dirinya. Oleh karena itu syaitan menemukan sarana untuk mengobarkan syahwat yang satu kepada yang lainnya maka terjadilah kemaksiatan.”[5]

Imam An-Nawawi berkata,

“…Diharamkannya berkhalwat dengan seorang wanita ajnabiah dan dibolehkannya berkholwatnya (seorang wanita) dengan mahramnya, dan dua perkara ini merupakan ijma’ (para ulama)”[6]

Apakah yang dimaksud dengan khalwat?

Khalwat dalam istilah fiqh adalah laki-laki menutup pintu untuk berduaan dengan istrinya. Dengan demikian, khalwat terjadi di dalam rumah. Sedang khalwat di jalan tidak disebut khalwat. Dan sama dengan rumah adalah setiap tempat yang orang lain tidak boleh masuk. [الفروع لابن مفلح ج5 /153 .]
Anas bin Malik berkata,

جاءت امرأة من الأنصار إلى النبي  صلى الله عليه وسلم  فخلا بها فقال والله إنكم لأحب الناس إلي

“Datang seorang wanita dari kaum Ansor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhalwat dengannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Demi Allah kalian (kaum Anshor) adalah orang-orang yang paling aku cintai”[12]

Imam Al-Bukhori memberi judul hadits ini dengan perkataannya,

باب ما يجوز أن يخلو الرجل بالمرأة عند الناس

“Bab : Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita jika di hadapan khalayak”

Ibnu Hajar berkata,

“Imam Al-Bukhori menyimpulkan hukum (dalam judul tersebut dengan perkataannya) “dihadapan khalayak” dari perkataan Anas bin Malik dari riwayat yang lain[13] “Maka Nabipun berkhalwat dengannya di sebagian jalan atau sebagian السكك (sukak)”. Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berjalan yang biasanya selalu dilewati manusia”

Ibnu Hajar berkata,

“Yaitu ia tidak berkhalwat dengan wanita tersebut hingga keduanya tertutup dari pandangan khalayak (tersembunyi dan tidak kelihatan-pen), namun maksudnya dibolehkan khalwat jika (mereka berdua kelihatan oleh khalayak) namun suara mereka berdua tidak terdengar oleh khalayak karena ia berbicara dengannya perlahan-lahan, contohnya karena suatu perkara yang wanita tersebut malu jika ia menyebutkan perkara tersebut di hadapan khalayak”

Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya ada khalwat yang diharamkan dan ada khalwat yang diperbolehkan,

1.      Khalwat yang diperbolehkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama wanita tersebut, yaitu memojok dengan suara yang tidak di dengar oleh khalayak namun tidak tertutup dari pandangan mereka. Hal ini juga sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga tidak kelihatan oleh orang-orang sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala itu, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga orang-orang disekitarnya tidak mendengar keluhan sang wanita dan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wanita tersebut. Oleh karena itu Anas mendengar akhir dari pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wanita tersebut lalu iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wanita itu karena ia tidak mendengarnya”[14]

2.      Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara lelaki dan wanita sehingga tertutup dari pandangan manusia.[15]

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:

((والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، فهذه خلوة محرمة وكذا ضبطها الفقهاء))

“Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya.”[16]

Jadi khalwat yang diharamkan ada dua bentuk sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Dan bukanlah merupkan kelaziman bahwa ruangan yang tertutup melazimkan juga tertutupnya dari pandangan khalayak.

Jika ada yang mengatakan, “Berdasarkan definisi khalwat yang diharamkan di atas maka berdua-duaannya seorang wanita dan pria di emperan jalan-jalan raya bukanlah khalwat yang diharamkan karena semua orang memandang mereka’ ???

Memang benar hal itu bukanlah merupakan khalwat yang diharamkan, namun ingat diantara hikmah diharamkan khalwat adalah karena khalwat merupakan salah satu sarana yang mengantarakan kepada perbuatan zina, sebagaimana mengumbar pandangan merupakan awal langkah yang akhirnya mengantarkan pada perbuatan zina. Oleh karena itu bentuk khalwat yang dilakukan oleh kebanyakan pemuda meskipun jika ditinjau dari hakikat khalwat itu sendiri bukanlah khalwat yang diharamkan, namun jika ditinjau dari fitnah yang timbul akibat khalwat tersebut maka hukumnya adalah haram. Para pemuda-pemudi yang berdua-duaan tersebut telah jatuh dalam hal-hal yang haram lainnya seperti saling memandang antara satu dengan yang lainnya, sang wanita mendayu-dayukan suaranya dengan menggoda, belum lagi pakaian sang wanita yang tidak sesuai dengan syari’at, dan lain sebagaianya yang jauh lebih parah. Khalwat yang asalnya dibolehkan ini namun jika tercampur dengan hal-hal yang haram ini maka hukumnya menjadi haram. Khlawat yang tidak aman dari munculnya fitnah maka hukumnya haram.

Ibnu Hajar berkata,

“Hadits ini (yaitu hadits Anas di atas) menunjukan akan bolehnya berbincang-bincang dengan seorang wanita ajnabiah (bukan mahram) dengan pembicaraan rahasia (diam-diam), dan hal ini bukanlah celaan terhadap kehormatan agama pelakunya jika ia aman dari fitnah. Namun perkaranya sebagaimana perkataan Aisyah وأيكم يملك إربه كما كان النبي يملك إربه  “Dan siapakah dari kalian yang mampu menahan gejolak nafsunya sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menahan syahwatnya”[17]

Sa’id bin Al-Musayyib berkata, :

لقد بلغت ثمانين سنة وأنا أخوف ما أخاف على النساء ”Aku telah mencapai usia delapan puluh tahun dan yang paling aku takutkan adalah para wanita”[18]

Dalam riwayat yang lain dari Ali bin Zaid bin Jad’an bahwasanya Sa’id berkata,

ما أيس الشيطان من شيء الا أتاه من قبل النساء، ثم قال سعيد (وهو بن أربع وثمانين سنة وقد ذهبت احدى عينيه وهو يعشى بالأخرى) ما من شيء أخوف عندي من النساء

“Tidaklah syaitan berputus asa dari (menggoda) sesuatu kecuali ia mencari jalan keluar dengan mempergunakan para wanita (sebagai senjatanya untuk menggoda)”, Ali bin Zaid bin Jad’an berkata, “Kemudian Sa’id berkata (padahal waktu itu ia telah berumur 84 tahun dan matanya yang satu tidak bisa digunakan untuk melihat lagi, dan mata yang satunya lagi rabun) :Tidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan daripada para wanita”[19]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada finah para wanita.[20]

Abdurrouf Al-Munawi mengomentari hadits ini, ((Hal ini dikarenakan seorang wanita tidaklah menyuruh suaminya kecuali kepada perkara-perkara yang buruk, dan tidak memotivasinya kecuali untuk melakukan keburukan, dan bahaya wanita yang paling minimal adalah ia menjadikan suaminya cinta kepada dunia hingga akhirnya binasa dalam dunianya, dan kerusakan apa yang lebih parah dari hal ini, belum lagi wanita adalah sebab timbulnya mabuk asmara dan fitnah-fitnah yang lainnya yang sulit untuk dihitung.

Ibnu Abbas berkata, لم يكفر من كفر ممن مضى إلا من قبل النساء وكفر من بقي من قبل النساء “Tidaklah kafir orang-orang terdahulu kecuali dikarenakan para wanita dan demikian juga dengan orang-orang yang di masa mendatang”.

Para raja mengirimkan hadiah-hadiah kepada para ahli fikh maka merekapun menerima hadiah tersebut, adapun Fudhail ia menolak hadiah tersebut. Istrinyapun berkata kepadanya, “Engkau menolak sepuluh ribu (dinar atau dirham) padahal kita tidak memiliki makanan untuk dimakan pada hari ini?”, Fudhailpun menimpali, “Permisalan antara aku dan engkau (wahai istriku) sebagaimana suatu kaum yang memiliki seekor sapi yang mereka membajak dengan menggunakan sapi tersebut, tatkala sapi tersebut telah tua maka merekapun menyembelihnya. Demikianlah aku, kalau engkau ingin menyembelihku setelah aku mencapai usia senja, lebih baik engkau mati dalam keadaan lapar sebelum engkau menyembelih Fudhail”))[21]

Dari Imron bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyib berkata,

ما خفت على نفسي شيئا مخافة النساء “Tidaklah aku takut pada sesuatu menimpa diriku sebagaimana ketakutanku kepada (fitnah) para wanita”, para sahabat beliau berkata, يا أبا محمد إن مثلك لا يريد النساء ولا تريده النساء قال هو ما أقول لكم “Wahai Abu Muhammad, orang yang sepertimu tidak menghendaki para wanita dan para wanitapun tidak menghendakinya!”. Sa’id berkata, “Kenyataannya sebagaimana yang telah aku katakan kepada kalian”[22]

‘Ato’ berkata,

لو ائتمنت على بيت مال لكنت أمينا ولا آمن نفسي على أمة شوهاء “Jika aku diberi kepercayaan untuk menjaga baitul mal (tempat penyimpanan harta kaum muslimin) maka aku akan menjalankan amanah tersebut, namun aku tidak bisa menjamin diriku dari seorang budak wanita yang cantik”

Imam Ad-Dzahabi mengomentari perkataan ‘Ato ini, صدق رحمه الله ففي الحديث ألا لايخلون رجل بامرأة فإن ثالثهما الشيطان “Sungguh benar perkataan ‘Ato’ –semoga Allah merahmati beliau- sebagaimana telah disebutkan dalam hadits, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua”[23]

Maka sungguh benarlah perkataan Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthoki (beliau meninggal tahun 239 H),

من كان بالله أعرف كان منه أخوف  “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka ia akan lebih takut kepada Allah”[24].

Lihatlah para salaf seperti Sa’id bin Al-Musayyib yang tidaklah pernah dikumandangkan adzan selama empat puluh tahun kecuali Sa’id telah berada di masjid[25], demikian juga ‘Ato yang Ibnu Juraij berkata tentangnya, كان المسجد فراش عطاء عشرين سنة وكان من أحسن الناس صلاة “Masjid adalah tempat tidur ‘Ato’ selama dua puluh tahun, dan beliau adalah orang yang paling baik sholatnya”[26].

Dengan ibadah mereka yang luar biasa tersebut maka mereka lebih mengenal Robb mereka sehingga mereka lebih takut kepada Allah, takut kalau diri mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Tidak sebagaimana halnya sebagian kaum muslimin yang merasa percaya diri untuk terselamatkan dari fitnah, apalagi fitnah yang sangat berbahaya yaitu fitnah wanita???

Dan diharamkan berkhalwatnya seseorang dengan lawan jenisnya yang bukan merupakan mahromnya, dan hal ini umum mencakup seluruh bentuk, dan sama saja apakah disertai nafsu syahwat ataupun tidak, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berkhalwat secara mutlak baik disertai syahwat maupun tidak.

قيل له أن بعض الناس يجالس النسوان ويقول أنا معصوم في رؤيتهن فقال ما دامت الأشباح باقية فإن الأمر والنهي باق والتحليل والتحريم مخاطب بهما ولن يجترئ على الشبهات إلا من يتعرض للمحرمات

Dikatakan kepada Abul Qosim An-Nasr Abadzi, “Sebagian orang duduk (bergaul) dengan para wanita dan mereka berkata, “Saya bisa terjaga untuk tidak memandang mereka”. Iapun berkata, “Selama jasad masih utuh maka perintah dan larangan juga tetap berlaku dan penghalalan dan pengharaman juga tetap ditujukan dengan keduanya (yaitu perintah dan larangan) dan tidaklah memberanikan diri kepada syubhat-syubhat kecuali orang yang menjerumuskan dirinya untuk jatuh dalam hal-hal yang haram“[27]


Peringatan:

1.      Diharamkan berkhalwatnya seorang wanita dengan hewan yang bisa tertarik dan bernafsu kepada seorang wanita seperti monyet, karena dikawatirkan terjadinya fitnah (hal yang tidak diinginkan) sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Aqil dan Ibnul Jauzi, serta Syaikh Taqiyuddin.[28]

2.      Orang yang banci bersama seorang wanita hukumnya ia seperti seorang pria (maka berlaku hukum-hukum khalwat), dan demikian juga jika bersama banyak wanita. Dan jika bersama seorang pria maka ia hukumnya seperti seorang wanita, demikian juga jika ia bersama banyak lelaki, dalam rangka untuk berhati-hati[29]

3.      Berkhalwat dengan seorang amrod (anak muda yang belum tumbuh rambut wajahnya) yang berparas tampan hukumnya sebagaimana khalwat bersama seorang wanita, meskipun khalwat tersebut untuk kemaslahatan ngajar mengajar atau pendidikan . Imam Ahmad berkata kepada seseorang yang berjalan bersama seorang anak yang tampan yang merupakan keponakan orang tersebut;

“Menurutku hendaknya engkau tidak berjalan bersamanya di jalan”. Ibnul Jauzi berkatam “Para salaf berkata tentang amrod: “وهو أشد فتنة من العذارى” “Fitnahnya lebih besar daripada fitnah wanita perawan”[30].

Berkata Ibnu Katsir, “Banyak salaf yang mengatakan bahwa mereka melarang seorang pria menajamkan pandanganya (menatapi dengan serius) kepada amrod”[31].

Berkata Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah),

“Barangsiapa yang mengulangi pendangannya kepada amrod dan terus memandangnya lantas ia berkata “Aku tidak memandangnya dengan syahwat” maka ia telah berdusta”[32].

Berkata Imam An-Nawawi,

“Imam As-Syafi’i menyatakan akan haramnya memandang (wajah) amrod, dan jika memandang saja haram maka berkhalwat dengan amrad lebih haram lagi karena hal itu lebih jelek dan lebih dekat kepada mafsadah dan hal yang dikawatirkan (jika berkhalwat bersama seorang wanita) juga ada (jika berkhalwat dengan amrod”[33]

 

Hukum berkhalwatnya seorang pria dengan beberapa wanita tanpa mahram

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum berkhalwatnya seorang pria dengan wanita ajnabiah jika jumlah wanita tersebut lebih dari satu, demikian juga sebaliknya (berkhalwatnya seorang wanita dengan beberapa lelaki ajnabi)

Berkata Imam An-Nawawi, “

Tidak ada perbedaan tentang diharamkannya berkhalwat antara tatkala sholat maupun di luar sholat”[34]

Imam An-Nawawi berkata,

“Berkata para sahabat kami (yang bermadzhab Syafi’i), jika seorang pria mengimami seorang wanita yang merupakan mahramnya dan berkhalwat dengannya maka tidaklah mengapa dan sama sekali tidak makruh karena boleh baginya untuk berkhalwat dengannya di luar shalat. Dan jika ia mengimami seorang wanita ajanabiah dan berkhalwat dengannya maka hukumnya adalah haram…dan jika ia mengimami banyak wanita yang ajnabiah dengan kondisi berkhalwat bersama mereka maka ada dua pendapat. Jumhur ulama berpendapat akan bolehnya hal itu…karena para wanita yang berkumpul biasanya tidak memungkinkan seorang laki-laki untuk berbuat sesuatu hal yang buruk terhadap salah seorang dari mereka dihadapan mereka. Imamul Haromain dan penulis buku Al-‘Uddah menukil bahwasanya Imam As-Syafii menyatakan bahwa diharamkannya seorang pria mengimami beberapa wanita kecuali diantara wanita tersebut ada mahram pria tersebut atau istrinya. Dan Imam As-Syafii meyakinkan akan haramnya berkhalwatnya seorang pria dengan para wanita kecuali jika ada mahram pria tersebut bersama mereka”[35]

Renungkanlah betapa tegasnya Imam As-Syafii dalam pengharaman kholwat antara wanita dan pria, sampai-sampai beliau mengharamkan seorang laki-laki mengimami para wanita (dalam keadaan berkhalwat dengan mereka) kecuali jika ada diantara wanita tersebut mahrom sang imam atau istri sang imam. Padahal ini dalam keadaan beribadah yang sangat agung (yaitu sholat) yang tentunya orang yang sedang sholat jauh dari pikiran-pikiran yang kotor, selain itu sang imam pun berada di depan dan para wanita berada dibelakangnya sehingga ia tidak melihat mereka, namun demikian Imam Syafi’i tetap mengharamkan hal ini.

Berkata As-Sarkashi,

“…Kemakruhan (atau keharoman) hal ini (menurut Imam As-Syafi’i-pen) tidak akan hilang hingga ada diantara para wanita tersebut mahrom mereka, sebagaimana dalam hadits Anas bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat mengimami mereka di rumah mereka, Anaspun berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan aku dan seorang anak yatim di belakangnya (pada shaf pertama) dan menjadikan ibuku dan Ummu Sulaim di belakang kami”[36].

Karena dengan adanya mahram hilanglah kekhawatiran akan timbulnya fitnah, dan hal sama saja apakah mahrom tersebut adalah mahrom bagi semua wanita tersebut atau hanya merupakan mahram bagi sebagian mereka dan diperbolehkan sholat dalam seluruh keadaan tersebut, karena kebencian (terhadap khalwat tersebut) berada jika diluar sholat”[37]

Peringatan:

1.      Berkata Imam An-Nawawi,

Dan sama hukumnya tentang diharamkannya berkhalwat antara orang yang buta dengan orang yang bisa melihat” [38]

2.      Beliau juga berkata,

“Ketahuilah bahwasanya mahram yang dengan keberadaannya bersama sang wanita membolehkan untuk duduk (berkhalwat) dengan sang wanita adalah sama saja baik mahram tersebut adalah mahram sang pria maupun mahram sang wanita, atau yang semakna dengan mahram seperti suami sang wanita atau istri sang pria, Wallahu A’lam”[39]

3.      Diharamkannya berkhalwatnya seorang wanita dengan seorang pria meskipun dengan alasan dalam rangka pengobatan kecuali bersama wanita tersebut mahram, atau suaminya, atau wanita tsiqoh (yang bisa dipercaya). Karena kenyataan yang banyak terjadi memang benar terkadang hanya terdapat dokter lelaki yang bisa menangani penyakit seorang wanita dengan penanganan yang baik dan terjamin walaupun karena darurat maka sang dokter harus melihat aurat wanita tersebut. Namun yang perlu diperhatikan tidak semua pengobatan keadaannya darurat yang mengharuskan tidak boleh sang wanita ditemani oleh mahramnya. Apalagi merupakan kenyataan yang menyedihkan banyak dari para wanita yang jika mereka bertemu dengan dokter pria maka seakan-akan dokter tersebut adalah mahramnya.


Hukum berkhalwatnya seorang wanita dengan beberapa lelaki (lebih dari satu orang)

عبد الله بن عمرو بن العاص حدثه أن نفرا من بني هاشم دخلوا على أسماء بنت عميس فدخل أبو بكر الصديق وهي تحته يومئذ فرآهم فكره ذلك فذكر ذلك لرسول الله  صلى الله عليه وسلم  وقال لم أر إلا خيرا فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إن الله قد برأها من ذلك ثم قام رسول الله  صلى الله عليه وسلم  على المنبر فقال لا يدخلن رجل بعد يومي هذا على مُغِيْبَةٍ إلا ومعه رجل أو اثنان

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bahwasanya beberapa orang dari bani Hasyim masuk (menemui) Asma’ binti ‘Umais, lalu Abu Bakar masuk –dan tatkala itu Asma’ telah menjadi istri Abu Bakar As-Siddiq- lalu Abu Bakar melihat mereka dan ia membenci hal itu, lalu iapun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berkata, “Aku tidak melihat sesuatu kecuali kebaikan”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah telah menyatakan kesuciannya dari perkara tersebut (perkara yang jelek)”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar dan berkata, “Setelah hari ini tidaklah boleh seorang laki-laki menemui mughibah (yaitu seorang wanita yang suaminya sedang tidak berada di rumah) kecuali bersamanya seorang laki-laki (yang lain) atau dua orang”[40]

Yang dimaksud dengan mughibah adalah wanita yang suaminya sedang tidak berada di rumah, baik karena sedang bersafar keluar kota maupun keluar dari rumah namun masih dalam kota, dalilnya adalah hadits ini. Dikatakan bahwa Abu Bakar sedang tidak berada di rumah, bukan sedang keluar kota.[41]

Berkata Imam An-Nawawi, “Dzohir dari hadits ini menunjukan akan bolehnya berkhalwatnya dua atau tiga orang lelaki dengan seorang wanita ajnabiah, dan yang masyhur menurut para sahabat kami (yaitu penganut madzhab syafi’iah) akan haramnya hal ini. Oleh karena itu hadits ini (bolehnya berkhalwat) dibawakan kepada kepada sekelompok orang yang kemungkinannya jauh untuk timbulnya kesepakatan diantara mereka untuk melakukan perbuatan nista karena kesholehan mereka, atau muru’ah mereka dan yang lainnya”[42]

Adapun para ulama yang mengatakan akan bolehnya berkhalwatnya seorang wanita dengan beberapa lelaki mereka menyaratkan bahwa para lelaki tersebut merupakan orang-orang yang terpercaya dan tidak bersepakat untuk melakukan hal yang nista terhadap wanita tersebut.
Dan ini merupakan pendapat Syaikh Al-Albani.[43]

Berkata Imam An-Nawawi, “

Adapun berkholwatnya dua orang lelaki atau lebih dengan seorang wanita maka yang masyhur adalah haramnya hal ini dikarenakan bisa jadi mereka para lelaki tersebut bersepakat untuk melakukan hal yang keji (zina) terhadap wanita itu. Dan dikatakan bahwa jika mereka adalah termasuk orang-orang yang jauh dari perbuatan seperti itu maka tidak mengapa.”[44]


Peringatan:

1.      Diantara perkara yang dianggap remeh oleh masyarakat namun sangat berbahaya adalah berkhalwatnya kerabat suami (yang bukan mahram istri) dengan istrinya.

عن عقبة بن عامر أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  قال إياكم والدخول على النساء فقال رجل من الأنصار يا رسول الله أفرأيت الحمو قال الحمو الموت

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waspadailah diri kalian dari masuk (menemui) para wanita!”, lalu berkatalah seseorang dari kaum Anshor, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu dengan Al-Hamwu?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Al-Hamwu adalah maut (kematian)”[45]

Berkata Ibnu Hajar,

“Larangan masuk (terhadap kerabat suami) untuk menemui para wanita menunjukan bahwa larangan untuk berkhalwat lebih utama untuk dilarang (min bab aula)”[46]

Imam Nawawi berkata,

“Para ulama bahasa telah sepakat bahwa  الأحماء Al-Ahmaa’ adalah karib kerabat suami seperti ayah, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, sepupu, dan yang semisalnya, dan الأختان Al-Akhtan adalah karib kerabat dari istri, dan الأصهار Al-Ashhar mencakup keduanya (Al-Ahmam dan Al-Akhtaan)….dan yang dimaksud dengan Al-Ahmam disini adalah kerabat karib suami selain ayahnya dan anak-anaknya[47], karena mereka adalah mahram bagi sang istri dan boleh bagi mereka untuk berkhalwat dengannya dan mereka tidak disifati dengan maut, namun yang dimaksudkan di sini adalah saudara laki-laki sang suami, paman, sepupu, dan yang semisalnya yang bukan merupakan mahram bagi sang wanita dan kebiasaan masyarakat mereka menggampangkan hal ini (kurang peduli) dan membiarkan seseorang berkhalwat dengan istiri saudaranya. Inilah maut, dan kerabat seperti ini lebih utama untuk dilarang daripada laki-laki asing (yang tidak ada hubungan kerabat) [48]

Makna perkataan Al-Hamwu adalah maut (kematian)

Imam An-Nawawi berkata,

“Maknaknya bahwa ketakutan terhadap Al-Hamwu lebih daripada terhadap yang lainnya, dan kerusakan lebih mungkin terjadi dan fitnah lebih besar karena memungkinkannya untuk sampai kepada sang wanita dengan tanpa diingkari. Berbeda dengan seseorang yang asing (yang tidak punya hubungan kerabat dengan suami)”

Berkata Ibnul ‘Arabi,

“Ini adalah ungkapan yang dikatakan oleh orang-orang Arab, sebagaimana dikatakan “Singa adalah maut (kematian)”, yaitu bertemu dengannya seperti kematian”. Berkata Al-Qodhi, “Maknanya bahwa berkhalwat dengan Al-Ahma’ menjerumuskan kepada fitnah dan kebinasaan dalam agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadikan perkara ini seperti kebinasaan, maka ungkapan seperti ini untuk penegasan dengan keras”[49]

Berkata Al-Qurthubi,

“…(masuknya al-hamwu) menjerusmuskan sang wanita pada kematiannya dengan diceraikan oleh suaminya tatkala cemburu atau ia dirajam jika birzina dengan al-hamwu tersebut”[50]

2.      Berkata Imam An-Nawawi,

“Dan dikecualikan dari pengharaman (semua bentuk berkhalwat) ini adalah kondisi-kondisi yang darurat seperti jika seorang pria mendapati seorang wanita ajnabiah yang tersesat di tengah daratan dan yang semisalnya, maka boleh baginya untuk menemani wanita tersebut bahkan hal itu wajib atasnya jika sang pria mengkhawatirkan keamanan dan kondisi sang wanita jika ia membiarkannya sendirian. Dan hal ini tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Dalil yang menunjukan akan hal ini adalah kisah Al-Ifk”[51]

 

Daftar Pustaka

1.        Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqolani, terbitan Darus Salam, cetakan pertama 1421 H

2.        Umdatul Qori, karya Badaruddin Al-‘Aini, terbitan Dar Ihyaut Turots Al-‘Arobi

3.        Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya An-Nawawi terbitan Daru Fikr

4.        Al-Minhaj syarh shahih Muslim, karya Imam An-Nawawi terbitan Dar Ihyaut Turots, cetakan ketiga

5.        An-Nihayah fi goribil hadits, karya Ibnul Atsir, terbitan Darul Ma’rifah, tahqiq Syaikh Kholil Ma’mun.

6.        Al-Mabsuth, karya As-Sarkhasi, terbitan Darul Ma’rifah

7.        Mukhatasor Al-Fatawa Al-Misriyah li Ibni Taimiyah, karya Badaruddin bin ‘Ali Al-Hanbali, terbitan Dar Ibnul Qoyyim, tahqiq Muhammad Hamid Al-Faqi

8.        Siyar A’lam An-Nubala’karya Imam Adz-Dzahabi, tahqiq Al-Arnauth, terbitan Muassasah Ar-Risalah

9.        Syadzaratudz Dzahab karya Abdul Hay bin Ahmad, tahqiq Abdul Qodir Al-Arnauth, terbitan Dar Ibnu Katsir

10.     Kasyful Qina’ karya Mansur bin yunus bin Idris Al-Bahuti, tahqiq Hilal Musthofa Hilal, terbitan Darul Fikr

11.     Faidul Qodir, karya Abdurrouf Al-Munawi, terbitan Al-Maktabah At-Tijariah

12.     Mawahibul Jalil karya Muhammad bin Abdirrahman Al-Magribi, terbitan Darul Fikr

13.     Al-Asybah wan Nadzoir karya As-Suyuthi terbitan Darul Kutub Ilmiyah

14.     Nailul Author karya As-Syaukani, terbitan Dar Al-Jail

15.     Al-Adab As-Syar’iah karya Ibnu Muflih terbitan tahqiq Syu’aib Al-Arnauth terbitan Muassasah Ar-Risalah

16.     Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir terbitan Matabah Al-Ma’arif

17.     At-Thobaqot Al-Kubro karya Muhammad bin Sa’d terbitan Dar Shodir

18.     Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar, tahqiq Muhammad Awwamah, terbitan Dar Rosyid

19.     At-Thobaqoot As-Syafiiyah Al-Kubro karya As-Subki tahqiq DR Muhammad bin Mahmud At-Thonuhi, Terbitan Hajr

20.     Tafsir Ibnu Katsir

21.     Silsilah Al-Huda wan Nuur
————————-

CATATAN KAKI:

[1] HR Ahmad 1/18, Ibnu Hibban (lihat shahih Ibnu Hibban 1/436), At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184 , dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah  1/792 no 430

[2]HR Ahmad dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Golil jilid 6 no 1813

[3] HR Al-Bukhari no 5233 dan Muslim (2/975).

Faedah:

Kalau ada yang berkata,

“Namun bagaimana dengan sebagian shohabiyat yang berhijrah dari Mekah ke Madinah tanpa mahram?”,

Tidaklah boleh bagi seorang wanita untuk bersafar tanpa mahram kecuali tatkala hijrah dari Mekah ke Madinah karena keburukan dan bahaya yang ada di kota Mekah saat itu yang menyebabkannya lari lebih bahaya dan lebih buruk dari perkara yang ditakutkannya menimpa dirinya (jika ia bersafar tanpa mahram). Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Ma’ith dan para wanita yang lain telah berhijrah dari Mekah ke Madinah tanpa mahram. Demikian juga hadirnya seorang wanita dalam majelis persidangan di hadapan hakim tanpa mahram, hal ini adalah darurat karena dikawatirkan hilangnya hak penuntut. Demikian juga tatkala seorang wanita yang belum nikah melakukan perzinaan maka ia diasingkan tanpa mahramnya karena hal ini adalah hukuman had baginya. (Syarhul ‘Umdah 2/177-178)

[4] Faidhul Qodir 3/78

[5] Nailul Autor 9/231

[6] Al-Minhaj 14/153

[12] HR Al-Bukhari no 5234 (Kitabun Nikah)

[13] Diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim (4/1812):

عن أنس أن امرأة كان في عقلها شيء فقالت يا رسول الله إن لي إليك حاجة فقال يا أم فلان انظري أي السكك شئت حتى أقضي لك حاجتك فخلا معها في بعض الطرق حتى فرغت من حاجتها

Dari Anas bin Malik bahwasanya seorang wanita yang pikirannya agak terganggu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, saya ada perlu denganmu”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai Ummu fulan, lihatlah kepada jalan mana saja yang engkau mau hingga aku penuhi keperluanmu”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhalwat dengan wanita tersebut di sebuah jalan hingga wanita tersebut selesai dari keperluannya”

[14] Fathul Bari 9/413. Adapun perkataan Imam Nawawi bahwa

“kemungkinan wanita tersebut adalah mahram Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Ummu Sulaim dan saudara wanitanya” (Al-Minhaj 16/68), maka kuranglah tepat karena sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim bahwa wanita tersebut pikirannya agak terganggu, dan ini bukanlah merupakan sifat Ummu Sulaim.

[15] Berkata Al-Qodhi dalam Al-Ahkam As-Sulthoniah tentang sifat penegak amar ma’ruf nahi mungkar,

“Jika ia melihat seorang pria yang berdiri bersama seorang wanita di jalan yang dilewati (orang-orang) dan tidak  nampak dari keduanya tanda-tanda yang mencurigakan maka janganlah ia menghardik mereka berdua dan janganlah ia mengingkari. Namun jika mereka berdua berdiri di jalan yang sepi maka sepinya tempat mencurigakan maka ia boleh mengingkari pria tersebut dan hendaknya ia jangan segera memberi hukuman terhadap keduanya khawatir ternyata sang pria adalah mahram sang wanita. Hendaknya ia berkata kepada sang pria –jika ternyata ia adalah mahram sang wanita- jagalah wanita ini dari tempat-tempat yang mencurigakan. -Dan jika ternyata wanita tersebut adalah wanita ajnabiah- hendaknya ia berkata kepada sang pria, “Aku ingatkan kepadamu dari bahaya berkhalwat dengan wanita ajnabiah yang bisa menjerumuskan engkau kepada kemaksiatan”. Dan hendaknya tindakan tegasnya ia sesuaikan dengan tanda-tanda serta situasi dan kondisi.  Jika seorang penegak amr ma’ruf dan nahi mungkar melihat tanda-tanda seperti ini maka hendaknya ia bersabar, hendaknya ia memeriksa dan memperhatikan situasi dan kondisi dan tidak tergesa-gesa untuk mengingkari sebelum ia mencari kejelasan perkara” Al-Adab As-Syar’iyah 1/302

[16] Sebagaimana disampaikan oleh guru kami Syaikh Abdul Qoyyum As-Suhaibaani

[17] Fathul Bari 9/414

[18] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam musonnafnya 7/17, ia berkata,

““Telah menyampaikan kepada kami Aswad bin ‘Amir, (ia berkata), “Telah menyampaikan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Al-Musayyib…”

[19] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4/373 no 5452 dengan sanadnya hingga Ali bin Al-Madini dari Sufyan dari Ali bin Zaid bin Jad’an.

[20] HR Al-Bukhari no 5096 (Kitabun Nikah) dan Mulim no 97,98 (kitab Adz-Dzikir)

[21] Al-Faidul Qodir 5/436

[22] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Tobaqoot Al-Kubro (5/136) ia berkata, “Telah  mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ashim, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Salam bin Miskin, ia berkata, “Telah menyampaikan kepada kami ‘Imron bin ‘Abdillah”

[23] Siyar A’lam An-Nubala” 5/87-88

[24] Al-Bidayah wan Nihayah 10/318, Bugyatut Tolab fi tarikh Al-Halab 2/750

[25] Tahdzibut Tahdzib 4/87

[26] Siyar A’lam An-Nubala” 5/84, Thdzibul Kamal 20/80, Tarikh Ibnu ‘Asakir 40/392, Hilyatul Auliya’ 3/310

[27] Syaradzatuz Dzahab 3/58, Tobaqoot As-Sufiah 1/364

[28] Kasyful Qina’ 5/16

[29] Al-Majmu’ 4/241

[30] Kasyful Qona’ 5/16.

[31] Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat 24 ayat 30

[32] Matholib Ulin Nuha 5/19

[33] Al-Majmu’ (4/241).

Hukum memandang amrod (Mukhtasor Al-Fatawa Al-Mishriyah 1/29-30):

Berkata Ibnu Taimiyah,

“Memandang amrod dengan syahwat hukumnya haram dan ini merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, demikian juga memandang kepada para wanita yang merupakan mahram (namun dengan syahwat) dan berjabat tangan dengan mereka serta berledzat-ledzat dengan mereka. Barangsiapa yang mengatakan bahwa hal ini adalah ibadah maka ia telah kafir, dan dia seperti orang yang menjadikan bantuan kepada orang yang ingin berbuat nista sebagai ibadah, bahkan memandang kepada pepohonan, kuda, dan hewan-hewan jika dengan perasaan menganggap indah dan baik dunia, kekuasaan dan kepemimpinan, serta harta benda, maka pandangan seperti ini tercela sebagaimana firman Allah:

?ولا تمدن عينيك إلى ما متعنا به أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه ورزق ربك خير وأبقى?

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. 20:131)

Adapun jika pandangan tersebut dengan perasaan tanpa merendahkan agama, namun dengan pandangan tersebut timbul rileks jiwa seperti memandang bunga-bunga maka ini termasuk kebatilan yang dimanfaatkan untuk kebenaran.

Terkadang seseorang memandang kepada orang lain karena keimanan dan ketakwaan yang dimiliki oleh orang yang dipandang tersebut maka pandangan yang seperti ini patokannya adalah hati dan amal orang yang dipandang tersebut bukan karena rupa orang itu.

Terkadang seseorang memandang orang tersebut karena keindahan rupa orang tersebut sehingga mengingatkan dia akan Dzat yang menciptakan rupa tersebut (yaitu Allah) maka pendangan seperti ini baik.

Terkadang seseorang memandang orang lain hanya karena keindahan rupanya

Maka masing-masing model memandang di atas kapan saja disertai dengan nafsu maka hukumnya haram tanpa diragukan lagi, sama saja apakah syahwat yang menimbulkan syahwat untuk berjima’ ataupun tidak.

Dan berbeda antara perasaan seseorang tatkala memandang bunga-bunga dengan perasaannya tatkala memandang wanita dan amrod, dikarenakan perbedaan ini maka dibedakan juga dalam hukum syar’inya, maka jadilah memandang kepada amrod ada tiga macam:

1.        Jika pandangan tersebut disertai dengan syahwat maka hukumnya adalah haram

2.        Yang dibolehkan karena tidak disertai dengan syahwat seperti seseorang yang wara’ yang memandang kepada putranya yang tampan dan putrinya yang cantik. Pandangan yang seperti ini tidak disertai dengan syahwat kecuali dilakukan oleh orang yang paling fajir. Kapan saja pandangan ini disertai dengan syahwat maka hukumnya adalah haram.

Oleh karena itu barangsiapa yang hatinya tidak condong kepada amrod sebagaimana para sahabat, sebagaimana sebuah umat yang tidak pernah mengenal kemaksiatan yang nista ini. Seorang dari mereka tidak membedakan antara pandangannya kepada wajah amrod dengan pandangannya kepada putranya, putra tetangganya, anak kecil ajnabi. Sama sekali tidak terbetik dihatinya syahwat, karena ia tidak terbiasa dengan hal itu, hatinya bersih.

Budak-budak wanita di zaman para sahabat keluar berjalan di jalan-jalan dalam keadaan terbuka wajah-wajah mereka dan mereka melayani (membantu) para lelaki dan hati-hati mereka dalam keadaan bersih. Kalau di negeri ini dan saat ini ada orang yang ingin membiarkan budak-budak wanitanya dari Turki berjalan di jalan-jalan maka  akan timbul kerusakan. Demikian pula dengan amrod-amrod yang tampan, tidak dibenarkan untuk keluar di tempat-tempat dan di waktu-waktu yang dikhawatirkan mereka akan terkena fitnah kecuali sebatas keperluan. Maka tidaklah mungkin pemuda amrod yang tampan berjalan santai atau duduk di tempat pemandian umun diantara lelaki asing…

3. Hanyalah timbul perbedaan pendapat diantara para ulama pada jenis yang ketiga yaitu memandang kepada para amrod tanpa disertai syahwat, namun ada kekawatiran akan timbulnya gejolak syahwat, maka ada dua pendapat pada madzhab Imam Ahmad.

Dan yang paling benar dari dua pendapat tersebut adalah pendapat yang juga merupakan pernyataan Imam As-Syafi’i dan yang lainnya yaitu tidak boleh.  Pendapat yang kedua boleh, karena yang merupakan asal adalah tidak timbulnya gejolak syahwat.. Pendapat pertamalah yang lebih benar.

Barangsiapa yang berlama-lama memandang amrod  lalu mengatakan bahwa ia tidak memandangnya dengan syahwat maka ia telah berdusta, karena kalau memang tidak ada sesuatu (yaitu syahwat) yang mendorongnya untuk terus memandang tentunya ia tidak akan memandang. Sesungguhnya ia tidak mengulangi pandangannya kepada amrod kecuali karena ada keledzatan yang terdapat dalam hatinya.”

[34] Al-Majmu’ 4/242

[35] Al-Majmu’ 4/241

[36] HR Al-Bukhari 1/149,  Muslim 1/457

عن أنس بن مالك أن جدته مليكة دعت رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لطعام صنعته له فأكل منه ثم قال قوموا فلأصل لكم قال أنس فقمت إلى حصير لنا قد اسود من طول ما لبس فنضحته بماء فقام رسول الله  صلى الله عليه وسلم  وصففت أنا واليتيم وراءه والعجوز من ورائنا فصلى لنا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ركعتين ثم انصرف

Dari Anas bin Malik ia berkata bahwasanya neneknya (yang bernama) Mulaikah mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memakan makanan yang telah dibuatnya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabipun memakannya kemudian ia shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Marilah sholat aku akan mengimami kalian” Anas berkata, “Maka akupun mengambil sebuah tikar milik kami yang sudah menghitam karena telah lama dipakai lalu akupun memercikkan air pada tidak  tersebut.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (untuk sholat) dan aku bersama seorang anak yatim berdiri satu saf dibelakang beliau ÷ dan orang yang tua (yaitu nenek beliau) de belakang kami. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat dua rakaat kemudian beliau berpaling (selesai dari sholat).

[37] Al-Mabshuth karya As-Sarkashi 1/166

[38] Al-Majmu’ 4/242

[39] Al-Majmu’ 4/242

[40] HR Muslim 4/1711, Shahih Ibnu Hibban 12/398

[41] Al-Minhaj 4/155

[42] Al-Minhaj 4/155

[43] Silsilah Al-Huda wan Nuur, kaset no 18

[44] Al-Majmu’ 4/241

[45] HR Al-Bukhari no 5232

[46] Fathul Bari 9/411

[47] Adapun Al-Maziri, maka beliau menyatakan bahwa makna Al-Hamwu adalah bapak suami, dan pendapat inipun diikuti oleh Ibnul Atsir dalam An-Nihayah, namun dzahirnya Ibnul Atsir juga tidak membatasi makna Al-Hamwu pada bapak sang suami tapi ia memang Al-Hamwu itu adalah umum mencakup seluruh kerabat suami tanpa mengecualikan bapak dan anak-anak suami. Beliau berkata, Al-Hamwu, “Kerabat-kerabat suami” (An-Nihayah 1/440) Berkata Imam An-Nawawi, “Ini adalah pendapat yang rusak dan tertolak” (Al-Minhaj 14/154). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penafsiran dan penjelasan para imam menunjukan bahwa pendapat ini bukanlah pendapat yang rusak (Fathul Bari 9/412).

Al-Maziri mengisyaratkan bahwa disebutkannya bapak suami untuk dilarang masuk menemui mughibah sebagai peringatan bahwa pelarangan terhadap salain bapak suami terlebih lagi (Al-Fath 9412)

Ibnul Atsir berkata,

“Jika menurut sang suami bahwa bapaknya adalah maut (jika masuk kedalam rumahnya dan ia dalam keadaan tidak di rumah) –padahal ia adalah mahram istrinya- bagaimana jika yang masuk adalah orang asing??!, maksudnya yaitu “Lebih baik ia (sang istri) mati saja dan janganlah ia  (sang istri) melakukannya (membiarkan ada yang masuk rumahnya tanpa kehadiran sang suami)”…, ia berkata, “Maknanya adalah berkhalwatnya Al-Hamwu bersama sang istri lebih berbahya daripada berkhalwat dengan orang asing, karena terkadang jika Al-Hamwu tersebut berbuat baik pada sang istri atau  mamintanya untuk melakukan perkara-perkara yang menurut suami adalah hal yang berat seperti mencari sesuatu yang diluar kemampuan sang suami maka jadilah rusaklah hubungan antara suam istri karena hal itu. Dan karena seorang suami tidak suka jika Al-Hamwu mengetahui urusan dalam keluarganya jika ia masuk dalam rumahnya” (An-Nihayah 1/440)

Ibnu Hajar mengomentari perkataan Ibnul Atsir ini,

“Seakan-akan perkataannya Al-Hamwu maut yaitu mesti terjadi dan tidak mungkin mencegah sang istri dari masuknya Al-Hamwu, sebagaimana kematian itu tidak bisa dihindari. Dan pendapat yang terakhir ini dipilih oleh Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyah) dalam syarhul ‘Umdah” (Al-Fath 9/413)

[48] Al-Minhaj 14/154.

[49] Perkataan kedua ulama ini dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj 14/154

[50] Umdatul Qori 20/214

[51] Majmu’ 4/242

 

Artikel Terkait:

Siapakah Mahram Kita ?

Hukum Memandang Lawan Jenis

Hukum Berjabat Tangan Dengan Non Mahram

Hukum Ikhtilat (Campur Baur) Dengan Lawan Jenis

Hukum Berjabat Tangan Dengan Non-Mahram

Penulis: Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin

Hukum berjabat tangan dengan selain mahram adalah haram, dalilnya sangat jelas, antara lain :

1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menegaskan :

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزَّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذَنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan”.

Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim (16/316) menjelaskan :

“Hadits ini menerangkan bahwa haramnya memegang dan menyentuh selain mahram karena hal itu adalah pengantar untuk melakukan zina kemaluan”.

2. Hadits Ma’qil bin Yasar radhyiallahu ‘anhu :

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”.(1)

Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram adalah dosa besar (Nashihati lin-Nisa hal.123).

Berkata Asy-Syinqithy (Adwa` Al-Bayan 6/603) :

“Tidak ada keraguan bahwa fitnah yang ditimbulkan akibat menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram lebih besar dan lebih kuat dibanding fitnah memandang”.

Berkata Abu ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Al-Makky Al-Haitamy (Az-Zawajir 2/4) bahwa :

“Dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram adalah termasuk dosa besar”.

3. Hadits Amimah bintu Raqiqoh radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘alahi wasallam bersabda :

إِنِّيْ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita”.(2)

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 12/243 :

“Dalam perkataan beliau “aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita” ada dalil tentang tidak bolehnya seorang lelaki bersentuhan dengan perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahramnya-pent.) dan menyentuh tangannya dan berjabat tangan dengannya”.

4. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam riwayat Bukhary-Muslim, beliau berkata :

وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌّ فِي الْمُبَايَعَةِ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ

Demi Allah tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan“.

Berkata Imam An-Nawawy (Syarh Muslim 13/16) :

“Dalam hadits ini menjelaskan bahwa bai’at wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan”.

Berkata Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 4/60) :

“Hadits ini sebagai dalil bahwa bai’at wanita dengan ucapan tanpa dengan menyentuh tangan”.

Jadi bai’at terhadap wanita dilakukan dengan ucapan tidak dengan menyentuh tangan. Adapun asal dalam berbai’at adalah dengan cara menyentuh tangan sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam membai’at para shahabatnya dengan cara menyentuh tangannya. Hal ini menunjukkan haramnya menyentuh/berjabat tangan kepada selain mahram dalam berbai’at, apalagi bila hal itu dilakukan bukan dengan alasan bai’at tentu dosanya lebih besar lagi.

 

Catatan Kaki:

1. (HSR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226)

2. (HSR. Malik no. 1775, Ahmad 6/357, Ishaq Ibnu Rahaway dalam Musnadnya 4/90, ‘Abdurrozzaq no. 9826, Ath-Thoyalisy no. 1621, Ibnu Majah no. 2874, An-Nasa`i 7/149, Ad-Daraquthny 4/146-147, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 4553, Al-Baihaqy 8/148, Ath-Thobary dalam Tafsirnya 28/79, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal Matsany no. 3340-3341, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thobaqot 8/5-6, Ath-Thobarany 24/no. 470,472,473 dan Al-Khollal dalam As-Sunnah no. 45. Dan dihasankan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bary 12/204, dan dishohihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 529 dan Syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shohihain.

Dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Asma` binti Yazid diriwayatkan oleh Ahmad 6/454,479, Ishaq Ibnu Rahawaih 4/182-183, Ath-Thobarany 24/no. 417,456,459 dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 12/244. Dan di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Syahr bin Hausyab dan ia lemah dari sisi hafalannya namun bagus dipakai sebagai pendukung.)

 

Artikel Terkait:

Siapakah Mahram Kita ?

Hukum Memandang Lawan Jenis

Hukum Ikhtilat (Campur Baur) Dengan Lawan Jenis

Apa Kata Islam Tentang Khalwat (Berduaan Dengan Non Mahram)

Hukum Memandang LAWAN JENIS

Ada tujuh kategori pria memandang wanita dan konsekuensi hukum Islam dalam memandang aurat lawan jenis (wanita).

Pertama, laki-laki memandang perempuan tanpa ada keperluan dalam melihatnya walaupun pria itu seorang tua yang lemah dan impoten hukumnya tidak boleh. Kalau melihatnya karena ada keperluan seperti menjadi saksi, maka boleh.

Kedua, laki-laki memandang istrinya. Hukumnya boleh kecuali melihat kemaluannya. Melihat kemaluan istri hukumnya makruh.

Ketiga, laki-laki memandang perempuan yang ada hubungan mahram baik karena keturunan (nasab, keluarga), sepersusuan (rodho’) atau mertua (musaharah), hukumnya boleh memandang anggota tubuh selain antara pusar dan lutut. Hukumnya haram memandang anggota badan wanita mahram/muhriam antara pusar dan lutut.[1]

Keempat, pria memandang wanita bukan mahram untuk tujuan akan dinikah. Hukumnya boleh memandang wajah dan kedua telapak tangannya.[2]

Kelima, pria memandang wanita untuk tujuan pengobatan. Maka boleh memandang pada bagian anggota tubuh yang diobati termasuk kemaluan. Dengan syarat, (a) dokter atau tabib dalam melakukan hal itu harus di depan mahram, atau suami; (b) tidak ada dokter atau tabib perempuan.

Keenam, laki-laki memandang perempuan untuk keperluan kesaksian. Maka seorang saksi laki-laki boleh memandang kemaluan perempuan untuk keperluan kesaksian atas hubungan perzinahan atau kelahiran. Apabila seorang pria sengaja memandang wanita selain untuk bersaksi, maka hukumnya berdosa (fasik) dan kesaksiannya ditolak.

Ketujuh, lelaki memandang perempuan untuk tujuan muamalah (transaksi jual beli, dll), maka hukumnya boleh memandang wajahnya saja.[3]

 

SUMBER & CATATAN KAKI:

[1] Dengan kata lain, perempuan dilarang memakai celana pendek walaupun di rumah sendiri karena saudara, ayah dan pamannya tidak boleh (haram) memandang pahanya.

[2] QS Al Baqarah 2:235

[3] Seluruh tulisan di atas bersumber dari Kitab Fathul Qarib, dalam “Kitab Ahkamin Nikah wama yata’allaqu bihi” hlm. 58-59 (كتاب أحكام النكاح وما يتعلق به). Teks Arabnya lihat di bawah:

(ونظر الرجل إلى المرأة على سبعة أضرب
أحدها نظره) ولو كان شيخاً هرماً عاجزاً عن الوطء (إلى أجنبية لغير حاجة) إلى نظرها (فغير جائز) فإن كان النظر لحاجة كشهادة عليها جاز

(والثاني نظره) أي الرجل (إلى زوجته وأمته فيجوز أن ينظر) من كل منهما (إلى ما عدا الفرج منهما) أما الفرج فيحرم نظره، وهذا وجه ضعيف والأصح جواز النظر إليه، لكن مع الكراهة

(والثالث نظره إلى ذوات محارمه) بنسب أو رضاع أو مصاهرة (أو أمته المزوجة فيجوز( أن ينظر (فيما عدا ما بين السرة والركبة) أما الذي بينهما فيحرم نظره

(والرابع النظر) إلى الأجنبية(لأجل) حاجة (النكاح فيجوز) للشخص عند عزمه على نكاح امرأة النظر (إلى الوجه والكفين) منها ظاهراً و باطناً وإن لم تأذن له الزوجة في ذلك، وينظر من الأمة على ترجيح النووي عند قصد خطبتها ما ينظره من الحرة

(والخامس النظر للمداواة فيجوز) نظر الطبيب من الأجنبية (إلى المواضع التي يحتاج إليها) في المداواة حتى مداواة الفرج، ويكون ذلك بحضور محرم أو زوج أو سيد، وأن لا تكون هناك امرأة تعالجها.

(والسادس النظر للشهادة) عليها فينظر الشاهد فرجها عند شهادته بزناها أو ولادتها، فإن تعمد النظر لغير الشهادة فسق وردت شهادته

(أو) النظر (للمعاملة) للمرأة في بيع وغيره (فيجوز النظر) أي نظره لها وقوله (إلى الوجه) منها (خاصة) يرجع للشهادة والمعاملة

Artikel Terkait:

Siapakah Mahram Kita ?

Hukum Berjabat Tangan Dengan Non Mahram

Hukum Ikhtilat (Campur Baur) Dengan Lawan Jenis

Apa Kata Islam Tentang Khalwat (Berduaan Dengan Non Mahram)

EMPAT PINTU MASUK MAKSIAT PADA MANUSIA

Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seseorang, melalui empat pintu, yakni:

1- Al Lahazhat ( Pandangan pertama)

Yang satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat, atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:

” لا تتبع النظرة النظرة، فإنما لك الأولى وليست لك الأخرى “.

“Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).

Dan di dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, beliau bersabda :

” النظرة سهم مسموم من سهام إبليس، فمن غض بصره عن محاسن

امرأة لله أورث الله قلبه حلاوة إلى يوم يلقاه “.

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat.” ( HR. Ahmad )..

Beliau juga bersabda :

” غضوا أبصاركم واحفظوا فروجكم “.

“Palingkanlah pandangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.” (HR. At Thobrani dalam Al mu’jam al kabir ).

Dalam hadits lain beliau bersabda :

” إياكم والجلوس على الطرقات، قالوا : يا رسول الله, مجالسنا، ما

لنا بد منها. قال : فإن كنتم لا بد فاعلين فأعطوا الطريق حقه، قالوا

: وما حقه ؟ قال : غض البصر وكف الأذى ورد السلام “.

“Janganlah kalian duduk duduk di ( tepi ) jalan”, mereka berkata : “ya Rasulallah, tempat tempat duduk kami pasti di tepi jalan”, beliau bersabda : “Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu”, mereka bertanya : “Apa hak jalan itu ?”, beliau menjawab : “Memalingkan pandangan ( dari hal hal yang dilarang Allah, pent.), menyingkirkan gangguan, dan menjawab salam.” ( HR. Muslim ).

Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya.

Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa “bersabar dalam menahan pandangan mata ( bebannya ) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”

Seorang penyair mengatakan :

كل الحوادث مبداها من النظر *** ومعظم النار من مستصغر الشرر

كم نظرة بلغت من قلب صاحبها *** كمبلغ السهم بين القوس والوبر

والعبد ما دام ذا طرف يقلبه ***في أعين الغير موقوف على الخطر

يسر مقلته ما ضر مهجته *** لا مرحبا بسرور عاد بالضرر

– Setiap kejadian musibah itu bermula dari pandangan, seperti kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.

– Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus kedalam hati pemiliknya, seperti tembusnya anak panah yang dilepaskan dari busur dan talinya.

– Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang digunakan untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang membahayakan.

– ( Dia memandang hal hal yang ) menyenangkan matanya tapi membahayakan jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang akan membawa malapetaka.

Diantara bahaya pandangan

Pandangan yang dilepaskan begitu saja itu akan menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas panasi. Seseorang bisa saja melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan, karena dia tidak sabar untuk melihatnya. Tentu merupakan siksaan yang berat pada batin anda, bila ternyata anda melihat sesuatu yang anda sendiri tidak bisa sabar untuk tidak melihatnya, walaupun sebagian dari sesuatu tersebut, namun anda juga tidak mampu untuk melihatnya.

Seorang penyair berkata :

وكنت متى أرسلت طرفك رائدا لقلبك يوما أتعبتك المناظر

رأيت الذي لا كله أنت قادر عليه ولا عن بعضه أنت صابر

– Bila – suatu hari – engkau lepaskan pandangan matamu mencari ( mangsa ) untuk hatimu, niscaya apa apa yang dipandangnya akan ( menyiksa ) diri kamu sendiri.

– Engkau melihat sesuatu yang engkau tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan dan engkau juga tidak bisa bersabar untuk tidak melihat ( walau hanya ) sebagian dari sesuatu itu.

Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya :

“Engkau akan melihat sesuatu yang engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun sedikit, namun saat itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama sekali walaupun hanya sedikit. Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, akhirnya dia binasa dengan pandangan pandangan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :

يا ناظرا ما أقلعت لحظاته حتى تشحط بينهن قتيلا

Wahai orang yang memandang, tidaklah dia sampai tuntas menyelesaikan pandangannya, sehingga dia sendiri akan menjauh dan jatuh karena pandangan pandangannya sendiri.

Ada untaian bait lain yang mengatakan :

مل السلامة فاغتدت لحظاته وقفا على طلل يظن جميلا

ما زال يتبع إثرة لحظاته حتى تشحط بينهن قتيلا

– (Mungkin) dia sudah bosan selamat, sehingga dia biarkan pandangannya menyaksikan apa yang menurutnya indah.

– Begitulah ; dia terus melanjutkan satu pandangan dengan pandangan yang lain, sehingga ahirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena pandangan pandangannya sendiri.

Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu bahwa pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar benar mengena di hati orang yang memandang.

Ada untaian bait syair yang mengatakan :

يا راميا سهام اللحظ مجتهدا أنت القتيل بما ترمي فلا تصب

وباعث الطرف يرتاد الشفاء له احبس رسولك لا يأتيك بالعطب

– wahai orang yang dengan sungguh sungguh melempar anak panah pandangannya, engkaulah sebenarnya yang menjadi korban dari apa yang kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik orang yang engkau pandang.

– Dan orang yang melepas pandangannya dia akan kehilangan kesehatannya. ( oleh karena itu ) tahanlah pandanganmu, agar tidak mendatangkan musibah kepadamu.

Suatu hal yang lebih mengherankan lagi, yaitu bahwa satu pandangan (padahal yang dilarang ) itu dapat melukai hati dan (dengan pandangan yang baru ) berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama ; namun ternyata derita yang di timbulkan oleh luka luka itu tak mencegahnya untuk kembali terus menerus melukainya.

ما زلت تتبع نظرة في نظرة في إثر كل مليحة ومليح

وتظن ذاك دواء جرحك وهو في ال تحقيق تجريح على تجريح

فذبحت طرفك باللحاظ وبالبكاء فالقلب منك ذبيح أي ذبيح

– Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandangan lainnya untuk menyaksikan ( wanita ) cantik dan ( pria ) tampan.

– Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka ( syahwat )mu, padahal dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.

– Kau korbankan matamu dengan pandangan dan tangisan, sementara hatimu juga ( menjerit seperti ) disembelih habis habisan.

Oleh karena itu dikatakan :

“sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih mudah dari pada menahan langgengnya penyesalan.”

 

2- Al Khothorot ( pikiran yang melintas di benak )

Adapun “Al Khothorot” ( pikiran yang terlintas dibenak ) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu ) yang akhirnya berubah manjadi tekad yang bulat.

Maka barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya.

Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.

Pikiran pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga ahirnya dia akan manjadi angan angan tanpa makna (palsu ).

“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang orang yang dahaga, tetapi bila ia mendatanginya maka ia tidak mendapatkannya walau sedikitpun, dan didapatinya (ketetapan ) Allah di sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalnya dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” ( QS. An Nur, 39 ).

Orang yang paling jelek cita citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan angan kosongnya. Dia pegang angan angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dengan senang dengannya. Padahal demi Allah, angan angan itu adalah modal orang orang yang pailit, dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang bisa merasa puas dengan gambaran gambaran dalam hayalan, dan angan angan palsu.

Seperti dikatakan oleh seorang penyair :

أماني من سعدى رواء على الظما سقتنا ا سعدى على ظمأ بردا

منى إن تكن حقا تكن أحسن المنى وإلا فقد عشنا ا زمنا رغدا

– Angan angan untuk mendapatkan su’da, dapat mengholangkan dahaga. Dengan angan angan itu Su’da telah berhasil memberikan pada kita air dingin di kala haus.

– Angan angan yang sekiranya dapat menjadi kenyataan, tentu menjadi kebahagiaan, dan kalaupun tidak, maka sesungguhnya kita hidup senang beberapa waktu dengan angan angan itu.

Angan angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari sikap ketidakmampuan sekaligus kamalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya mendapatkan realita yang diinginkannya – sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan kedalam hatinya ; dia akan mendekap dan memeluknya erat erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran gambaran palsu yang dihayalkan oleh pikirannya.

Padahal itu semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat, sama seperti orang yang sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran makanan dan minuman, namun dia tidak dapat memakan dan meminumnya.

Perasaan tenang dan puas dengan kondisi semacam ini dan berusaha untuk memperolehnya, jelas menunjukkan betapa jelek dan hinanya jiwa seseorang, sebab kemuliaan jiwa seseorang, kebersihan, kesucian dan ketinggiannya tidak lain adalah dengan cara membuang jauh jauh setiap pikiran pikiran yang jauh dari realita, dan dia tidak rela bila hal hal tersebut sampai melintas di benaknya, serta dia juga tidak sudi hal itu terjadi pada dirinya.

Kemudian “khothorot” atau ide, pikiran yang melintas di benak itu mempunyai banyak macam, namun pada pokoknya ada empat :

1. pikiran yang orientasinya untuk mencari keuntungan dunia / materi.

2. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian dunia/ materi.

3. Pikirang yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.

4. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat.

Idealnya, seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran pikiran, ide ide dan keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas. Bila kesemua bagian itu ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia tidak mengabaikannya untuk yang lain. Kalau ternyata pikiran pikiran yang datang itu banyak dan bertumpang tindih, maka hendaklah dia mendahulukan yang lebih penting, yang dihawatirkan akan kehilangan kesempatan untuk itu, kemudian mengahirkan yang tidak terlalu penting dan tidak dihawatirkan kehilangan kesempatan untuk itu.

Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu :

Pertama : yang penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.

Kedua : yang tidak penting, namun dihawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.

Dua bagian terahir ini sama sama mempunyai alasan untuk didahulukan. Di sinilah lahir sikap ragu ragu dan bingung untuk memilih. Bila dia dahulukan yang penting, dia hawatir akan kehilangan kesempatan yang lain. Dan bila dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan sesuatu yang penting. Begitulah kadang kadang seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah satunya tidak dapat dicapai kecuali dengan mengorbankan yang lain.

Di sinilah akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan diketahui siapa orang yang tinggi, siapa orang yang sukses, dan siapa orang yang merugi. Kebanyakan orang yang mengagungkan akal dan pengetahuannya, akan anda lihat dia mengorbankan sesuatu yang penting dan tidak khawatir kehilangan kesempatan untuk itu, demi melakukan sesuatu yang tidak penting yang tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Dan anda tidak akan mendapatkan seorangpun yang selamat ( dan terlepas ) dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang jarang dan ada pula yang sering menghadapinya.

Dan sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai penentu pilihan dalam masalah ini adalah sebuah kaidah besar dan mendasar yang merupakan poros berputarnya aturan aturan syari’at, dan juga pada kaidah inilah dikembalikan segala urusan.

Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar dan lebih tinggi dalam dua pilihan yang ada – walaupun harus mengorbankan kemaslahatan yang lebih kecil – kemudian kaidah itu pula yang menyatakan bahwa kita memilih kemudlaratan yang lebih ringan untuk mencegah terjadinya mudlarat yang lebih besar.

Jadi, sebuah kemaslahatan akan dikorbankan dengan tujuan mendapatkan kemaslahatan yang lebih besar, begitu pula sebuah kemadlaratan akan dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya kemudlaratan yang lebih besar.

Pikiran pikiran serta ide ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari apa yang kita jelaskan di atas. Dan karena itu datang berbagai syariat atau aturan. Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan pada hal hal tersebut. Dan pikiran pikiran serta ide ide yang paling tinggi, paling mulia dan paling bermanfaat ialah orientasinya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.

Kemudian pikiran yang orientasinya adalah untuk Allah ini bermacam macam :

Pertama : memikirkan ayat ayat Allah yang telah diturunkan dan berusaha untuk memahamimaksud Allah dari ayat ayat tersebut; dan memang untuk itulah Allah menurunkannya; tidak hanya sekedar untuk dibaca saja, namun membaca itu hanya media saja.

Sebagian ulama salaf mengatakan :

“Allah menurunkan Al Qur’an untuk diamalkan, maka jadikanlah bacaan Al Qur’an itu sebagai amalan.”

Kedua : memikirkan dan memperhatikan ayat ayat atau tanda tanda kebesaranNya yang dapat dilihat langsung ; dan menjadikannya sebagai bukti akan nama nama Allah, sifat sifat, hikmah, kebaikan dan kemurahanNya. Dan Allah sendiri telah mendorong hamba-hambaNya untuk merenungkan tanda tanda kebesaranNya, memikirkan dan memahaminya ; Allah menegur dan mencela orang yang melalaikannya.

Ketiga : memikirkan ni’mat, kebaikan dan berbagai karunia yang Dia limpahkan kepada seluruh makhlukNya, dan merenungkan keluasan rahmat, ampunan dan kasih sayangNya.

Tiga hal di atas akan dapat mendorong lahirnya – dari hati seorang hamba – ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah), kecintaan serta perasaan cemas dan harap kepadaNya. Dan bila tiga hal tadi dilakukan dengan kontinyu, disertai dengan dzikir kepada Allah, maka hati seorang hamba akan tercelup secara sempurna dengan ma’rifah dan kecintaan kepadaNya.

Keempat : memikirkan aib, cela dan kelemahan yang ada pada jiwa dan amal perbuatan. Hal ini kan memberikan manfa’at yang sangat besar, karena berperang dalam mengalahkan hawa nafsu yang selalu memerintahkan kejelekan. Bila nafsu yang jahat itu dapat dikalahkan maka nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang)lah yang akan hidup, bangkit dan menjadi penentu segala keputusan. Lalu hatipun menjadi hidup dan kebijakan yang ada pada kerajaannyapun didengar, dia perintah para karyawan dan bala tentaranya untuk melakukan hal yang membawa kemaslahatanya.

Kelima : memikirkan kewajiban terhadap waktu sekaligus bagaimana cara menggunakannya, serta menumpahkan seluruh perhatian terhadap pemanfaatan waktu. Seorang yang arif, akan selalu memanfaatkan waktunya, karena dia yakin, bila waktunya disia siakan begitu saja, berarti dia telah menyia nyiakan seluruh kemaslahatan ( yang seharusnya dia dapatkan. Pent ) sebab, seluruh kemaslahatan itu, tidak lain bisa timbul dan didapatkan melainkan dari adanya waktu. Dan bila disia siakan ( dan waktu itu sudah lewat. Pent ) maka dia tidak akan bisa mengembalikannya lagi untuk selamanya.

Al Imam Asy Syafi’i berkata :

“ aku pernah berteman dengan orang orang sufi dan aku tidak mendapatkan manfaat apa apa dari mereka kecuali dua kalimat saja :

Pertama :

الوقت سيف، فإن قطعته وإلا قطعك .

“Waktu itu bagaikan pedang, bila engkau tidak memotongnya, dialah yang akan menebasmu.”

Kedua :

ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل .

“Dan nafsumu, bila engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”

Waktu yang dimiliki manusia, itulah umur dia yang sebenarnya. Waktu itulah yang menjadi modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan abadi (sorga), sekaligus juga modal untuk kehidupan yang sengsara dalam azab yang pedih ( neraka ). Waktu berlalu lebih cepat dari perjalanan gumpalan awan. Maka, barang siapa yang berhasil menjadikan waktunya untuk Allah dan bersama Allah, itulah kehidupan dan umurnya yang hakiki.

Dan waktu yang tidak dipersembahkan untuk Allah tidaklah dihitung sebagai bagian dari kehidupannya, walaupun dia hidup tapi kehidupannya laksana kehidupan binatang ternak. Bila seseorang menghabiskan waktunya penuh dengan kelalaian, syahwat dan angan angan kosong atau yang paling banyak hanya digunakan untuk tidur dan pengangguran, maka bagi orang semacam ini ‘mati’ itu lebih baik dari pada dia hidup.

Bila seorang hamba – yang sedang melakukan shalat – tidak akan mendapatkan nilai dari shalatnya selain pada bagian yang dia fahami dari shalatnya, maka umurnya yang sesungguhnya adalah waktu yang dia habiskan untuk Allah dan bersama Allah.

Pikiran pikiran atau ide ide yang tidak termasuk salah satu bagian yang disebut di atas tadi, dapat kita katagorikan sebagai was was syaithoniyah (bisikan syetan), angan angan kosong atau halusinasi bohong, persis seperti pikiran pikiran orang yang kurang waras akannya, baik karena mabuk atau fly dan lain sebagainya. Dimana ketika segala hakikat kenyataan itu tampak, kondisi mereka saat itu mengatakan :

إن كان منزلتي في الحشر عندكم ما قد لقيت فقد ضيعت أيامي

أمنية ظفرت نفسي بها زمنا واليوم أحسبها أضغاث أحلام

– Bila kedudukanku, saat dikumpulkan bersama kalian, seperti apa yang telah aku temui sendiri (sekarang ini), maka sungguh aku telah menyia nyiakan hari hariku.

– Angan angan itu telah menguasai jiwaku dalam jangka waktu yang lama, dan hari ini, aku menganggapnya hanya sebagai bunga rampai.

Ketahuilah, sebenarnya pikiran pikiran yang melintas itu tidaklah membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran pikiran itu sengaja didatangkan dan terjadi interaksi dengannya.

Pikiran yang melintas itu laksana orang yang disuatu jalan, bila anda tidak memanggilnya dan anda biarkan dia, maka dia akan berlalu meninggalkan anda. Namun bila anda memanggilnya, anda akan terpesona dengan percakapan, dusta dan tipuannya. Tindakan ini akan terasa begitu ringan bagi jiwa yang kosong penuh kebatilan, dan begitu berat dirasa oleh hati dan jiwa yang suci dan tenang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasang dua macam nafsu pada diri menusia ; nafsu ammarah dan nafsu muthmainnah, yang kedua duanya saling bertolak belakang. Segala sesuatu yang terasa ringan oleh yang satu, maka akan terasaberat oleh yang lain.

Apa yang terasa nikmat oleh yang satu, maka akan terasa menyiksa oleh yang lain. Tak ada sesutau yang lebih berat bagi nafsu ammarah perbuatan yang dilakukan karena Allah dan mendahulukan keridhaaNya dari pada hawa nafsunya, padahal tidak ada amal yang lebih bermanfaat baginya dari amal tersebut. Begitu pula, tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi nafsu muthmainnah dari perbuatan yang bukan untuk Allah dan mengikuti kemauan hawa nafsu. Padahal tidak ada amal yang lebih berbahaya baginya dari amal tersebut.

Dalam hal ini, malaikat itu berada disamping kanan hati manusia, sementara syetan disamping kirinya. Dan pertarungan antara keduanya tidak akan pernah berhenti sampai ajal ditentukan ( oleh Allah ) di dunia ini. Seluruh bentuk kebatilanakan berpihak kepada syetan dan nafsu ammarah, sementara semua macam kebenaran itu akan berpihak pada malaikat dan nafsu muthmainnah.

Dalam peperangan itu kalah dan menang datang silih berganti. Dan kemenangan itu ada bersama kesabaran. Maka barang siapa yang benar benar bersabar, berusaha keras dan bertakwa kepada Allah, niscaya baginya balasan yang baik, di dunia dan di akhirat nanti. Dan Allah pun telah menetapkan sebuah ketetapan yang tidak dapat dirubah selamanya, bahwa balasan baik itu adalah untuk ketakwaan, dan pahala itu adalah untuk mereka yang bertakwa.

Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran pikiran itu bagaikan tulisan yang diukir di atasnya. Maka, bagaimana bisa dikatakan pantas bagi sesorang yang berakal bila papannya hanya berisi dusta, tipu daya, angan angan dan fatamorgana yang tidak ada realitanya ?  hikmah, ilmu dan petunjuk macam apa yang diharapkan dari tulisan tulisan itu ? apabila ingin melukiskan hikmah, ilmu dan petunjuk di papan hatinya, maka tak ubahnya seperti penulisan ilmu yang bermanfaat di sebuah tempat yang sudah penuh dengan tulisan lain yang tidak ada manfaatnya. Bila hati tidak kosong dari pikiran pikiran kotor, maka pikiran pikiran positif yang bermanfaat tidak akan dapat menetap di dalamnya, karena dia memang tidak dapat menempati kecuali tempat yang kosong, seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :

أتاني هواها قبل أن أعرف الهوى فصادف قلبا فارغا فتمكنا

“Aku telah didatangi oleh hawa nafsu sebelum aku kenal dengan hawa nafsu itu sendiri, maka ia temukan hati yang kosong, oleh karena itu ia dapat menguasaiku.”

Hal seperti ini banyak terjadi terhadap orang orang tasawuf, mereka membangun kepribadian mereka dengan cara menjaga pikiran pikiran yang melintas di dalam benak, mereka tidak memberikan kesempatan pada pikiran pikiran tersebut untuk masuk ke dalam hati, sehinggahati itu dalam keadaan kosong dan dapatmelakukan kasyaf (menyingkap rahasia) dan menerima hakikat hakikat yang bermakna tinggi di dalamnya.

Mereka itu menjaga diri mereka dari satu hal, tetapi mereka lalai dan kehilangan banyak hal yang lain, sebab mereka kosongkan hati mereka dari lintasan lintasan pikiran sehingga menjadi kosong, tidak ada apa apa di dalamnya, tiba tiba syetan mendapatkannya dalam keadaan kosong, kemudian syetan menanamkan di dalamnya kebatilan dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang paling tinggi dan paling mulia, syetan meletakkan hal itu sebagai ganti dari jenis pikiran pikiran yang merupakan bahan dasar dari ilmu pengetahuan dan petunjuk.

Apabila hati itu sudah kosong dari berbagai macam pikiran, maka syetan akan datang dengan menemukan tempat yang kosong untuknya. Syetan akan berusaha untuk mengisinya dengan hal hal sesuai dengan kondisi pemilik hati tersebut. Bila tidak berhasil mengisinya dengan keingininan melepaskan diri dari keinginan keinginan – yang sebenarnya – tidak ada kebaikan dan kesuksesan bagi seorang hamba kecuali bila keinginan keinginan tersebut berhasil menguasai hatinya, yaitu mengosongkannya dari keinginan untuk mengikuti perintah perintah tersebut secara rinci untuk kemudian melaksanakannya di masyarakat, lalu berusaha menyampaikannya pada orang orang dengan harapan mereka juga mau melaksanakannya.

Dalam hal ini, syetan akan berusaha menyesatkan orang yang mempunyai keinginan demikian dengan mengajak untuk meninggalkan keinginan baik tersebut dan melepaskannya, tidak usah memikirkan dunia dan masyarakat di dalamnya.

Syetan akan membisikkan kepada mereka bahwa kesempurnaan itu dapat mereka capai dengan cara melepaskan diri dan mengosongkan hati dari hal itu semua. Sungguh amat jauh ungkapan tersebut dari kebenenaran, karena kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh bila hati itu penuh terisi dengan keinginan dan pikiran yang baik, serta usaha untuk merealisasikannya. Maka, manusia yang paling sempurna adalah mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan keinginan untuk tunduk kepada perintah Allah, mencari keridloanNya. Sebagaimana manusia yang paling hina adalah mereka yang paling banyak memiliki keinginan dan pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya dimana saja dia berada. Wallahul musta’an ( dan Allah lah tempat mohon pertolongan ).

Lihatlah Umar bin Khothob Radhiyallahu ‘anhu, pikirannya penuh dengan keinginan dalam mencari keridloan Allah, barangkali dia dalam keadaan shalat, namun saat itu dia juga sedang mempersiapkan tentaranya ( untuk jihad ), dengan demikian dia telah berhasil mengumpulkan antara jihad dan shalat, sehingga beberapa ibadah masuk berkumpul dalam satu ibadah.

Ini adalah salah satu hal yang mulia dan agung, tidak akan tahu tentang hal ini kecuali mereka yang mempunyai keinginan yang benar benar kuat, dan pandai mencari, luas ilmunya serta tinggi cita citanya, dimana dia masuk dalam satu ibadah namun dia juga mendapatkan ibadah ibadah yang lain, itulah karunia Allah yang diberikan pada siapa yang dikehendakinya.

 

3 – Al Lafazhat ( ungkapan kata kata ).

Adapun tentang Al Lafazhat (ungkapan kata kata), maka cara menjaganya adalah dengan mencegah keluarnya kata kata atau ucapan dari lidahnya, yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya.

Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang melihat dulu, apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak ? bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara, dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi, apakah ada kata kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata kata tersebut ? bila memang ada, maka dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Kalau anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, maka lihatlah ucapan lidahnya, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa yang ada dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka.

Yahya bin Mu’adz berkata :

“Hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya, maka perhatikanlah seseorang saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin, dan sebagainya. Ia menjelaskan kepada anda bagaimana “rasa” hatinya, yaitu apa yang dia katakan dari lidahnya, artinya, sebagaimana anda bisa mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi dengan lidah, maka begitu pula anda bisa mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang dari lidahnya, anda dapat merasakan apa yang ada dalam hatinya dan lidahnya, sebagaimana anda juga mencicipi apa yang ada di dalam panci itu dengan lidah anda.”

Dalam hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

” لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم

لسانه “.

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqomah ( lebih dahulu ), dan hati dia tidak akan istiqomah sehingga lidahnya beristiqomah ( lebih dahulu ).”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab “Mulut dan kemaluan”. ( HR. Turmudzi, dan ia berkata : hadits ini hasan shoheh ).

Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam sorga dan menjauhkannya dari api neraka ? lalu Nabi memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amali tersebut, setelah itu beliau bersabda :

” ألا أخبرك بملاك ذلك كله ؟ قال : بلى يا رسول الله، فأخذ بلسان

نفسه ثم قال : كف عليك هذا، فقال : وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟

فقال : ثقلتك أمك يا معاذ، وهل يكب الناس على وجوههم – أو

على مناخرهم – إلا حصائد ألسنتهم”.

“Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu ?’ dia berkata : ya, ya Rasulallah, lalu Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam memegang lidah beliau sendiri kemudian bersabda : “ jagalah olehmu yang satu ini”, maka Mu’adz berkata : adakah kita disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan ? beliau menjawaba : “Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidakkah yang dapat menyungkurkan banyak manusia di atas wajah mereka ( ke Neraka ) kecuali hasil ( ucapan ) lidah lidah mereka ?” ( HR. Turmudzi, dan ia berkata : hadits hasan shoheh ).

 

Dan yang paling mengherankan yaitu bahwa banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kezuhudan dan kekhusyu’an ibadahnya, juga masih berbicara dengan kalimat kalimat yang dapat mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa dia sadari bahwa satu kata saja dari apa yang dia ucapkan dapat menjauhkannya ( dari Allah dengan jarak ) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Dan betapa banyak anda lihat orang yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan kotor dan aniaya, namun lidahnya tetap saja membicarakan aib orang orang, baik yang sudah mati ataupun yang masih hidup, dan dia tidak sadar akan apa yang dia katakan.

Kalau anda ingin mengetahui hal itu, lihatlah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohehnya, dari Jundub bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

: من ذا الذي  ” قال رجل : والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله

يتألى علي أني لا أغفر لفلان ؟ قد غفرت له وأحبطت عملك “.

“Ada seorang laki laki yang mengatakan : ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan itu’, maka Allah berfirman : “Siapa orang yang bersumpah bahwa aku tidak akan mengampuni si Fulan ? sungguh Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.”

Lihatlah, hamba yang satu ini, dia telah beribadah kepada Allah dalam waktu yang cukup lama, namun satu kalimat yang diucapkannya telah menyebabkan semua amalnya terhapus.

Dan di dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga dikisahkan cerita seperti ini, kemudian Abu Hurairah berkomentar : ‘Dia telah mengucapkan satu kalimat yang dapat menghancurkan dunia dan akhiratnya’.

Dalam shahih Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

” إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقى لها بالا يرفعه الله

ا درجات، وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقى لها بالا

يهوي ا في نار جهنم. وعند مسلم : إن العبد ليتكلم بالكلمة ما

يتبين ما فيها يهوي ا في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب “.

“Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk dicintai oleh Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata Allah berkenan meninggikannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk dibenci Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun ternyata dengan kalimat itu dia masuk ke dalam neraka Jahannam.”

 

Dalam riwayat Muslim :

“Sesungguhnya seorang hamba itu mengucapkan satu kalimat yang tidak jelas apa yang dikandungnya, namun dia dapat menjatuhkannya ke dalam neraka ( yang jaraknya ) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”

Dan dalam riwayat Al Turmudzi, dari hadits Bilal bin Al Harits Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, beliau bersabda :

” إن أحدكم ليتكلم بالكلمة من رضوان الله ما يظن أن تبلغ ما

بلغت، فيكتب الله له ا رضوانه إلى يوم يلقاه، وإن أحدكم ليتكلم

بالكلمة من سخط الله ما يظن أن تبلغ ما بلغت، فيكتب الله له ا

سخطه إلى يوم يلقاه “.

“Sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat yang dicintai oleh Allah, dia tidak menyangka ( pahalanya ) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata dengan kalimat itu Allah memberikan kepadanya keridloanNya sampai hari dia berjumpa denganNya kelak. Dan sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu kalimat dari yang dimurkai oleh Allah, dia tidak menyangka ( dosanya ) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata Allah memberikan kepadanya kemurkaanNya sampai dia berjumpa denganNya kelak.”

‘Alqomah mengatakan : “betapa banyak ucapan yang tidak jadi aku katakan disebabkan oleh hadits Bilal bin Al Harits ini.”

 

Dalam kitab Jami’ At Turmudzi, dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : ada seorang sahabat yang meniggal, lalu ada seorang laki laki berkata : ‘berilah kabar gembira dengan sorga’, maka Nabi bersabda :

” وما يدريك ؟ فلعله تكلم فيما لا يعنيه، أو بخل بما لا ينقصه “.

“Dari mana kamu tahu?, barangkali dia pernah mengucapkan ( kalimat ) yang tidak ada guna baginya atau dia pelit untuk (memberikan ) sesuatu yang tidak akan membuatnya kekurangan.” (Al Turmudzi berkata : “hadits ini hasan” ).

Dalam lafadz hadits yang lain disebutkan :

” إن غلاما استشهد يوم أحد، فوجد على بطنه صخرة مربوطة من

الجوع، فمسحت أمه التراب عن وجهه، وقالت : هنيئا لك يا بني،

لك الجنة. فقال النبي وما يدريك ؟ لعله كان يتكلم فيما لا يعنيه

ويمنع ما لا يضره “.

“Ada seorang anak yang meninggal syahid diperang Uhud, lalu ditemukan diperutnya sebuah batu yang diikat untuk menahan lapar, kemudian ibunya mengusap debu yang ada di wajahnya, sambil mengatakan : “berbahagialah engkau hai anakku, engkau akan mendapatkan sorga”, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda : “ Dari mana kamu tahu ? barangkali dia pernah mengucapkan kata kata yang tidak berguna baginya, dan menahan apa yang tidak memberikan mudlarat baginya.”

 

Dalam shaheh Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت “.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengatakan yang baik baik atau diam saja.”

 

Dan dalam lafadz hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan :

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فإذا شهد أمرا فليتكلم بخير أو

ليسكت “.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bila ia menyaksikan suatu perkara maka hendaklah ia mengatakan yang baik baik atau diam saja.”

At Tirmidzi menyebutkan dengan sanad yang shaheh dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, bahwa beliau bersabda :

” من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه “.

“Termasuk ( salah satu tanda ) kebaikan Islam seseorang yaitu ( bila ) dia meninggalkan apa apa yang tidak berguna baginya.”

 

Dari Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi, dia berkata :

” قلت : يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا

بعدك، قال : قل آمنت بالله ثم استقم، فقلت : يا رسول الله ما

أخوف ما تخاف علي ؟ فأخذ بلسان نفسه ثم قال : هذا “.

“Aku berkata : ‘Ya Rasulallah, katakanlah kepadaku dalam Islam ini suatu kalimat yang aku tidak akan menanyakannya pada seorangpun setelah engkau’, Nabi menjawab : “Katakanlah : aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah engkau”, aku bertanya : ‘Ya Rasulallah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku ?’ kemudian Nabi memegang lidah beliau sendiri lalu mengatakan : “ini” ( maksudnya lidah, pent. ). ( HR. Turmudzi, dan ia bekata : hadits ini shaheh ).

Dan Ummu Habibah isteri Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam beliau bersabda :

” كل كلام ابن آدم عليه لا له، إلا أمرا لمعروف أو يا عن منكر أو

ذكرا لله “.

“Semua ucapan anak Adam ( manusia ) itu akan merugikan dia, tidak akan menguntungkan dia, kecuali ucapan untuk amar ma’ruf ( memerintahkan yang baik ), atau nahi mungkar ( mencegah perbuatan mungkar ), atau dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” ( At Tirmidzi berkomentar : hadits ini derajatnya hasan ).

Dalam hadits yang lain disebutkan :

” إذا أصبح العبد فإن الأعضاء كلها تكفر اللسان، تقول : اتق الله

فينا فإنما نحن بك، فإذا استقمت استقمنا، وإن اعوججت اعوججنا”.

“Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota tubuh memberikan peringatan kepada lidah dan berkata : takutlah engkau kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu, bila kamu istiqomah kami akan istiqomah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut melenceng.”

Sebagian ulama salaf ada yang menyalahkan dirinya sendiri, hanya sekedar mengucapkan :

“hari ini panas dan hari ini dingin”, dan sebagian ulama juga ada yang tidur kemudian bermimpi dan dia ditanya tentang keadaannya, lalu dia menjawab : “aku tertahan oleh satu ucapan yang telah aku katakan, aku pernah mengatakan : “oh, betapa butuhnya orang orang ini kepada hujan”, tiba tiba ada yang berkata kepadaku “dari mana kamu tahu itu ? Akulah yang lebih tahu tentang kemaslahatan hambaKu.”

Seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya : tolong ambilkan kain untuk kita gunakan bermain main, lalu dia berkata : ‘Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata kata kecuali aku pasti bisa mengendalikan dan mengekangnya, kecuali kata kata yang tadi aku katakan, ia keluar dari lidahku tanpa kendali dan tanpa kekang.”

Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, tapi dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri …

 

Ada perbedaan pendapat antara ulama salaf dan khalaf dalam masalah : apakah semua yang diucapkan oleh manusia itu semua akan dicatat , ataukah ucapan yang baik dan yang jelek saja , di sini ada dua pendapat, namun yang lebih kuat adalah yang pertama.

Sebagian ulama salaf mengatakan :

“semua perkataan anak Adam itu akan merugikan dirinya dan tidak akan menguntungkannya, kecuali ucapan yang diambil dari kalam Allah dan ucapan yang digunakan untuk membelaNya.

 

Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah memegang lidahnya dan berkata :

“inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah”,ucapan itu adalah tawanan anda, bila ia sudah keluar dari mulut anda berarti andalah yang menjadi tawanannya. Allah selalu memonitor lidah setiap kali berbicara.

” ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد “.

“Tidak suatu ucapanpun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

 

Bahaya lidah :

Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa selamat dari salah satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari penyakit yang satunya lagi, yaitu penyakit berbicara dan penyakit diam. Dalam satu kondisi bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain.

Orang yang diam terhadap kebenaran adalah syetan yang bisu, dia bermaksiat kepada Allah, serta bersikap riya’ dan munafik bila dia tidak khawatir hal itu akan menimpa dirinya. Begitu pula orang yang berbicara tentang kebatilan adalah syetan yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah.

Kebanyakan orang sering keliru ketika berbicara dan ketika mengambil sikap diam. Mereka itu selalu berada di antara dua posisi ini.

Adapun orang orang yang ada di tengah tengah – yaitu mereka yang berada pada jalan yang lurus – sikapnya adalah menahan lidah mereka dari ucapan yang batil dan membiarkannya berbicara dalam hal hal yang dapat membawa manfaat pada mereka di akhirat. Sehingga anda tidak akan melihat mereka mengucapkan kata kata yang akan membahayakan mereka di akhirat nanti.

Sesungguhnya ada seorang hamba yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala kebaikan sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya sendiri telah menghilangkan pahala tersebut. Dan ada pula yang datang dengan dosa dosa sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya telah menghilangkan itu semua dengan banyaknya dzikir kepada Allah, dan hal hal yang berhubungan denganNya.

 

4- Al Khuthuwat ( langkah nyata untuk sebuah perbuatan )

Adapun tentang Al Khuthuwat maka hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya.

Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah ( yang boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan, pent.) yang dilakukannya dengan cara berniat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian maka seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.

Tergelincirnya seorang hamba dari perbuatan salah itu ada dua macam : tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah. Oleh karena itu kedua macam ini disebutkan sejajar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :

وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم 

.  الجاهلون قالوا سلاما

“Dan hamba hamba Ar Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (QS. Al Furqon, 63)

Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa sifat mereka itu adalah istiqomah dalam ucapan dan langkah langkah mereka, sebagaimana Allah juga mensejajarkan antara pandangan dan lintasan pikiran, dalam firmanNya :

.  يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور 

“Allah mengetahui khianat mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” ( QS. Ghofir, 19 )

 

Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan bagi pembahasan kami berikutnya, yaitu : “JANGAN DEKATI ZINA” (Penjelasan akan Diharamkannya Zina, dan Kewajiban Menjaga Kemaluan).

 

Sumber:

Kitab “Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘an Ad Dawaa’ Asy Syafi ” Bab “Laa Taqrabuz Zinaa” (Jangan Dekati Zina) oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah

Hukum Bagi yang Meninggalkan Shalat atau Menunda-nunda Waktunya dan Bagi yang tidak Mengingatkan Mereka

Segala puji bagi Alah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi yang tiada Nabi setelahnya.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu,

Allah berfirman,

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Adz-Dzariyat:55)

Dan firman-Nya,

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.”(QS.Al-A’la:9)

Dan firman-Nya,

“Maka berikanlah peringatan, karena sesunggguhnya kamu adalah orang-orang yang memberi peringatan.” (QS.Al-Ghasiyyah:21)

Rasulullah Saw bersabda,

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR.Bukhari)

Sabdanya juga,

“Dien (agama) adalah nasihat.” (HR.Muslim)

Memperhatikan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas ditambah dengan harapan saya untuk menyampaikan serta membebaskan saya dari tuntutan, maka saya menulis nasihat yang ringkas dan penting ini, bagi siapapun yang merasa dirinya meninggalkan shalat atau menunda-nunda waktunya atau meremehkannya. Dengan memohon taufiq Allah saya sampaikan:

Agar semua mengetahui bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya agar supaya mereka beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya dan tidaklah Allah menciptakan makhluk-Nya kemudian dibiarkan begitu saja atau sekedar iseng-iseng saja (sia-sia).

Akan tetapi ironisnya, sebagian manusia mulai meremehkan urusan diennya, dan mulailah merebak dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil dan bid’ah, kemudian hal itu semakin bertambah hingga tidak ada seorang pun dapat menghindar darinya kecuali yang dirahmati Allah. Pada kesempatan kali ini saya akan berbicara mengenai dosa besar, yang termasuk pada dosa besar yang paling besar yakni meninggalkan shalat dengan sengaja. Yang mana kita hidup sedangkan orang yang masih serumah dengan kita, satu kantor (tempat kerja), dll, ada yang tidak mengerjakan shalat, sedangkan kita tidak mengingatkannya, tidak menasihatinya, bahkan kita masih menganggap mereka saudara.

Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, ketika mati tidak boleh dimakamkan di makam kaum muslimin. Akan tetapi ironisnya, ketika ada orang yang tidak shalat mati, kita memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya, memintakan rahmat untuknya dan bahkan lebih dari itu kita memohon kepada Allah agar ia diberi keteguhan di akhirat. Keteguhan manakah yang ia miliki jika Rabb-nya bertanya kepadanya,

“Apakah engkau menunaikan shalat wajib? Apakah engkau menunaikan tepat pada waktunya?”

Apa kira-kira jawaban orang tersebut. Apakah kita tidak takut kepada Allah, wahai yang membiarkannya dan tidak mengatakan bahwa ia kafir.

Tidakkah kita takut jika Allah memintakan pertanggungjawaban kita dan apa yang akan kita katakan nantinya?

Sesungguhnya perkataan saya bukan hanya saya tujukan kepada orang yang shalat saja, tetapi juga bagi mereka yang meninggalkannya.

Perlu diketahui wahai engkau yang meninggalkan shalat, tentang apa yang Allah firmankan tentang engkau. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek), yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui “ghayyu“. Kecuali orang-orang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS.Maryam:59-60)

Adapun ghayyu adalah lembah yang berada di neraka jahanam, yang amat jauh kedalamannya, sangat busuk rasanya, sedangkan engkau akan menjadi penghuninya jika engkau meninggalkan shalat. Bayangkanlah keadaan lembah tersebut dan bagaimana sekiranya engkau menghuninya.

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Maka wail-lah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS.Al-Maun:4-5)

Sedangkan wail adalah lembah di neraka jahanam yang seandainya gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka akan hancur lembur karena panasnya. Itulah tempatmu kelak jika kamu tidak mau bertaubat.

Ibnu Abbas menafsirkan kedua ayat di atas,

“Mereka adalah orang-orang munafik yang shalat ketika banyak orang, namun dia tidak mengerjakannya saat dia sendirian.”

Maka perhatikanlah wahai kalian yang meninggalkan shalat, apa yang Allah firmankan tentang kamu pula, dan perhatikanlah bagaimana ahlul jannah yang diliputi kenikmatan bertanya perihal engkau dan bagaimana jawabanmu kelak, Allah berfirman:

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. Apakah yang memasukkanmu ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS.Al-Mudatstsir:38-48)

Dan ayat-ayat yang berbicara tentang hal itu amatlah banyak, maka ambillah pelajaran semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Adapun hadits-hadits yang berkaitan tentang hal itu akan saya sebutkan sebagian kepada anda:

Rasulullah Saw bersabda,

“Tiada pembatas antara seorang hamba (muslim) dengan kafir atau syirik selain meninggalkan shalat.” (HR.Muslim, Tirmidhi, dan selain keduanya)

Beliau juga bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Qarth:

“Amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari akhirat adalah shalatnya, apabila shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika shalatnya rusak maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR.Thabrani dan yang lain dengan sanad yang shahih)

Rasulullah Saw juga bersabda ketika membedakan antara orang yang kontinyu dalam shalat dengan orang yang tidak kontinyu mengerjakannya:

“Barang siapa yang menjaga shalat, maka baginya cahaya, penuntun dan kejayaan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang tidak menjaga shalat, maka tiadalah baginya cahaya, penuntun dan kejayaan di hari kiamat dan mereka akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, Haman dan Ubai bin Khalaf.” (HR.Ahmad dan yang lain dengan sanad yang baik), sedang mereka adalah para dedengkot orang-orang kafir, kita memohon kepada Allah agar menjauhkan kita dari mereka.

Perhatikanlah wahai yang meninggalkan shalat karena tidur nyenyak, apa yang akan terjadi pada engkau jika terus menerus demikian? Telah diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah Saw bermimpi:

“Ada dua malaikat mendatangiku dan berkata, “Marilah,” maka aku pun pergi bersama keduanya, kemudian kamimendapati ada seorang laki-laki yang berbaring sedangkan seorang yang lain berdiri di atasnya dengan membawa batu besar, tiba-tiba ia pukulkan batu itu mengenai kepala orang yang berbaring hingga pecah berantakan dan batu tersebut terlempar, lalu ia hampiri batu itu lalu diambilnya. Tidaklah ia menghampiri orang yang berbaring tadi melainkan kepalanya telah pulih seperti semula. Kemudian ia mendatangi orang tersebut dan mengerjakan sebagaimana yang ia kerjakan sebelumnya. Nabi bersabda, “Aku bertanya kepada keduanya, “Subhanallah..ada apa dengan dua orang itu?”  Keduanya menjawab, “Marilah !”

Kemudian pada akhir hadits beliau bersabda,

“Sesungguhnya aku melihat suatu peristiwa yang menakjubkan sejak tadi malam, apa sesungguhnya yang aku lihat tersebut? keduanya berkata kepadaku, “Akan kami kabarkan kepada Anda. Adapun orang pertama yang Anda lihat yakni orang yang kepalanya hancur oleh batu, maka sesungguhnya ia adalah orang yang mengambil Al-Quran lalu membuangnya dan mereka tidur dari shalat wajib.” (HR.Bukhari)

 

Wahai yang meninggalkan shalat, wahai yang miskin dan lalai, akan kami ceritakan kepada Anda kisah yang dituturkan oleh Imam Adz-Dzahabi di dalam kitab beliau Al-Kaba’ir, maka hayatilah, perhatikanlah, dan ulang-ulanglah hingga engkau menyadari  akan bahaya yang kelak engkau alami. Beliau bercerita:

“Ada seorang laki-laki yang memiliki saudara wanita yang telah wafat. Ketika mereka pergi untuk menguburkannya, jatuhlah kantong miliknya yang berisi harta (uang) ke dalam kubur. Ketika mereka kembali sadarlah akan hal itu, maka diapun kebali ke kubur saudarinya, lalu dia gali kubur saudarinya namun dia melihat api menjilat-jilat di dalam kubur tersebut. Dengan cepat ia pendam dengan tanah dan ia kembali kepada ibunya dengan menangis seraya bertanya, “Wahai ibu, beritakanlah kepadaku apa yang telah dikerjakan oleh saudariku di dunia?” sambil menceritakan apa yang telah ia lihat. Ibunya pun menangis dan berkata, “Wahai anakku, saudarimu telah menyia-nyiakan shalat dan menunda-nunda waktu shalatnya.”

Wanita ini hanya menunda shalatnya, lantas bagaimana nanti keadaanmu padahal engkau meninggalkannya secara keseluruhan? Saya tidak akan memperpanjang uraian saya kepadamu. Hanya didorong oleh rasa kasihan dan keprihatinan terhadap keadaanmu aku menuliskan nasihat yang berharga ini dan aku berharap kepada Allah semoga bermanfaat bagimu sehingga engkau tidak tidur di malam hari sebelum merenungkan apa yang telah aku tuliskan untukmu dan engkau sadar bahwa pintu taubat selalu terbuka lebar di hadapanmu selagi nyawa belum sampai ditenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Az-Zumar:53)

Maka bersegeralah bertaubat sebelum ajal menghampirimu, Allah tempat memohon pertolongan.

Semoga shalawat dari Allah terlimpahkan kepada Nabi kita Shalallahu ‘alayhi wasallam.

Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan? Maka saksikanlah Ya Allah..!

 

Nasihat dari  Syaikhul Islam Imam Ibnu Taymiyyah Rahimahullah, dalam kitabnya “Qoidatu Ahlussunnah wal Jama’ah”, dialihbahasakan oleh Abu Umar Abdillah Asy-Syarif

 

Kenapa Setiap Muslim Harus Memperlajari ILMU TAUHID, dan Urgensinya Di Atas Shalat, Puasa, Zakat dan Haji ?? [Download Kajiannya Dalam Bentuk Audio Mp3]

Kenapa para nabi seluruhnya selalu mendakwahkan kepada tauhid? Dan kenapa Allah ampuni segala dosa seorang hamba selama ia memelihara tauhidnya sampai ujung hayatnya…

Tatkala Allah memerintahkan sesuatu kepada kita maka Allah tidak semata-mata memerintahkan begitu saja, namun agar kita antusias untuk melaksanakan perintah-Nya, maka Allah memberikan iming-iming kepada kita. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perintah yang paling agung yang Allah wajibkan kepada seluruh manusia adalah perintah untuk mentauhidkan Allah yaitu agar manusia hanya beribadah kepada Allah semata. Oleh Karena itulah Allah memberikan iming-iming yang tidak tanggung-tanggung lagi bagi orang yang melaksanakannya. Lalu apakah iming-iming tersebut? Marilah kita simak pembahasan berikut ini.

Di antara keutamaan tauhid adalah:

1. Orang yang mentauhidkan Allah akan mendapatkan ketenangan serta hidayah.

Baik hidayah di dunia berupa ilmu serta taufiq untuk mengmalkan ilmu tersebut maupun hidayah di akhirat yaitu petunjuk untuk menuju surga. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am : 82)
Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat, mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (mis. berbuat maksiat pent.), maka Rasulullah bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Lukman kepada anaknya,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Lukman : 13). (HR. Bukhari & Muslim)

Syirik disebut kezaliman karena orang yang melakukan syirik telah menujukan ibadah kepada sesuatau yang tidak berhak mendapatkannya. Ibadah adalah hak Allah semata, tidak pantas ditujukan kepada makhluk, meskipun kepada Nabi ataupun malaikat, lebih-lebih kepada jin atau arwah orang fasik.

Macam-macam Kezaliman:
a. Kezaliman yang paling besar yaitu menyekutukan Allah (Syirik).
b. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri yaitu bisa berupa maksiat atau tidak memberikan hak-hak dirinya sendiri, misalnya menyiksa diri sendiri dengan aksi mogok makan dan lain-lain.
c. Kezaliman seseorang terhadap orang lain, misalnya mengganggu ketenangan orang lain, mencuri harta orang lain, menganiaya orang lain dan lain-lain.
Seberapa besarkah ketenteraman dan hidayah yang didapat oleh orang yang tidak melakukan Kezaliman?
Jika keimanan seseorang sempurna dan tidak tercampuri oleh maksiat maka ia akan mendapat ketenteraman yang mutlak/sempurna, dan jika keimanan tersebut tidak sempurna maka rasa aman yang ia dapatkan juga tidak sempurna.

Sebagai contoh orang yang melakukan dosa besar (di bawah kesyirikan) maka ia tetap mendapat rasa aman dari ancaman kekal di neraka karena dosa besar tidak menyebabkan seseorang kekal di neraka akan tetapi ia tetap tidak merasa aman dari ancaman azab di neraka meskipun tidak kekal.

2. Orang yang bertauhid pasti akan masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersyahadat bahwa: tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Isa bin Maryam adalah hamba dan utusan-Nya serta kalimat yang Dia sampaikan pada Maryam serta ruh dari-Nya(yaitu ruh ciptaan-Nya, pent), surga adalah benar adanya, neraka adalah benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke surga betapapun amalan yang telah ia perbuat. (HR. Bukhari & Muslim).

Apakah yang dimaksud dengan bersyahadat?
Syahadat adalah persaksian yang disertai pengucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati serta pembuktian dengan amalan badan.

Jika anda bertanya kenapa harus terpenuhi tiga hal tersebut untuk disebut sebagai syahadat yang benar? Maka, sebagaimana kita ketahui, bukankah orang-orang munafik di zaman Nabi dulu juga mengucapkan syahadat, akan tetapi syahadat mereka tidak bermanfaat, bahkan mereka kelak akan berada di kerak neraka.

Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS. An Nisa :145).

Adapun tentang syahadat mereka, maka Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Ketika orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Namun pada kelanjutan ayat, Allah justru mengingkari syahadat mereka serta membongkar keadaan mereka yang sebenarnya, Allah berfirman yang artinya, “sedangkan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun : 1)

Jika kita tilik, kenapa syahadat orang munafik tidak diterima maka akan kita dapatkan dua hal yang menyebabkan hal tersebut:
a. Syahadat mereka tidak diiringi dengan keyakinan di dalam hati atau hanya sekedar di mulut mereka belaka.
b. Syahadat mereka tidak diiringi dengan amalan anggota badan, di mana amalan merupakan bukti benarnya syahadat seseorang.

3. Orang yang bertauhid akan terbebas dari azab dan api neraka

Yang dimaksud terbebas ada dua jenis, yaitu:
a. Terbebas dalam arti tidak pernah masuk neraka sama sekali
b. Terbebas dalam arti dikeluarkan dari neraka setelah dimasukkan ke dalamnya selama beberapa waktu.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal,

”Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya?” Aku menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau pun bersabda,”Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” Beliau bersabda lagi, “Apakah kamu tahu apakah hak mereka jika mereka memenuhi hak Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan (masuk) neraka bagi orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharap (pahala melihat) wajah Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah tidak semata-mata mengucapkan namun harus disertai dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibadah haji, beliau bersabda,

“Haji adalah (wukuf di) Arafah” (HR Ashhabus Sunan).

Sekarang kita tanyakan, Sahkah hukumnya orang yang berhaji namun hanya melaksanakan wukuf di arafah saja? Tentu orang yang mengetahui akan mengatakan tidak, agar ibadah hajinya sah maka ia harus melaksanakan rukun-rukun haji yang lain serta syarat-syaratnya. Nah, begitu juga dengan orang yang mengucapkan syahadat “laa ilaha illallah” maka ia harus melakukan syarat, rukun serta konsekuensi dari ucapan tersebut agar ia mendapatkan keutamaan terbebas dari api neraka sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Di antara contoh tidak melaksanakan konsekuensi dari ucapan ini adalah orang yang mengucapkannya tidak meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Oleh sebab itu banyak kita jumpai orang yang mengaku islam namun masih menggantungkan nasibnya pada jimat, keris, Nyi Roro Kidul, dukun, ramalan-ramalan, dan masih banyak lagi. Padahal itu semua termasuk dalam kategori syirik yang merupakan kebalikan dari tauhid.

4. Bobot timbangan tauhid melebihi timbangan langit dan bumi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Musa ‘alaihisallam berkata, ‘wahai Rabbku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu’, Allah berfirman, ‘Katakanlah wahai Musa, laa ilaha illallah’, maka Musa berkata, ‘wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan hal ini’, Allah berfirman, ‘wahai Musa seandainya ketujuh langit beserta penghuninya selain aku serta ketujuh bumi berada pada satu daun timbangan dan laa ilaha illallah berada pada daun timbangan (yang lain), niscaya laa ilaha illallah lebih berat timbangannya dengan itu semua.”( HR Ibnu Hiban dan al Hakim dan ia menshahihkannya).

5. Tauhid merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah berfirman, wahai anak adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau mendatangiku dengan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka pasti aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar bumi. (HR Tirmidzi dan beliau menghasankannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sungguh Allah akan membebaskan seorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat di mana ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman,’Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini, apakah para (malaikat) pencatat amal telah menganiayamu? Dia menjawab,’Tidak, Wahai Rabbku’. Allah bertanya,’Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab,’Tidak wahai Rabbku’. Allah berfirman,’Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak dianiaya sedikitpun’. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan ‘Asyhadu an La ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadan Abduhu wa Rasuluh’. Lalu Allah berfirman,’Datangkan timbanganmu.’ Dia berkata,’Wahai Rabbku, apakah artinya kartu ini jika dibandingkan dengan seluruh gulungan dosa itu?’ Allah berfirman,’Sungguh kamu tidak akan dianiaya’. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (la ilaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari sesuatu terdapat nama Allah” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang tentang keutamaan tauhid, akan tetapi karena keterbatasan tempat, hanya secukupnya yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan hal ini dapat memotivasi kita untuk giat mempelajari tauhid beserta rincian-rinciannya, mengamalkannya serta mendakwahkannya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

Simak kajian Ustad Sofyan Chalid yang menjabarkan Kitab Tauhid karangan Syaikh At-Tamimmi

[Klik Judul untuk mendengarkan dan mengunduh]

Kunjungi bagian Sidebar Blog ini untuk mendapatkan kajian bab-bab lainnya pada Kitab Tauhid ini selengkapnya.

Mengapa Doa-doaku Belum Terkabulkan? (Bag.2)

Pada bagian sebelumnya kita telah menyebutkan 10 point nasihat dari seorang ulama besar Ibrahim Ibn Adham mengenai hal-hal yang bisa menyebabkan mengapa doa kita belum dikabulkan oleh Allah Swt, yaitu:

  1. Kalian mengenal Allah, tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

  2. Kalian mengaku mencintai Rasul-Nya, tetapi kalian meninggalkan Sunnahnya.

  3. Kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.

  4. Kalian banyak diberi nikmat karunia, tetapi kalian tidak mensyukurinya.

  5. Kalian mengatakan bahwa syetan adalah musuh, tetapi kalian justru mengikuti langkahnya.

  6. Kalian mengaku bahwa surga adalah benar adanya, tetapi kalian tidak melakukan amal-amal yang mengantar ke sana.

  7. Kalian mengaku bahwa neraka adalah benar adanya, tetapi kalian tidak lari dari panas siksanya.

  8. Kalian  mengaku bahwa kematian adalah benar adanya, namun kalian tidak mempersiapkan diri ke sana.

  9. Kalian sibuk mengurusi kekurangan orang lain, tetapi kalian lupa akan kekurangan diri sendiri.

  10. Kalian menguburkan jenazah, akan tetapi tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa kematian.

Pada bagian ini kita akan membahas kesepuluh point tersebut lebih mendalam, sehingga insha Allah dengan usaha-usaha kita makin mendekatkan diri kepada Allah Swt, Allah akan ridha dan mengabulkan semua doa dan harapan kita.

1. Kenali Allah dan tunaikan hak-Nya

Allah Swt berfirman:

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.”(QS.Thaha,20:14)

Kewajiban pertama seorang hamba adalah mengenal Allah Swt. Ketahuilah bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta ini. Tidak ada Tuhan selain Allah yang bisa melakukan apa yang telah Allah lakukan. Bumi dengan segala isinya adalah ciptaan Allah Swt. Manusia diciptakan Allah dan akan kmbali kepada Allah Swt, Inna lillaahi wa inna ilaihi raa’jiuun. Sehebat dan sekaya apa pun manusia, pasti akan kembali kepada Allah Swt.

Setelah mengenal Allah Swt. dengan segala sifat dan kekuasaan-Nya, manusia harus menempatkan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadati. Loyalitas mutlak harus diberikan hanya kepada-Nya. Tidak dibenarkan seorang hamba melakukan loyalitas ganda atau multi kepada selain Allah Swt.

Dalam Hadis Rasullah telah bersabda dan dalam kitab-Nya Allah Swt. berfirman mengenai 10 hak-hak Allah Swt terhadap makhluk ciptaan-Nya dan hak manusia terhadap Pencipta-Nya:

“Dan tidak aku ciptakan manusia dan jin melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Az-Zaariyaat,51:56)

“Katakanlah (Muhammad), “Mari aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena (takut) miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi; janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti (151). Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya . Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun  dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat (152). Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa (153). (QS.Al-An’am,6:151-153)

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut (semua sesembahan selain Allah)…” (QS.An-Nahl,16:36)

Dinarasikan oleh Mu’adh bin Jabal Radiyallahu Anha, dia berkata:

Ketika itu saya sedang mengendarai keledai di belakang Rasulullah Saw dan dia berkata, “O Mu’adh, apakah kamu tahu apa hak Allah terhadap manusia dan apa hak manusia terhadap Allah?”  “Aku menjawab, “Allah dan Utusan-Nya lebih tahu,” Dia (Rasulullah  Saw) melanjutkan, “Hak Allah atas makhluk-Nya adalah hanya beribadah kepada Allah dan tidak pernah menyekutukan-Nya kepada lain-Nya. Hak manusia terhadap-Nya adalah tidak menghukum siapapun yang tidak menyekutukan-Nya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Jelaslah dari sekian banyak kewajiban manusia terhadap Allah, Allah menempatkan kewajiban “Beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukanKu” pada urutan pertama, artinya yang terpenting. Karena masuk surga atau nerakanya seseorang, yang Allah hisab pertama adalah pada kualitas ini.

Tentu saja ada setan yang tujuan utama mereka adalah menyesatkan manusia. Dan pintu utama yang dilalui setan adalah melalui pintu Shirk.

Dinarasikan dari Jabir Radiyallahu Anha, Rasulullah Saw berkata:

“Siapapun yang bertemu Allah (pada Hari Perhitungan) dan dia tidak menyekutukan-Nya (dalam ibadah) akan memasuki surga; dan siapapun yang bertemu dengan-Nya dan telah berbuat Shirk dalam berbagai bentuk (shirk besar maupun shirk kecil) akan memasuki api neraka.” (HR.Muslim)

Berulang kali Rasulullah Saw menegaskan mengenai bentuk-bentuk shirk agar umatnya menjauhi dari perbuatan-perbuatan tersebut, karena seringkali karena keterbatasan ilmu kita (atau bahkan orang-orang berilmu sekalipun) tidak menyadari telah melakukannya, karena begitu pintarnya setan meniupkannya ke dalam hati manusia.

Di bawah ini akan diuraikan beberapa perbuatan-perbuatan shirk yang acapkali terjadi di masyarakat kita, yang sudah mendarah daging menjadi sebuah tradisi, sehingga kita pun tidak menyadari bahwa praktek-praktek ini merupakan bagian dari shirk dan ditanpa disadari juga telah membuat pelakunya keluar dari agama Islam. Mengapa demikian? Banyak orang yang beragama Islam tapi tidak mengetahui apa itu arti Islam sesungguhnya.

Islam itu sendiri bermakna kepatuhan, ketundukan kita kepada semua perintah Allah Swt yang dinyatakan melalui semua anggota tubuh kita (dengan perkataan & perbuatan), seperti lidah dengan menyatakan laa illaha illa Allah Muhammad Rasul Allah  (tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), dan selanjutnya melalui perbuatan seperti melaksanakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Bila seseorang sudah menyatakan ‘saya beragama Islam’ tapi tidak tunduk dan patuh kepada semua perintah yang ada di dalamnya, artinya menjalankan satu perintah dan meninggalkan perintah lainnya, berarti dia telah keluar dari rel-rel ajaran Islam. Rasulullah Saw menyatakan, “Ikutilah agamaku secara kaffah” artinya mengikuti semua ajaran Islam secara menyeluruh.

Baiklah, mari kita kembali kepada uraian mengenai perbuatan-perbuatan shirk yang telah Rasulullah Saw peringatkan kepada umatnya untuk dijauhi:

1. Ar-Riya

Rasulullah Saw menyatakan dalam sebuah hadisnya:

“Yang paling aku takutkan dari umatku adalah salah satu bentuk shirk.” Ketika ditanya apa itu, ia berkata, “Ar-Riya””

Ketahuilah bahwa riya adalah bentuk shirk yang paling halus, laksana debu yang dibisikkan setan ke dalam hati manusia, sehingga seringkali manusia tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan pahala-pahala amal perbuatannya karena riya ini.

Riya adalah melakukan amal perbuatan karena ingin dipuji atau dilihat oleh manusia lain, bukan hanya karena dasar Allah Swt semata. Contohnya seperti kita memperindah dan memperlama gerakan-gerakan dan bacaan shalat kita, bacaan Al-Quran,dsb, karena ada bos kita atau orang lain menyaksikan dan ingin terlihat tampil baik, tapi ketika tidak ada orang lain menyaksikan ia melakukannya biasa-biasa saja. Atau ketika di kantor, seseorang melaksanakan shalat, karena ia tidak ingin dicap sebagai muslim yang buruk, tapi di luar kantor ketika tidak ada orang menyaksikan ia tidak menunaikan ibadah shalat, dsb.

Rasulullah mengatakan, “Sembunyikanlah perbuatan baikmu seperti halnya kau menyembunyikan perbuatan burukmu.”

Sesungguhnya tindakan Riya ini lebih ditakutkan bagi para orang-orang Shaleh, dengan keilmuan mereka, mereka lebih mudah jatuh ke dalam perangkap ini, sebagaimana setan menyatakan sumpahnya, akan menggoda manusia yang paling bertakwa di antara mereka dibanding lainnya.

2. Memohon pertolongan Allah dengan menyandarkan diri melalui perantara

Sebutlah sebuah perumpamaan, antara seorang raja dan rakyatnya. Seorang raja karena kedudukan yang begitu tinggi, maka ia tidak bisa sembarangan ditemui oleh rakyatnya. Ada protokol-protokol tertentu seperti menemui para ajudan, menteri dsb, sebelum ia bisa bertemu Raja.

Demikianlah yang dibisikkan setan kepada hati manusia. Manusia biasa seperti kita hanyalah seorang makhluk yang lemah dan rendah, sementara Allah Maha Tinggi, Arasy-Nya tidak terjangkau oleh kita. Oleh karena itu, bila ingin meminta sesuatu datanglah kepada para Auliya, orang shaleh, Imam, kyai, ulama, shaikh dll yang lebih berilmu darimu, sesungguhnya doa mereka lebih makhbul  daripada apabila engkau lakukan sendiri. Demikian yang dibisikkan setan kepada manusia.

Inilah yang terjadi pada sebagian masyarakat kita, ketika kita memiliki keinginan, terkena musibah, dll, kita datang kepada orang-orang tersebut, bahkan datang ke kuburan-kuburan para wali, untuk meminta kharamah mereka, diharapkan dengan kharamah mereka tersebut Allah berkenan mengabulkan keinginan kita.

Ketahuilah, bagaimana Allah berfirman mengenai hal ini kepada umat-Nya,

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Al-Qaf,50:16)

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS.Al-Mukmin,40:60)

Sesungguhnya Allah itu sangatlah dekat, ketika kita shalat Allah berada di antara kita dan kiblat. Ketika kita memiliki keinginan apapun, atau memohon diringankannya musibah kita, dsb, maka datanglah kepada-Nya secara langsung. Allah adalah satu-satunya sang Maha Penolong tanpa perlu ada perantara untuk menemuinya. Dan menyandarkan pertolongan kepada selain daripada-Nya, adalah salah satu bentuk dari shirk.

3. Menyandarkan diri pada benda-benda atau makhluk hidup selain Allah Swt, sebagai sumber pertolongan.

Banyak sekali tradisi kita yang sesungguhnya lekat dekat shirk. Dan kita terus melaksanakannya dengan alasan melestarikan budaya nenek moyang, para pendahulu, para wali, sunan, dsb, dan gak elok kalau tidak meneruskan kebiasaan-kebiasaan ini. Rasulullah Saw diutus Allah Swt menjadi Rasul di tanah Arab, dengan maksud salah satunya adalah menghapusnya tradisi-tradisi kaum jahiliyah yang sudah jauh menyimpang dari tauhid (monotheism/Keesaan Allah, ajaran yang pertama kali dibawa Nabi Ibrahim AS) dan mengarahkannya kembali kepada ajaran Islam.

Bila sekarang umat Islam  kembali mengagungkan tradisi dan budaya dan menempatkannya lebih utama dibandingkan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw, maka kita tak ubahnya telah kembali seperti kaum Jahiliyah dahulu.

Contohnya:

a. Perayaan Maulid Nabi Saw atau biasa disebut dengan sekaten, dengan memberikan sesajen-sesajen untuk dipersembahkan kepada Taghut (sesembahan selain Allah Swt, i.e. Nyi Roro Kidul, Ratu Laut, dsb), agar mereka memberikan pertolongan dan keselamatan.

Allah dalam Kitab-Nya berfirman:

“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan selain Dia. Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak seorangpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS.Az-Zumar,39:36)

b. Mendatangi dan memberikan sesajen kepada kuburan-kuburan keramat, dengan percaya bahwa kharamah dari orang yang telah meninggal tersebut dapat membawa keberkahan dan keselamatan.

c. Mandi di sumber-sumber air yang dianggap suci, dengan kepercayaan bisa menghapuskan dosa-dosa, malapetaka dan kesialan. Sesungguhnya, dosa-dosa hanya bisa terhapuskan dengan jalan bertaubat, sholat dua raka’at, memohon ampunan dan menyatakan penyesalan tidak akan berbuat kembali. Murka Allah atas mereka, apabila berpikir bahwa ada sesuatu dari ciptaan-Nya yang bisa melakukan apa yang hanya bisa Allah lakukan, seperti menghapuskan dosa-dosa dan memberikan keselamatan.

d. Membuat sesajen, menanamkan sesuatu sebelum membangun rumah/bangunan, dengan kepercayaan barang tersebut bisa membawa keselamatan.

e. Memohon kepada seseorang yang dianggap memiliki kharamah untuk mencari hari baik, untuk melaksanakan pernikahan atau perayaan lainnya. Dengan percaya pada hal ini, berarti mempercayai bahwa Allah Swt telah menciptakan ‘hari baik’ dan ‘hari buruk’, sementara Allah Swt menyatakan Dia menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya, bahkan setiap helaan nafas pun untuk beribadah (kecuali pada waktu-waktu yang memang diharamkan).

f. Menggunakan jimat, cincin, tasbih, gelang, kalung yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran maupun tidak, dengan percaya mereka bisa mendatangkan keselamatan dan keberkahan bagi si pemakainya.

Allah dalam Kitab-Nya berfirman:

“Dan sungguh, jika engkau tanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah? Jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu? atau jika Allah hendak mendatangkan rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku, Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS.Az-Zumar,39:38)

Imam bin Husain Radiyallahu Anha menarasikan:

“Rasulullah Saw suatu ketika melihat seseorang menggunakan cincin ditangannya dan ditanya oleh beliau, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ini untuk mencegah kelemahan di usia tua.” Dia (Rasul) berkata,”Lepaskan, untuk itu hanya akan menambah kelemahanmu. Apakah kamu menginginkan kematian mendatangimu ketika kamu masih mengenakannya? Kamu tidak akan pernah sukses (di akhirat).” (HR.Ahmad)

Dalam hadis lain Uqbah bin Aamir menarasikan bahwa Rasulullah Saw berkata:

“Siapapun yang mengenakan jimat, dia tidak akan melihat keinginannya dikabulkan oleh Allah. Dan siapapun yang menggantunkan kulit kerang (sebagai jimat) tidak akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian.” (HR.Ahmad)

“Siapapun yang mengenakan jimat telah melakukan shirk (polytheism).”

Dinarasikan oleh Ibn Abi Hatim dari Hudhaifah Radiyallahu Anhu:

“Dia melihat seorang pria dengan gulungan benang pada tangannya (sebagai perlindungan atau penyembuhan dari demam), lalu dia mememotong gelang tersebut dan membaca ayat: “Kebanyakan dari mereka percaya kepada Allah dan masih mempraktekkan shirk”(QS.Yusuf,12:106).”

Menggunakan jimat (atau sesajen) dengan maksud mengusir setan adalah termasuk bagian dari shirk. Kecuali dengan membacakan ayat-ayat Al-quran diperbolehkan (ruqyah).

Ar-Ruqa, At-Tama’im dan At-Tilawah

Ar-Ruqa atau Al-Aza’im adalah membacakan jampi-jampi atau mantera.

At-Tama’im adalah meletakkan jimat di sekeliling leher seorang anak dengan maksud menyelamatkan mereka dari bahaya setan, meskipun mengandung ayat-ayat Al-Quran maupun tidak.

At-Tilawah adalah pelet, sesuatu yang dilakukam seseorang yang mengklaim bisa membuat seorang istri lebih disayangi suami atau sebaliknya.

Dinarasikan dari Abu Bashir Al-Ansari Radiyallahu Anha,

“Dia sedang menemani Rasulullah Saw dalam sebuah perjalanan, dan Rasulullah Saw mengirimkan seseorang untu memerintahkan: “Tidak boleh ada kalung dari simpul tali atau kalung jenis apapun di sekitar leher unta-unta kecuali ia dipotong.” (Al-Bukhari&Muslim)

Ibn Mas’ud Radiyallahu Anha menarasikan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw berkata:

Ar-Ruqa, At-Tama’im dan At-Tilawah semuanya adalah perbuatan Shirk.” (Musnad Ahmad dan Abu Dawud)

Ganjaran bagi orang yang memotong kalung, jimat dll dari seseorang

Sa’id bin Jubair Radiyallahu Anha berkata:

“Siapapun yang memotong jimat atau kalung dari seseorang, itu setara dengan membebaskan seorang budak.”

4. Ruqyah

Meminta pertolongan seseorang untuk melakukan ruqyah (membacakan ayat Al-Quran) untuk menyembuhkan dia, adalah perbuatan shirk. Tetapi diperbolehkan melakukan ruqyah untuk orang lain bagi yang mampu melakukannya. Ruqyah diperolehkan hanya untuk mengusir setan dan menyembuhkan dari sengatan racun.

Dalam sebuah narasi para sahabat Nabi pernah menyatakan bahwa bahaya shirk kecil itu lebih besar dari bahaya shirk besar. Karenanya umat banyak terperangkap dalam perbuatan ini dan tidak menyadari bahwa yang dilakukannya termasuk menyekutukan Allah dengan yang lain.

Insha Allah, di kemudian hari kita semua bisa lebih waspada dengan perangkap Shirk ini, serta menjauhinya dan mampu mencegah orang lain melakukannya. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenali Allah Swt melalui pendalaman ilmu tauhid. Mudah-mudahan pada kesempatan lain kita bisa membahas ilmu tauhid lebih khusus lagi. Karena memahami masalah ini sangatlah penting sebelum kita melaksanakan ibadah yang lain, termasuk shalat. Karena tanpa pemahaman yang benar tentang Tauhid, seseorang yang shalat, puasa,dsb pun bisa terperangkap pada praktik-praktik Shirk.

Ketaatan yang berikutnya dan yang utama yang harus dilakukan oleh seorang hamba kepada Allah Swt adalah shalat. Shalat adalah kewajiban yang tidak bisa digantikan oleh praktik lain. Shalat wajib dilaksanakan dalam keadaan bagaimanapun. Bahkan dalam keadaan sakit parah, selama kesadaran tetap ada, shalat dapat dilakukan dengan hanya kedipan mata sebagai isyarat gerakan.

Meninggalkan shalat adalah dosa besar. Bahkan Rasulullah Saw memberi batasan perbedaan antara seorang Muslim dan seorang kafir adalah shalat. Seorang Muslim adalah seseorang yang senantiasa menegakkan shalat. Orang yang meninggal kewajiban shalat adalah orang kafir.

Rasulullah Saw bersabda:

“Wahai Mu’adh, apakah kamu tahu apa hak Allah terhadap manusia dan apa hak manusia terhadap Allah?”  “Aku menjawab, “Allah dan Utusan-Nya lebih tahu,” Dia (Rasulullah  Saw) melanjutkan, “Hak Allah atas makhluk-Nya adalah hanya beribadah kepada Allah dan tidak pernah menyekutukan-Nya kepada lain-Nya. Hak manusia terhadap-Nya adalah tidak menghukum siapapun yang tidak menyekutukan-Nya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Semoga setelah kita mengenali Allah Swt beserta hak-hak-Nya, dan menjauhi hal-hal yang tidak disukai-Nya, dengan hanya bertawakal kepada Allah Swt semata kita harapkan Allah akan ridha mengabulkan segala doa-doa dan keinginan kita.

Insha Allah pembahasan mengenai point-point selanjutnya akan dilanjutkan pada bagian berikutnya.

Mengapa Doa-doaku Belum Terkabulkan? (Bag.1)

Ibrahim bin Adham Rahimahullah, seorang ulama yang terkenal kezuhudannya, menyebutkan beberapa penyebab tidak terkabulkannya doa.

Suatu hari ketika beliau sedang berjalan-jalan di pasar Bashrah, orang-orang mengerumininya dan bertanya,

“Wahai Abu Ishaq, sudah lama kami memanjatkan doa kepada Allah, tetapi mengapa doa kami tidak terkabulkan? Padahal Dia berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan doa kalian.’

Beliau menjawab, “Hal ini dikarenakan hati kalian telah mati dengan 10 perkara berikut:

  1. Kalian mengenal Allah, tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

  2. Kalian mengaku mencintai Rasul-Nya, tetapi kalian meninggalkan Sunnahnya.

  3. Kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.

  4. Kalian banyak diberi nikmat karunia, tetapi kalian tidak mensyukurinya.

  5. Kalian mengatakan bahwa syetan adalah musuh, tetapi kalian justru mengikuti langkahnya.

  6. Kalian mengaku bahwa surga adalah benar adanya, tetapi kalian tidak melakukan amal-amal yang mengantar ke sana.

  7. Kalian mengaku bahwa neraka adalah benar adanya, tetapi kalian tidak lari dari panas siksanya.

  8. Kalian  mengaku bahwa kematian adalah benar adanya, namun kalian tidak mempersiapkan diri ke sana.

  9. Kalian sibuk mengurusi kekurangan orang lain, tetapi kalian lupa akan kekurangan diri sendiri.

  10. Kalian menguburkan jenazah, akan tetapi tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa kematian.

Ada sepuluh prinsip yang harus kita hadirkan dalam keseharian kita. Kesepuluh prinsip ini akan menghidupkan hati, sehingga dengan Ridho Allah doa-doa kita dengan mudah terkabulkan. Insha Allah pada pembahasan berikutnya, kita akan mengkaji lebih mendalam mengenai kesepuluh prinsip tersebut.

Mari, hiduplah dengan sepenuh syarat untuk terkabulnya doa-doa kita. Insha Allah.