[DOWNLOAD Mp3] Kajian KITAB TAUHID ~ (Pentingnya Belajar Tauhid & Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya)

Dengerin & Unduh Kajian KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimmi’

yang disajikan oleh Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

 

 

LIHAT SIDEBAR SEBELAH KANAN PADA BLOG INI, UNTUK MENDAPATKAN LINK DOWNLOAD KAJIAN KITAB TAUHID INI

 

Kenapa kita harus belajar tauhid?

Kenapa para nabi seluruhnya selalu mendakwahkan kepada tauhid? Dan kenapa Allah ampuni segala dosa seorang hamba selama ia memelihara tauhidnya sampai ujung hayatnya…

Tatkala Allah memerintahkan sesuatu kepada kita maka Allah tidak semata-mata memerintahkan begitu saja, namun agar kita antusias untuk melaksanakan perintah-Nya maka Allah memberikan iming-iming kepada kita. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perintah yang paling agung yang Allah wajibkan kepada seluruh manusia adalah perintah untuk mentauhidkan Allah yaitu agar manusia hanya beribadah kepada Allah semata. Oleh Karena itulah Allah memberikan iming-iming yang tidak tanggung-tanggung lagi bagi orang yang melaksanakannya. Lalu apakah iming-iming tersebut? Marilah kita simak pembahasan berikut ini.

 

Di antara keutamaan tauhid adalah:

1. Orang yang mentauhidkan Allah akan mendapatkan ketenangan serta hidayah.

Baik hidayah di dunia berupa ilmu serta taufiq untuk mengmalkan ilmu tersebut maupun hidayah di akhirat yaitu petunjuk untuk menuju surga. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am : 82)
Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat, mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (mis. berbuat maksiat pent.), maka Rasulullah bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Lukman kepada anaknya,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Lukman : 13). (HR. Bukhari & Muslim)

Syirik disebut kezaliman karena orang yang melakukan syirik telah menujukan ibadah kepada sesuatau yang tidak berhak mendapatkannya. Ibadah adalah hak Allah semata, tidak pantas ditujukan kepada makhluk, meskipun kepada Nabi ataupun malaikat, lebih-lebih kepada jin atau arwah orang fasik.

Macam-macam Kezaliman:
a. Kezaliman yang paling besar yaitu menyekutukan Allah (Syirik).
b. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri yaitu bisa berupa maksiat atau tidak memberikan hak-hak dirinya sendiri, misalnya menyiksa diri sendiri dengan aksi mogok makan dan lain-lain.
c. Kezaliman seseorang terhadap orang lain, misalnya mengganggu ketenangan orang lain, mencuri harta orang lain, menganiaya orang lain dan lain-lain.
Seberapa besarkah ketenteraman dan hidayah yang didapat oleh orang yang tidak melakukan Kezaliman?
Jika keimanan seseorang sempurna dan tidak tercampuri oleh maksiat maka ia akan mendapat ketenteraman yang mutlak/sempurna, dan jika keimanan tersebut tidak sempurna maka rasa aman yang ia dapatkan juga tidak sempurna.

Sebagai contoh orang yang melakukan dosa besar (di bawah kesyirikan) maka ia tetap mendapat rasa aman dari ancaman kekal di neraka karena dosa besar tidak menyebabkan seseorang kekal di neraka akan tetapi ia tetap tidak merasa aman dari ancaman azab di neraka meskipun tidak kekal.

2. Orang yang bertauhid pasti akan masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersyahadat bahwa: tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Isa bin Maryam adalah hamba dan utusan-Nya serta kalimat yang Dia sampaikan pada Maryam serta ruh dari-Nya(yaitu ruh ciptaan-Nya, pent), surga adalah benar adanya, neraka adalah benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke surga betapapun amalan yang telah ia perbuat. (HR. Bukhari & Muslim).

Apakah yang dimaksud dengan bersyahadat?
Syahadat adalah persaksian yang disertai pengucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati serta pembuktian dengan amalan badan.

Jika anda bertanya kenapa harus terpenuhi tiga hal tersebut untuk disebut sebagai syahadat yang benar? Maka, sebagaimana kita ketahui, bukankah orang-orang munafik di zaman Nabi dulu juga mengucapkan syahadat, akan tetapi syahadat mereka tidak bermanfaat, bahkan mereka kelak akan berada di kerak neraka.

Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS. An Nisa :145).

Adapun tentang syahadat mereka, maka Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Ketika orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Namun pada kelanjutan ayat, Allah justru mengingkari syahadat mereka serta membongkar keadaan mereka yang sebenarnya, Allah berfirman yang artinya, “sedangkan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun : 1)

Jika kita tilik, kenapa syahadat orang munafik tidak diterima maka akan kita dapatkan dua hal yang menyebabkan hal tersebut:
a. Syahadat mereka tidak diiringi dengan keyakinan di dalam hati atau hanya sekedar di mulut mereka belaka.
b. Syahadat mereka tidak diiringi dengan amalan anggota badan, di mana amalan merupakan bukti benarnya syahadat seseorang.

3. Orang yang bertauhid akan terbebas dari Hisab dan azab dan api neraka

Yang dimaksud terbebas ada dua jenis, yaitu:
a. Terbebas dalam arti tidak pernah masuk neraka sama sekali
b. Terbebas dalam arti dikeluarkan dari neraka setelah dimasukkan ke dalamnya selama beberapa waktu.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal,

”Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya?” Aku menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau pun bersabda,”Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” Beliau bersabda lagi, “Apakah kamu tahu apakah hak mereka jika mereka memenuhi hak Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan (masuk) neraka bagi orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharap (pahala melihat) wajah Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah tidak semata-mata mengucapkan namun harus disertai dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibadah haji, beliau bersabda,

“Haji adalah (wukuf di) Arafah” (HR Ashhabus Sunan).

Sekarang kita tanyakan, Sahkah hukumnya orang yang berhaji namun hanya melaksanakan wukuf di arafah saja? Tentu orang yang mengetahui akan mengatakan tidak, agar ibadah hajinya sah maka ia harus melaksanakan rukun-rukun haji yang lain serta syarat-syaratnya. Nah, begitu juga dengan orang yang mengucapkan syahadat “laa ilaha illallah” maka ia harus melakukan syarat, rukun serta konsekuensi dari ucapan tersebut agar ia mendapatkan keutamaan terbebas dari api neraka sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Di antara contoh tidak melaksanakan konsekuensi dari ucapan ini adalah orang yang mengucapkannya tidak meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Oleh sebab itu banyak kita jumpai orang yang mengaku islam namun masih menggantungkan nasibnya pada jimat, keris, Nyi Roro Kidul, dukun, ramalan-ramalan, dan masih banyak lagi. Padahal itu semua termasuk dalam kategori syirik yang merupakan kebalikan dari tauhid.

4. Bobot timbangan tauhid melebihi timbangan langit dan bumi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Musa ‘alaihisallam berkata, ‘wahai Rabbku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu’, Allah berfirman, ‘Katakanlah wahai Musa, laa ilaha illallah’, maka Musa berkata, ‘wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan hal ini’, Allah berfirman, ‘wahai Musa seandainya ketujuh langit beserta penghuninya selain aku serta ketujuh bumi berada pada satu daun timbangan dan laa ilaha illallah berada pada daun timbangan (yang lain), niscaya laa ilaha illallah lebih berat timbangannya dengan itu semua.”( HR Ibnu Hiban dan al Hakim dan ia menshahihkannya).

5. Tauhid merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah berfirman, wahai anak adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau mendatangiku dengan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka pasti aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar bumi. (HR Tirmidzi dan beliau menghasankannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sungguh Allah akan membebaskan seorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat di mana ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman,’Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini, apakah para (malaikat) pencatat amal telah menganiayamu? Dia menjawab,’Tidak, Wahai Rabbku’. Allah bertanya,’Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab,’Tidak wahai Rabbku’. Allah berfirman,’Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak dianiaya sedikitpun’. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan ‘Asyhadu an La ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadan Abduhu wa Rasuluh’. Lalu Allah berfirman,’Datangkan timbanganmu.’ Dia berkata,’Wahai Rabbku, apakah artinya kartu ini jika dibandingkan dengan seluruh gulungan dosa itu?’ Allah berfirman,’Sungguh kamu tidak akan dianiaya’. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (la ilaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari sesuatu terdapat nama Allah” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang tentang keutamaan tauhid, akan tetapi karena keterbatasan tempat, hanya secukupnya yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan hal ini dapat memotivasi kita untuk giat mempelajari tauhid beserta rincian-rinciannya, mengamalkannya serta mendakwahkannya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

Pentingnya Mengetahui Macam-macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Definisi

Bid’ah secara Bahasa (Etimologis)

Shiddiq Hasan Khan berkata,

“Bid’ah secara bahasa adalah apa-apa yang dilakukan tanpa adanya contoh.” (Al-Ajwibah An-Nafi’ah)

Bid’ah secara Istilah (Terminologis)

Syaikh Al-Albani menukil definisi bid’ah secara istilah dari penyusun kitab Al-Ibda’ (hal.15) di dalam risalah Shalat At-Tarawih (hal.35-36),

“Sebuah cara di dalam agama yang sengaja dibuat-buat dan bertentangan dengan syariat dengan tujuan agar sampai ibadah tersebut kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Pentingnya Mengetahui Macam-Macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang harus, yaitu mengetahui keburukannya bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya.

Syaikh Al-Albani Rahimahullah di bagian penutup bukunya yang lurus Al-Ajwibah An-Nafi’ah (109-115) di dalam Pasal “Bid’ah-bid’ah di Hari Jumat”, berkata,

“Di antara apa-apa yang wajib diketahui yaitu mengetahui berbagai macam bid’ah yang dimasukkan ke dalam agama adalah perkara yang sangat penting. Karena, tidak akan sempurna taqarrub seorang Muslim kepada Allah Ta’ala melainkan dengan menjauhinya. Adapun hal itu tidak mungkin dilakukan, melainkan dengan mengetahuinya satu per satu, jika tidak diketahui kaidah-kaidah dan pokok-pokoknya. Jika tidak demikian, seseorang akan tergelincir ke dalam bid’ah dengan tidak menyadarinya.”

Ini termasuk ke dalam kaidah: apa yang tanpanya kewajiban tidak bisa tegak, maka hal tersebut adalah wajib, sebagaimana yang dikatakan para ulama bidang ushul fiqih rahimahumullah.

Sama dengan hal itu yaitu mengetahui kesyirikan dan macam-macamnya. Orang yang tidak mengetahui hal itu akan tergelincir ke dalamnya. Sebagaimana bisa disaksikan pada kebanyakan kaum Muslimin yang mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang sesungguhnya kesyirikan, seperti bernadzar untuk para wali dan orang-orang shalih, bersumpah dengan nama mereka, berthawaf di pekuburan mereka, membangun masjid di atas kubur mereka, dan lain sebagaimana yang semuanya diketahui kesyirikannya oleh para ahli ilmu.

Oleh sebab itu, dalam beribadah tidak cukup hanya dengan mengetahui Sunnah. Akan tetapi, harus mengetahui apa-apa yang bertentangan dengannya, berupa berbagai macam kesyirikan. Kepada hakikat yang demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan sabdanya,

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaha Ilallaah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari apa-apa yang disembah selain Allah, haram harta dan darahnya, serta perhitungannya terserah kepada Allah.” (Diriwayatkan Muslim) (1)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mencukupkan hanya dengan tauhid, akan tetapi beliau menggabungkan kepadanya kekufuran akan apa-apa selain-Nya. Yang demikian itu mengharuskan seseorang mengetahui kekufuran. Jika tidak, dia akan terjerumus ke dalamnya, sedangkan dirinya tidak menyadari.

Demikian juga pendapat yang berhubungan dengan Sunnah dan bid’ah, tidak ada bedanya. Islam tegak di atas dua pilar yang sangat agung: kita tidak menyembah selain kepada Allah dan tidak menyembah, melainkan dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah.

Barang siapa merusak salah satu di antara keduanya, dia telah merusak yang lainnya dan tidak menyembah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Pendapat berkenaan dengan dua pokok ini bisa dilihat disajikan secara panjang-lebar di dalam kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim Rahimahumallahu.

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang wajib, agar ibadah setiap Mukmin selamat dari bid’ah yang akan menghilangkan nila ta’abbud yang murni hanya kepada Allah Ta’ala. Macam-macam bid’ah(2)  adalah keburukan yang harus diketahui; bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Engkau mengetahui keburukan bukan

untuk keburukan, akan tetapi untuk mengantisipasinya

Adapun orang yang tidak tahu keburukan

dati kebaikan, maka dia rentan tergelincir ke dalamnya

Makna di atas diadopsi dari Sunnah. Hudzaifah bin Al Yaman Radhiyallahu Anhu telah berkata, ”

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan. Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Maka, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?” Beliau menjawab, ‘Ya’. Aku katakan, ‘Apakah setelah keburukan itu lantas datang kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, namun di dalam hatinya sudah berkarat.’ Aku katakan, ‘Apa keburukannya?’ Beliau menjawab,

‘Suatu kaum yang menetapkan sunnah yang bukan Sunnahku, mereka memberi petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau mengetahui di antara mereka maka engkau menghindarinya.’

Aku katakan, ‘Apakah setelah kebaikan itu lantas muncul keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, para penyeru di depan pintu jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka kepadanya, mereka dilemparkan ke dalamnya.’

Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami.’ Beliau bersabda,

‘Ya’, suatu kaum berkulit sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita…’.” (Hadits ditakhrij oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Aku katakan, “Oleh sebab itu, merupakan sesuatu yang sangat penting memberikan peringatan kepada kaum Muslimin akan adanya berbagai macam bid’ah yang masuk ke dalam lingkungan agama. Dan masalahnya tidak sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian orang bahwa cukup dengan mengenalkan kepada mereka tauhid dan Sunnah, juga dinyatakan tidak seharusnya menyindir ketika menjelaskan berbagai macam kesyirikan dan bid’ah, akan tetapi harus diam dan tidak membicarakan semua itu.”

Ini adalah pandangan yang sangat picik yang dihasilkan oleh minimnya pengetahuan dan ilmu berkenaan dengan hakikat tauhid yang berseberangan dengan kesyirikan, dan Sunnah yang berseberangan dengan bid’ah. Pada waktu yang bersamaan menunjukkan kepada kebodohan sebagian orang, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam bid’ah hingga orang alim sekalipun.

Hal ini karena penyebab bid’ah sangat banyak, tidak cukup menerangkannya sekarang ini. Di antara sebab-sebab bid’ah di dalam agama adalah hadits-hadits lemah dan palsu. Sebagian di antaranya tidak diketahui oleh para ahli ilmu, bahkan mereka menyangkanya hadits-hadits shahih, sehingga mengamalkannya dan dengannya mereka bertaqarrub kepada Allah Ta’ala. Kemudian, dalam hal ini mereka diikuti oleh para penuntut ilmu dan masyarakat umum, sehingga menjadi sunnah yang diikuti.

Sehubungan dengan ini -misalnya- Syaikh Allamah Muhaqqiq Sayyid Jamaluddin Al-Qasimi menyusun kitabnya yang bagus, Ishlahul Masajid minal Bida’ wal ‘Awaid. Namun demikian, dalam bukunya beliau menyebutkan satu buah pasal berkenaan dengan perkara-perkara yang harus diperhatikan lebih. Di dalamnya beliau menyebutkan dua puluh masalah, di anataranya masalah keenam belas (Masuknya anak-anak ke dalam masjid). Pada halaman 205 beliau berkata, “Di dalam sebuah hadits:

‘Dan jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila di antara kalian.’

Hal itu karena yang selalu dilakukan anak-anak adalah bermain sehingga permainnya mengganggu orang-orang yang sedang menunaikan shalat. Bahkan, bisa jadi masjid mereka jadikan tempat bermain sehingga dengan demikian menghilangkan fungsi masjid sehingga dengan demikian harus dijauhkan darinya.”

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits di atas lemah, tidak bisa dijadikan dalil dan telah dilemahkan oleh kelompokpara imam, seperti: Abdul Haq Al-Isybili, Ibnul Jauzi, Al-Mundziri, Al-Bushairi, Al-Haitsami, Al-‘Asqalani, dan selainnya. Namun demikian, kondisi hadits tersebut masih juga tidak diketahui oleh Syaikh Al-Qasimi sehingga dia membangun di atasnya hukum syar’i, yaitu menjauhkan anak-anak dari masjid-masjid guna mengagungkan masjid. Padahal, sesungguhnya hal itu adalah bid’ah karena bertentangan dengan apa yang ada di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihii wa Sallam sebagaimana telah dijelaskan di tempatnya di dalam kitab-kitab Sunnah.”(3)

Peringatan akan perkara bid’ah adalah perkara yang wajib hukumnya bagi para ahli ilmu. Sekelompok dari mereka telah melakukan hal demikian itu sehingga mereka menyusun buku yang sangat banyak jumlahnya berkenaan dengan bab ini. Sehingga berkenaan dengan kaidah-kaidah, macam-macam bid’ah, dan dasar-dasarnya(4). Sebagian yang lain berkenaan dengan cabang-cabangnya, sedangkan sebagian yang lain menggabungkan antara keduanya.

Catatan Kaki:

1. Dalam kitab Al-Iman, nomor 23.

2. Sebagaimana sesudahnya di dalam kitab Ahkamul Janaiz, hal.305, cetakan Al Ma’arif.

3. Perhatikan buku Syaikh Al-Albani, “Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” hal.73 – cetakan ketiga.

4. Buku terbaik yang disusun di bidang itu adalah Al-I’tisham karya Asy-Syathibi.

Sumber : Disarikan dari Buku-buku Syaikh Al-Albani, oleh murid beliau Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman dan Abu Abdillah Ahmad bin Ismail Asy-Syakukani dalam buku “Qamus Al-Bida”

 

Artikel Terkait:

1. Apakah itu Bid’ah? (Part 1)

2. Polemik Antara Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Tercela: Tidak Benar Bahwa ImamSyafi’i Membenarkan Adanya Bid’ah Hasanah (Part 2)

3. BAHAYA-BAHAYA BID’AH: Bila Amalan Itu Baik, Tentu Para Sahabat Telah Mendahului Kita Melakakukannya (Part 3)

Apakah itu BID’AH (Inovasi dalam Agama) ? (Part-1)

Oleh : A Dani Permana

Hal yang ditekankan pada pembahasan di sini mengenai makna bid’ah, pengertian bid’ah yang dinilai Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai kesesatan dalam agama. Para ahli telah banyak mendefisinikan arti atau makna bid’ah meskipun terjadi perbedaan lafalnya yang kemudian menyebabkan perbedaan cakupan pada bagian-bagian pengertian bid’ah tersebut, tetapi tujuan akhir dari pengertian bid’ah tersebut adalah sama.

»» Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bid’ah adalah diambil dari kata bida’ yaitu al ikhtira ‘/mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya.

Seperti yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut:

 والمراد غالب البدع . قال أهل اللغة : هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

 “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”[1]

»» Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian-pengertian bid’ah tersebut diantaranya:

البدعة: طريقة مستحدثة في الدين، يراد بها التعبد، تخالف الكتاب، والسنة وإجماع سلف الأمة

“Bid’ah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk ta’abudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma’ umat terdahulu

البدعة في مقابل السنة، وهي : (ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات) ، أو هي بمعنى أعم : (ما لم يشرعه الله من الدين.. فكل من دان بشيء لم يشرعه الله فذاك بدعة

Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan al qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama…maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

 الْبِدْعَةُ فِي الشَّرِيعَةِ إحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bid’ah dalam syari’ah adalah apa yang diada-adakan yang tidak ada perintah Rasulullah shalallahu ta’ala ‘alaihi sallam.

وَعَنْ الْهَرَوِيِّ الْبِدْعَةُ الرَّأْيُ الَّذِي لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَلَا مِنْ السُّنَّةِ

Dan dari al Harawi bahwa bid’ah ialah pendapat pikiran yang tidak ada padanya dari kitab (al Qur`an) dan as Sunnah.

Ibnu Hajar al As Qalani dalam Fathul Bari menjelaskan:

والمراد بقوله ” كل بدعة ضلالة ” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

“Dan yang dimaksud dengan sabdanya “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum”[2]

Menurut Ibnu Taimiyah:

‘ Bid’ah dalam agama ialah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu tidak diperintahkan dengan perintah wajib atau perintah sunnah. Adapun yang diperintahkan dengan perintah wajib dan sunnah serta diketahui perintah-perintah tersebut dengan dalil-dalil syar’i, maka hal itu termasuk yang disyari’atkan oleh Allah, meskipun terjadi perselisihan diantara ulama di beberapa masalah dan sama saja, baik hal itu sudah diamalkan pada masa Rasulullah atau tidak.

Menurut As-Syahtibi:

‘ Bid’ah adalah suatu cara di dalam agama yang diada-adakan (baru) menyerupai agama dan dimaksudkan dalam melakukannya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Menurut Ibnu Rajab:

‘ Yang dimaksudkan dengan bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada dasarnya di dalam syari’at. Adapun suatu yang ada dasarnya dalam syara’, maka bukan bid’ah meskipun dikatakan bid’ah menurut bahasa.’

Menurut As-Suyuti:

‘ Bid’ah ialah suatu ungkapan tentang perbuatan yang bertentangan dengan syari’at karena menyelisihinya atau perbuatan yang menjadikan adanya penambahan dan pengurangan syari’at. ‘

Ulama bersefaham bahwa dari beberapa pengertian bid’ah tersebut diatas yang paling mengena pada maksud bid’ah yang dapat dikatakan sesat adalah yang diartikan oleh Iman As- Syathibi.[3] Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil pokok-pokok pengertian bid’ah menurut syara sebagai berikut:

  • Bid’ah ialah sesuatu yang diadakan di dalam agama. Maka tidak termasuk bid’ah sesuatu yang diadakan di luar agama untuk kemaslahatan dunia seperti pengadaan hasil-hasil industri dan alat-alat untuk mewujudkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi.
  • Bid’ah tidak memiliki dasar yang menunjukkannya dalam syari’at. Adapun hal-hal yang memiliki dasar-dasar syari’at, maka bukan bid’ah meskipun tidak ada dalilnya dalam syari’at secara khusus. Contohnya pada zaman kita ini orang yang membuat alat alat seperti kapal terbang, roket, tank, dll. dari alat-alat perang modern dengan tujuan persiapan memerangi orang-orang kafir dan membela kaum muslimin. Maka perbuatannya bukan bid’ah meskipun syari’at tidak menjelaskannnya secara rinci, dan Rasulullah tidak menggunakan alat-alat tersebut untuk memerangi orang-orang kafir. Tetapi membuatnya termasuk dalam firman Allah secara umum, 

” Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja.” (Al-Anfal : 60).

Begitu pula perbuatan-perbuatan lain yang semisal. Maka setiap sesuatu yang memiliki dasar dalam syara’, ia termasuk syari’at dan bukan bid’ah.

  • Bid’ah di dalam agama kadang-kadang dikurangi dan kadang-kadang ditambah, sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuti meskipun perlu pembatasan bahwa sebab menguranginya adalah agar lebih mantap dalam beragama. Adapun jika sebab menguranginya bukan agar lebih mantap dalam beragama, maka bukan bid’ah. Seperti meninggalkan perintah yang wajib tanpa udzur. Itu disebut maksiat bukan bid’ah begitu pula meninggalkan perkara sunnat tidak dianggap bid’ah.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka bahwa bid’ah itu hanya ada dalam hal agama/ibadah, ini sesuai dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Siapa yang membuat hal baru dalam ajaran agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[4]

Dan dapat kita lihat keterkaitan antara hadist diatas dengan hadist dibawah yaitu mengenai niat dalam beribadah:

Artinya: “Sesungguhnya segala amalan ibadah itu tergantung dari niat.”[5]

Jadi para ulama bersepakat bahwa ciri amal ibadah agar diterima oleh Allah adalah:

a. Meniatkan amal perbuatannya semata demi Allah SWT dan ikhlas kepada-Nya

b. Amal ibadahnya itu dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

Oleh karena itu, saat Imam al-Fudhail bin Iyadh yang beliau adalah gurunya Imam Asy Syafii, dan beliau juga adalah seorang faqih yang zaahid, ditanya tentang firman SWT,

“….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya….” (Al-Mulk:2),

Penanya: “Amal apakah yang paling baik ??” Beliau menjawab: “yaitu amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar” Penanya: “Wahai Abu Ali (al-Fudhail bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar itu ?” Beliau menjawab: “Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Kemudian meskipun amal ibadah itu benar namun dikerjakan dengan tidak ikhlas juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah baru diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan dengan benar pula. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT dan yang dimaksud dengan benar adalah dikerjakan sesuai dengan tuntunan Sunnah.[6]

Dengan demikian nyatalah bahwa segala sesuatu itu dianggap benar apabila ibadah dilakukan ikhlas dan sesuai dengan syari’at. Jika ada ulama yang berani mengatakan bahwa jika kita beribadah asalkan dengan niat yang ikhlas akan tetapi tidak dilakukan sesuai dengan syariat atau tidak ada perintahnya mengenai peribadahan tersebut akan diterima oleh Allah maka kadar keilmuan seorang ulama itu harus di pertanyakan. Bahkan ada pula sebagian dari para ustadz-ustadz di daerah yang mereka berani sekali mengatakain asalkan niat Lillahi Ta’aala maka segala sesuatunya itu bisa diterima atau ditolak itu menjadi urusan Allah. Karena manusia hanya berusaha Allahlah yang menentukan. Mereka (para ulama-ulama tersebut) lupa atau tidak mengetahui bahwa selain ikhlas harus juga sesuai/diperintahkan oleh syari’at.

Related Articles:

BAHAYA-BAHAYA BID’AH – ‘Bila Amalan Itu Baik Tentu Para Sahabat [Rasulullah] Telah Mendahului Kita Melakukannya’ (Part-3)

Apakah itu BID’AH (Inovasi dalam Agama) ? (Part-1)

Pentingnya Mengetahui Macam-macam Bid’ah dan Waspada Terhadapnya

KEUTAMAAN HARI JUM’AT DAN SUNNAH- SUNNAHNYA

Segala puji hanya bagi Allahsubhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullahshalallahu’alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Ba’du:

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengkhususkan umat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan mengistimewakan mereka dari umat-umat yang lainnya dengan berbagai keistimewaan.

»Diantaranya adalah Allah subhanahu wata’ala memilihkan bagi mereka hari yang agung yaitu hari jum’at.

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Huriairah dan Hudzaifah radhiallahu anhum berkata:
“Allah subhanahu wata’ala telah merahasiakan hari jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, maka Allah subhanahu wata’ala mendatangkan umat ini, lalu Dia menunjukan kita hari jum’at ini, maka Dia menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain”. (Shahih Muslim no: 856 dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari  dengan maknanya dari Abi Hurairah ra no: 876).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia dikeluarkan dari surga” (HR. Muslim: no: 854)

»Di antara keutamaan hari ini adalah Allah subhanahu wata’ala menjadikan hari ini sebagai hari ‘ied bagi kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam sunannya dari Ibnu Abbas radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat jum’at maka hendaklah dia mandi”. (Ibnu Majah no: 1098)

»Pada hari ini terdapat saat terkabulnya do’a, yaitu saat di mana tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah subhanahu wata’ala padanya kecuali dia akan dikabulkan permohonannya.

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahu a’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit. (HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)
Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya dan pendapat yang paling kuat adalah dua pendapat:
Pertama: Yaitu saat duduknya imam sehingga shalat selesai, dan alasan ulama yang berpendapat seperti ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Barrah bin Abi Musa bahwa Abdullah bin Umar berkata kepadanya:
“Apakah engkau pernah mendengar bapakmu membacakan sebuah hadist yang berhubungan dengan saat mustajab pada hari jum’at?. Dia berkata: Ya aku pernah mendengarnya berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Dia terjadi saat antara imam duduk sehingga shalat selesai ditunaikan”.[1]
Kedua: Dia terjadi setelah asar, dan pendapat inilah yang paling kuat di antara dua pendapat tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dari Jabir radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Hari jum’at itu dua belas jam, tidaklah seorang hamba yang muslim memohon kepada Allah sesuatu pada hari itu kecuali Dia akan memperkenankan permohonan hamba -Nya itu, maka carilah dia pada akhir waktu asar” (HR. An-Nasa’i: no: 1389).
Pendapat inilah yang dipegang oleh sebagian besar golongan salaf, dan telah didukung oleh berbagai hadits. Adapun tentang hadits riwayat Abi Musa yang sebelumnya maka hadits tersebut memiliki banyak cacat dan telah disebutkan oleh Al-hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari.[2]

»Di antara keutamaannya adalah bahwa hari itu adalah hari dihapuskannya dosa-dosa.

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Shalat lima waktu, jum’at ke jum’at yang lainnya dan ramadhan ke ramadhan yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”.[3]

Di antara adab-adab jum’at yang perlu dijaga oleh orang yang beriman adalah:

1. Disunnahkan bagi imam untuk membaca (الم تنزيل) yaitu surat as-sajdah dan surat Al-Insan pada saat shalat fajar pada hari jum’at.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadits riwayat Ibnu Abbas radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam membaca pada waktu shalat fajar pada hari jum’at (الم تنزيل) as-sajdah dan (هل أتى على الإنسان حين من الدهر)[4]
2. Disunnahkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam pada hari jum’at atau pada waktu malamnya.
Berdasarkan sabda Nabi dalam riwayat An-Nasa’i dari Aus bin Aus:
“Hari terbaik kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dicabut nyawanya, pada hari itu akan terjadi tiupan sangkakala, pada hari itu dimatikannya seluruh makhluk pada hari kiamat, maka perbanyaklah membaca shalawat bagiku sebab shalawat kalian didatangkan kepadaku”.
“Mereka bertanya wahai Rasulullah bagamana shalawat kami didatangkan kepadamu padahal dirimu telah menjadi tulang belulang yang telah remuk?” Atau mereka berkata: “Engkau telah remuk mejadi tanah?” Maka Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para Nabi alaihimus shalatu was salam”. (An—Nasa’I no: 1374)
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Perbanyaklah membaca shalawat bagiku pada ahari jum’at dan malam jum’at, sebab barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu shalawat saja maka Allah subhanahu wata’ala akan membaca shalawat kepadanya sepuluh kali shalawat”.[5]
3. Perintah untuk mandi jum’at dan masalah ini sangat ditekankan, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib.
“Diriwayatkn oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’id Al-Khudri radhhiyallahua’nhu berkata:
“Aku bersaksi bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Mandi pada hari Jum’at diwajibkan bagi orang yang telah mencapai usia balig dan menjalankan shalat sunnah dan memakai minyak wangi jika ada”.[6]
4. Disunnahkan menggunakan minyak wangi dan siwak, memakai pakaian yang terbaik.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Abi Sa’id AL-Khudri dan Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at, memakai siwak, memakai pakaian yang terbaik, memakai minyak wangi jika dia memilikinya, memakai pakaian yang terbaiknya kemudan mendatangi mesjid sementara dia tidak melangkahi pundak-pundak orang lain sehingga dia ruku’ (shalat) sekehendaknya, kemudian mendengarkan imam pada saat dia berdiri untuk berkhutbah sehingga selesai shalatnya maka hal itu sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi antara jum’at ini dengan hari jum’at sebelumnya ( Imam Ahmad: 3/81)

5. Mambaca surat Al-Khafi.
Diriwayatkan  oleh Al-Hakim dari hadits Abi Said Al-Khudri radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang membaca surat Al-kahfi pada hari jum’at maka akan maka sinar akan memancar meneranginya antara dua jum’at”. (Al-Hakim: 3/81)
6. Disunnahkan bersegera manuju shalat jum’at.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Aus Al-Tsaqofi dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang memandikan dan mandi, lalu bergegas menuju mesjid, mendekat kepada posisi imam, mendengar dan memperhatikan khutbah maka baginya dengan setiap langkah yang dilangkahkannya akan mendapat pahala satu tahun termasuk puasanya”. ( Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya: 2/209)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalak kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhhiyallahua’nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at yang sama seperti mandi janabah kemudian bersegera pergi ke mesjid maka dirinya seakan telah berkurban dengan seekor unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada masa ke dua maka dia seakan berkurban dengan seekor sapi, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke tiga  maka dia seakan telah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang keempat maka dia seakan telah berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ke empat maka dia seakan telah berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khutbah).”[7]

Dan bersegera menuju masjid untuk shalat jum’at termasuk perbuatan sunnah yang agung nilainya, namun banyak dilalaikan oleh banyak masyarakat, dan semoga hadits-hadits yang telah disebutkan di atas bisa memberikan motifasi dan memperkuat tekad, serta mengasah semangat untuk bersegera meraih nilai yang utama ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(QS. Ali imron: 133)

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
————————————-
 Footnote:
[1]HR. Muslim: no: 853
[2]Fathul Bari: 2/421-422
[3]Shahih Muslim: no: 233
[4]Muslim: no: 879
[5]Al-Baihaqi: 3/249 no: 5790
[6]Al-Bukhari: no: 880 dan Muslim: no: 846
[7]Shahih Bukhari: no: 881 dan Shahih Muslim: no: 850

Pikiran Bawah Sadar Mengendalikan Hidup Anda

Kita semua tahu bahwa manusia mempunyai satu pikiran dengan dua macam bentuk pikiran yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang sudah ada dalam memori kita, menganalisa data yang baru masuk tersebut dan memutuskan data baru akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara.

Sementara itu pikiran bawah sadar yang kapasitasnya jauh lebih besar dari pikiran sadar mempunyai fungsi yang jauh lebih komplek. Semua fungsi organ tubuh kita diatur cara kerjanya dari pikiran bawah sadar. Selain itu nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini. Memori jangka panjang kita juga terdapat dalam pikiran bawah sadar.

Bahwa bawah sadar andalah yang sebenarnya mengendalikan hidup anda, Juga Sakit anda derita atau kebiasaan ,sikap prilaku anda yang sekarang ini , Percayakah anda ?

Ternyata dari berbagai penelitian 88 persen yang mengendalikan hidup anda adalah BAWAH SADAR anda ,sisanya adalah pikiran sadar anda ,demikian juga dengan SAKIT anda yang sekarang ini ,ANDALAH yang MENCIPTAKANNYA tanpa anda sendiri menyadarinya !! PERCAYAKAH ANDA ?

Untuk dapat memahami pendapat diatas anda harus mengetahui terlebih dahulu cara kerja PIKIRAN kita terlebih dahulu ,seperti saya sampaikan diatas bahwa 88 persen pikiran bawah sadar andalah yang membentuk anda sekarang ini ! , ya ANDA yang sekarang ini secara keseluruhannya ! , sikap prilaku anda , pandangan hidup anda demikian juga dengan kebahagian, juga KESEHATAN ANDA !! artinya bila anda saat ini sedang menderita sakit …. itu adalah kerja dari bawah sadar anda ,demikian juga sebaliknya bila saat ini anda sehat selalu itu juga akibat dari kerja bawah sadar anda !

Baiklah saya akan jelaskan sedikit mengenai kerja pikiran sadar dan bawah sadar kita. . .
Sebelumnya saya sedikit mengulang bahwa pikiran bawah sadar anda adalah sebanyak 88 persen dan sisanya adalah pikiran sadar anda, jadi bagaimanapun kuatnya pikiran sadar anda akan selalu dapat dikalahkan oleh pikiran bawah sadar anda ! jadi KITA HARUS BERDAMAI DENGAN PIKIRAN BAWAH SADAR KITA .

PIKIRAN SADAR DAN BAWAH SADAR selalu berkomunikasi tanpa kita dapat menyadarinya selalu, kadang kita mengetahui bahwa sedang terjadi komunikasi diantaranya . . . saat kita bertanya pada hati kecil kita, saat kita dalam hening …
Atau dapat anda rasakan sendiri pada saat anda . . . misalnya naik sepeda , pikiran sadar anda memerintahkan anda untuk naik sepeda dan menjalankannya, maka tanpa anda perintah lagi (pikiran sadar ) otomatis kaki , tungkai, lengan dan badan anda secara sangat terkoordinasi menaiki sepeda dan menjalankannya . . . semua ini tidak lain adalah dari hasil kerja bawah sadar anda yang telah tersimpan memori bagaimana cara mengendarai sepeda sebagai hasil latihan anda sejak kecil dulu.

Demikianlah betapa sangat besar peran pikiran bawah sadar dalam mengendalikan hidup anda, demikian juga dalam halnya kesehatan , memori kebiasaan buruk sejak kecillah yang membentuk penyakit yang anda derita saat ini. Bagaimana anda dapat menghilangkannya ? tentu memori tersebut harus diganti dengan memori yang baru yang DAPAT memerintahkan semua ORGAN TUBUH anda berfungsi seperti yang anda inginkan, mendorong anda berperilaku SEHAT.

Ingin contoh nyata ? Baiklah, bayangkan tiba-tiba di depan anda saat ini, pada jarak kurang lebih 3 meter, anda melihat sekelebat bayangan yang mirip seperti bentuk ular. Anda menajamkan pandangan untuk melihat lebih jelas dan ternyata …… memang benar …. itu ular kobra yang tampaknya kelaparan. Tubuhnya yang sebesar paha orang dewasa bergerak lambat namun pasti. Suaranya mendesis membuat bulu kuduk berdiri, pandangan matanya sangat bengis dan gigi taringnya mencuat keluar disertai lidahnya yang menjulur-julur siap menerkam apapun yang bisa membuatnya kenyang. Apa yang akan anda lakukan ?

Yaa …. hampir sebagian besar dari kita akan memutuskan untuk lari. Ooops maaf jika anda wanita, anda akan berteriak dulu, bukan ? Baru setelah itu lari. Mengapa ? Karena sebagian besar dari kita tidak pernah tahu bagaimana menaklukkan kobra. Bahkan seandainya tahupun kita lebih baik lari dan mencari bantuan daripada melawannya bukan ?

Bagaimana jika seandainya anda dari kecil sudah diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki. Orangtua anda mengatakan bahwa rumah yang ditempati sekarang adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah anda akan lari jika menemui kobra di depan anda ? Tidak bukan ! Anda pasti berpikir ” wah ini rejeki, tanpa dicari muncul di depan mata ”.

Apa yang membedakan situasi di atas ? Yang membedakan adalah program pikiran yang ada dalam pikiran kita. Program tersebut mengendap dalam bawah sadar dan akan terpicu keluar oleh suatu kejadian tertentu. Ada banyak sekali program di dalam bawah sadar kita. Pernahkah anda memperhatikan program seperti apa yang masuk dalam pikiran kita setiap harinya ?

Pikiran bawah tidak bisa menolak apapun yang anda masukkan melalui kelima panca indera anda. Bahkan hal-hal yang tidak anda perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar.

Jika anda saat ini sedang mengalami kegelisahan, ketakutan, kecemasan, kegagalan hidup, sakit, musibah dan lain sebagaimana yang menimbulkan negativity pada pikiran dan perasaan anda, dan itu pastinya mempengaruhi perilaku anda, anda bisa mengontrol dan memprogram ulang menjadi energi postif dengan berikan informasi-informasi positif pada alam bawah sadar anda. Seperti halnya pada contoh ‘ular kobra’ di atas.

Cobalah Anda lakukan tahapan proses seperti di bawah ini:

  • Duduk nyaman dan rileks. Pejamkan mata. Kalau anda seorang muslim, saya sarankan sambil memutar ayat-ayat suci Al-Quran dari recitor yang memiliki lantunan yang indah, yang membuat kita rileks ketika mendengarkannya, hati yang damai, dan semua beban pikiran kita terlepas (Al-Quran selalu menjadi obat terbaik untuk segala persoalan hidup).
  • Tarik nafas panjang dan dalam. Rasakan udara segar memasuki seluruh tubuh melalui lubang hidung. Secara perlahan, Anda memasuki kondisi gelombang otak Alpha, masuk ke dalam tempat kedamaian Anda. Nikmati keadaan ini beberapa menit.
  • Ucapkan dalam hati, afirmasi yang sudah Anda buat secara pribadi, sebagai gambaran positif denga waktu saat ini. Ucapkanlah, “perubahan atau cita-cita apa yang anda inginkan saat ini.”
  • Visualisasikan keadaan atau tujuan yang Anda harapkan tersebut dalam layar mental Anda. Bayangkanlah bahwa hal itu benar-benar terjadi. Bayangkan bahwa Anda telah mencapai tujuan yang Anda inginkan, saat ini juga Anda telah meraihnya. Gambarkan dengan jelas, sehingga Anda benar-benar dapat melihat diri Anda sendiri di dalam pikiran Anda.
  • Sambil membayangkannya, tambahkan SUASANA HATI atau perasaan positif yang Anda miliki ketika tujuan itu tercapai. Gunakan JANGKAR EMOSI Anda untuk membangun perasaan atau emosi tersebut. Ambil nafas panjang dan dalam, nikmati perasaan itu, nikmati gambaran visualisasi dan perasaan hati yang menyertai suasana tersebut.
  • Setelah itu hitunglah secara perlahan dari 5, 4, 3, 2, 1 … sambil menarik nafas panjang dan dalam, untuk setiap hitungan.
  • Bukalah mata Anda. Jika proses itu terjadi kurang dari 20 menit, ulangi proses tersebut sebanyak beberapa kali, sampai mencapai sekitar 20 menit setiap prosesnya.

Sebaiknya Anda jangan terlalu cepat berharap sudah ada tanda-tanda perubahan, setelah Anda melakukan proses di atas hanya beberapa kali. Seperti halnya benih yang kita tanam, memerlukan waktu untuk bertunas dan tumbuh menjadi pohon besar dan rindang. Demikian pula benih yang kita tanamkan ke dalam pikiran bawah sadar kita, memerlukan proses dan waktu yang cukup untuk tumbuh mewujud menjadi realitas baru, sesuai yang kita harapkan. Lakukan saja terus dengan keyakian dan pengharapan secara ikhlas. Kita ibarat menanam pohon yang tidak mungkin tumbuh besar hanya dalam semalam.

Source: Dikutip dari berbagai sumber.

Dialog Penghuni Surga dan Neraka

Kelak antara penghuni surga danpenghuni neraka terjadi dialog tentang nasib mereka masing-masing. Dialog tersebut diungkapkan dalam Al-Quran,

“Apakah yang memasukkanmu ke dalam Saqar (neraka) ?”

Mereka penghuni neraka menjawab,

“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat dan kami tidak (pula) memberi makan (membantu) orang miskin; dan adalah kami membicarakan yang bathil (bergunjing) dengan orang-orang yang mengerjakannya; dan kami mendustakan hari pembalasan (akhirat) hingga datang kepada kami kematian.” (QS.Al-Muddassir,74:42-47)

Allah  pernah menampakkan kepada Rasulullah SAW surga dan neraka pada saat beliau melaksanakan isra’,

“Ditampakkan kepadaku surga dan neraka. Ketika aku melihat ke dalamnya, penghuni surga yang terbanyak adalah orang-orang miskin, sedangkan penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita.

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar.”

Salah seorang wanita sahabat Rasulullah SAW yang hadir pada saat itu bertanya,

“Wahai Rasulullah, mengapa sebagian kami adalah penghuni neraka yang paling banyak?”

Rasulullah SAW menjawab,

“Karena sebagian dari kalian banyak mengolok-olok (bergunjing) dan sebagian kalian tidak mengakui sanak saudara. Seseorang yang berbuat baik kepada kalian berkali-kali akan kalian hargai, tapi jika ia berbuat kesalahan sekali, kalian menyalahkannya seolah0olah kalian tidak memiliki hubungan sanak kerabat.” (HR. Muslim dan Ahmad)