DARI KAMI

Ini adalah kisah seorang teman, yang telah menginspirasi saya membuat blog ini, yang ingin saya bagikan kepada pembaca sekalian, semoga bisa memberikan inspirasi yang sama bagi anda. Disadur bebas dari sudut pandang saya berdasarkan penuturan kisahnya.

*******

Banyak orang bertanya kepada saya, titik balik apa yang membuat saya bisa mengubah hidup saya 180° dari sebelumnya. Kehidupan saya sebelumnya mungkin tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda di sekeliling saya. Masa muda saya habiskan dengan hura-hura khas anak muda, clubbing, pesta-pesta, kongkow dengan teman-teman, tiada hari tanpa canda, tawa dan kesenangan hidup.

Kemudian setelah saya makin beranjak dewasa hari-hari mulai diganti dengan rutinitas pekerjaan, keluarga, anak dan suami. Kalau jenuh dengan rutinitas sehari-hari, biasanya saya akan berkumpul dengan teman-teman kantor atau teman-teman di masa sekolah di kafe-kafe, tempat karaoke, atau tempat hiburan lainnya. Yang penting asal saya bisa relax, santai dan melepas kepenatan dari rutinitas hidup.

Apa yang ada dibenak saya, mungkin juga dibenak kita semua, bagaimana cara mngumpulkan materi sebanyak-banyaknya agar saya bisa memberikan yang terbaik buat keluarga. Bisa membangunkan rumah yang luas dan indah buat anak-anak, menyekolahkan mereka di sekolah berkualitas, yang tentunya biasanya mahal, bisa memiliki hidup yang nyaman, jauh dari lilitan hutang, dan mencapai kebahagian hidup yang hakiki.

Tapi apakah itu yang dimaksud dengan kebahagian hakiki?

Benarkah kita telah benar-benar mencapai titik tertinggi kebahagian setelah kita telah berhasil mencapai -mungkin dikatakan orang sebagai- “kesuksesan hidup”. Ketika kita telah berhasil memiliki rumah idaman, kendaraan yang nyaman, keluarga, anak-anak, suami/istri yang menyayangi kita ?? Benarkah kita semua sudah bahagia?

Jika memang benar adanya, mengapa selalu ada masa-masa di mana kita mengalami kejenuhan hidup ? Kepenatan dengan semua yang ada di depan kita, seolah-olah kita ingin berteriak, menangis, dan meluapkan semua emosi yang ada di dalam jiwa kita. Kita selalu merasa ada yang kurang, ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang belum kita capai, sekeras apapun kita telah “mengabdi” untuk hidup ini.

Sampai suatu ketika, sebuah peristwa mengubah cara memandang saya tentang hidup ini. Kematian. Ya, kematian.

Kematian orang tua saya, membuat saya memiliki sebuah kesadaran baru. Semua hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Mungkin pernah terlintas, karena kematian adalah sesuatu yang lumrah di keseharian kita. Semua yang hidup pasti mati. Kita semua tahu itu. Tapi kita tidak pernah benar-benar memikirkan apa itu makna kematian, apa yang akan kita hadapi setelahnya, karena kita sekarang masih terlalu sibuk dengan problema kehidupan yang belum kita tamatkan ini.

Di waktu-waktu senggang saya, sering saya memikirkan bagaimana nasib orang tua saya di alam kubur. Apa yang sedang mereka hadapi. Bisakah mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para Malaikat? Atau gada Malaikat memukuli mereka karena tidak tahu atau salah menjawab. Apakah Allah menerangi dan meluaskan kubur mereka seluas pandangan mereka? Atau sebaliknya gelap gulita dan disempitkan kuburnya hingga meremukkan tulang-tulang mereka?

Tentu saja kita selalu mendoakan agar kedua orang tua kita dan semua kerabat, para guru dan orang-orang sholeh yang telah mendahului kita diselamatkan dari siksa kubur dan api neraka. Allahumma amiin. Tapi kesadaran akan pemikiran ini membuat saya ‘takut’. Ya, saya takut mati. Saya tidak sanggup membayangkan segala kemungkinan yang akan saya hadapi setelah saya mati.

Saya kemudian mulai mencari buku-buku yang membahas tentang kematian. Siksa kubur, neraka, semua hal-hal buruk yang mungkin saja jadi tempat kembali kita yang abadi. Abadi ! Dan saya takut !

Dari pengalaman ini saya mulai rajin menyentuh buku-buku agama. Yang biasanya saya hanya membeli novel, majalah, komik dan buku-buku semacam itu yang sesungguhnya tidak memperkaya jiwa, hanya sebuah hiburan dari rutinitas hidup, kini saya beralih ke buku-buku yang lebih menambah pengetahuan dan pencerahan bagi jiwa, khususnya tentang kehidupan abadi yang akan kita jalani di episode selanjutnya setelah kehidupan di dunia ini.

Saya baru sadar. Selama ini saya buta. Tanpa pengetahuan kita menjalani hidup seolah orang buta yang tidak tahu ke mana langkah kaki akan bermuara. Mungkin kita bisa bilang “saya bahagia dan bangga dengan kesuksesan yang sudah saya capai dalam hidup”, tapi tahukah kita ‘akhir’ bagaimana yang akan kita raih? sebuah akhir yang baik (huznul khatimah) atau akhir yang buruk (su’ul khatimah) ? Sungguh tanpa pengetahuan, kita tidak akan tahu bagaimana mempersiapkan “keakhiran” kita.

Dari buku-buku tauhid yang saya baca, saya tahu, bahwa “ketakutan” dan “harapan” adalah bagian dari bukti keimanan kita kepada Allah Swt. “Memintalah kepada-Ku dengan harap dan cemas” begitu FirmanAllah dalam Kitab-Nya. Yaitu ketakutan akan siksa dan murka-Nya sehingga menimbulkan keinginan untuk menjauhi semua hal yang tidak disukai-Nya, dan harapan bahwa Kasih Sayang, Karunia dan Ampunan Allah adalah Maha Luas.

Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri…

Mungkin sebagian orang yang mengenal saya akan mengatakan, saya mendapatkan “Hidayah Allah”, sehingga gaya hidup saya bisa berubah 180° berbeda dari sebelumnya. Banyak orang berpikir salah kaprah, bahwa Hidayah itu sebuah kesadaran baru (atau petunjuk) yang semata-mata ditanamkan Allah ke dalam hati manusia, tanpa ada usaha dari kita sebelumnya. Tapi saya memiliki pandangan lain mengenai hal ini. Satu hal, hidayah semacam itu memang benar adanya, Allah tanamkan hidayah ke-Islaman, bahkan semenjak kita masih di dalam kandungan. Semua manusia pada dasarnya adalah ber-Islam. Itu satu bentuk Kebesaran Kasih Sayang dan  Kuasa Allah. Orang tua merekalah, yang kemudian membentuknya menjadi kristiani, budha, hindhu, atheis, dll. Tapi ada satu lagi hidayah yang bisa kita dapatkan semasa hidup, yaitu dengan mendekatkan diri pada sebab-sebab bisa diberikannya hidayah Allah tersebut. Jadi salah kaprah jika ada orang yang mengatakan, “saya belum mendapatkan hidayah”, “semoga Allah memberikan saya hidayah sehingga saya bisa merubah diri”, “saya menunggu datangnya hidayah Allah.” Hidayah itu bukan untuk ditunggu! Hidayah itu untuk dicari! Dengan jalan mendekatkan diri kepada sebab yang bisa menguatkan hati kita menuju perubahan yang lebih baik, seperti berusaha mencari pengetahuan lebih, berteman dengan orang-orang  sholeh, berkumpul di majelis-majelis ilmu, dll.

Tapi apapun itu istilahnya, sebuah hidayah, petunjuk, kesadaran baru, titik balik, atau apapun, saya mulai mensyukuri “ketakutan” akan kematian yang saya rasakan. Ini bukan takut mati karena begitu cintanya kita kepada dunia, kepada keluarga, kepada pekerjaan, sehingga merasa takut bila hanya merasakan kesenangannya sebentar saja, takut kematian merenggutnya dari kita, tapi “ketakutan” yang didasari pada perasaan bahwa saya belum mempersiapkan bekal saya menuju kehidupan berikutnya secara cukup, dan tidak pernah ada kesempatan untuk kembali, untuk memperbaikinya. Yang mungkin kelak ada, adalah penyesalan dan tangisan saya di alam kubur karena telah menyia-nyiakan banyak waktu selama diberi kesempatan hidup di dunia.

Dari titik ini, saya mulai bisa memandang hidup dengan lebih detil, bukan cuma persoalan 3×8=24/7. 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk keluarga & teman, dan 8 jam untuk tidur. Begitu bukan rutinitas kita sepanjang hari dalam seminggu ?

Saya mulai memperhatikan bahwa ada dua type manusia yang hidup di dunia ini, dan keduanya hidup dengan gaya hidup yang jauh berbeda, walaupun bila ditanya pertanyaan yang sama, “Apakah agamamu?” mereka sama-sama menjawab, “Islam, Alhamdulillah saya adalah Muslim”.

Lantas, mengapa ada sebagian orang yang senang mengisi waktu luangnya dengan berkumpul di majelis-majelis ilmu, seperti masjid dsb, dan sebagian yang lain senang menghabiskan waktu di pasar-pasar -atau yang sekarang kita sebut mall- ?

Tahukah kita bahwa pasar adalah tempat kesenangan dan berkumpulnya para Setan? Dan tentu saja karena tujuan setan tidak lain adalah menyesatkan manusia, mereka akan selalu mengajak kita berkumpul bersama mereka, berlama-lama di mall, mencari hiburan bersama keluarga di sana, kongkow bersama teman-teman di restaurant-restaurant mall, dari pagi hingga malam, hingga akhirnya tidak ada lagi waktu untuk mengerjakan hal-hal yang disenangi Allah Swt, Sang Maha Pencipta kita.

Sungguh selama ini kita telah hidup dalam “kebutaan”.

Tahukah kita bahwa kaum dhu’afa, fakir miskin, baik yang di jalanan atau di manapun, akan menjadi dinding pemisah kita dengan api neraka? Sudah seberapa besar usaha kita membangun dinding ini? Banyak sekali dari kita mungkin tidak menyadari, karena gaya hidup hedonis yang sudah melekat pada keseharian kita, kita bisa menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan, hanya untuk membeli satu makan siang/malam di restaurant favorite kita bersama teman atau keluarga, tapi berpikir seribu kali bila harus mensedekahkan senominal itu untuk satu kotak amal masjid sewaktu sholat Jumat. “Ah, kalau harus memasukkan 500.000 atau 1 juta rasanya terlalu berlebihan, 10.000 sudah cukup”. 10.000 mungkin hanya cukup untuk membangun 1 bata untuk dinding pemisah kita dengan api neraka (itupun kalau Allah ridha dengan amal-amal kita). Pernahkah kita berpikir dengan sudut pandang ini?  Ironis?

Sungguh selama ini kita telah hidup dalam “kebutaan”.

Banyak dari kita rela berdesak-desakkan mengantri yang paling depan untuk sebuah tontonan bioskop, konser artis, atau Sale produk terbaru smartphone Blackberry dsb,tapi seberapa besar usaha kita untuk duduk di shaf  terdepan ketika sholat Jumat/sholat berjama’ah? Mungkin seseorang pernah bertanya kepada anda, “Kok masih di sini? Gak sholat Jumat?” dan anda mungkin salah satu yang menjawab, “Ah tenang saja, baru ceramah khatib kok.” Ironis?

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah berkata kepada Sahabat-sahabatnya, “Seandainya kalian tahu keutamaan/ganjaran bagi yang duduk di shaf terdepan di akhirat kelak, kalian akan berebut untuk duduk di shaf terdepan. Sungguh kalian tidak tahu apa yang aku tahu.” Dan setelah  turunnya hadis ini para Sahabat selalu berebut untuk mendapatkan posisi yang paling utama.

Ketika bulan Ramadhan tiba, mengapa ada sebagian orang yang mengisi waktu mulia ini dengan bertafakur di masjid dan sebagian yang lain berdesak-desakkan berbelanja di mall baik untuk kebutuhan berbuka maupun Hari Raya. Bulan Puasa adalah bulannya berpesta. Tidak ada dari kita yang tidak senang menyambutnya. Di bulan ini merupakan kebiasaan bagi kita untuk mengadakan acara berbuka puasa, bersama kolega, teman, keluarga, kerabat, dsb. Ketika sebagian orang pergi ke masjid mempersiapkan diri Shalat Tarawih, sebagian yang lain menghabiskan malam Ramadhan dengan makan malam yang mewah, sendau gurau dengan teman, hingga larut malam dan melewat satu keutamaan di bulan Ramadhan, yaitu Shalat Tarawih berjamaah. Mungkin sebagian kita mengatakan, “Ah, Shalat Tarawih-nya kan bisa nanti di rumah.” Dan ketika pulang ke rumah larut malam dalam keadaan lelah, mengantuk, kita akan menghibur diri dengan mengatakan, “Tidak apa-apalah melewatkan satu Tarawih, toh itu cuma sunnah, ditinggalkan satu dua kali tidak apa-apa, tapi berkumpul dengan teman-teman lama kan tidak setiap hari bisa terjadi.” Kita bisa membuat seribu satu alasan untuk tidak bertemu Maha Pemberi Karunia kita, tapi kita merasa sayang jika tidak bisa bertemu teman lama. Ironis?

Sungguh selama ini kita telah hidup dalam “kebutaan”.

Mungkin banyak sebagian dari kita terbiasa membuat “penghiburan-penghiburan” seperti itu, atau sebutlah “alasan” untuk menyangkut hal-hal yang disenangi Allah Swt. Saya pun tidak jauh berbeda. Bahkan menertawakan orang-orang yang menunjukkan ketaatan dan kecintaan yang lebih kepada Sang Maha Kuasa, sebagai orang-orang yang tidak bisa menikmati hidup. Menertawakan bagaimana sia-sianya waktu mereka yang hanya mengisi waktu luang di masjid, menertawakan koleksi buku-buku mereka yang tidak populer, pakaian-pakaian sederhana mereka, yang polos tanpa warna, tanpa model, celana atau jubah di atas mata kaki, janggut di dagu, jilbab longgar yang menyapu debu jalanan. Kita bilang mereka ‘orang udik’, ‘kampungan’, ‘tidak berpendidikan’, dan ‘tidak modern’. Benarkah? Wallahu ‘alam.

Yang saya tahu sekarang, dengan sedikit pengetahuan yang ada, saya berhenti menertawakan mereka yang lebih tahu bagaimana mengisi hidup yang cuma persinggahan sementara ini, untuk persiapan menuju rumah tinggal kita kelak yang abadi, dan menertawakan diri sendiri yang masih menjalani hidup dengan “kebutaan”.

********

Semoga kisah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini, sesungguhnya kita semua sama di mata Allah. Siapapun kita, apapun background dan masa lalu kita, apakah kita terlahir dari orangtua yang sholeh, atau tidak berpendidikan sama sekali, apakah kita mengenyam pendidikan pesantren atau modern, apapun kedudukan kita di masyarakat, seberapa banyak atau sedikit harta kita, seberapa bagus atau buruk pakaian kita, seberapa indah atau jelek tubuh kita….yang membedakan kita di mata Allah hanya Takwa. Dan tanpa Ilmu kita tidak tahu bagaimana bisa mencapainya. Tapi Ilmu tanpa Amal juga adalah sia-sia. Dua hal yang bisa kita ambil hikmah dari kisah ini insha Allah adalah pertama,

“Kesuksesan hidup hanya bisa dicapai dengan paham benar akan tujuannya.”

Apa tujuan hidup kita? Apa tujuan dari penciptaan kita?

“Dan tidak Aku [Allah] ciptakan manusia dan jin, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.”(Az-Zaariyat,51:56)

kedua,

“Orang yang paling pintar [tahu bagaimana menggapai kesuksesan] adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk apa yang akan mereka hadapi setelah kematian.”

Semoga nasihat-nasihat emas di bawah ini bisa mengetuk hati-hati yang sedang tidur, menggetarkan jiwa-jiwa yang selalu gelisah, dan rohani-rohani yang masih berjalan dalam kebutaan….Insha Allah.

“Apa peduliku terhadap dunia dan apa peduli dunia terhadapku. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tiada perumpamaanku dan perumpamaan dunia kecuali seperti penunggang yang berjalan di hari panas lalu berteduh di bawah pohon sebentar dari terik matahari, kemudian pergi meninggalkannya.” [Hadis Rasulullah Saw melalui Ibnu Abbas RA]

“Saya heran terhadap orang yang sedih lantaran kekurangan harta dan tidak sedih terhadap hilangnya umur. Saya heran padahal dunia berlalu darinya dan akhirat mendatanginya, bagaimana dia sibuk dengan apa yang akan berlalu dan berpaling dari yang akan datang.” [Ahli Hikmah]

“Jauhnya angan-anganmu, hingga kamu memperbaharui rumah-rumahmu, kamu mengokohkan kehidupanmu di dunia, kamu menikmati kelezatan dengan makanan bergizi, pakaian halus, seakan-akan kamu diciptakan untuk dunia! Tidakkah kamu tahu bahwa kematian di depanmu? Tidakkah kamu tahu bahwa Malaikat Maut diberi tugas mencabut ajalmu, tidak ada satu masa pun terlewat darinya?” [Syamith bin Ajlan]

“Tiga hal membuatku takjub, Orang yang berangan-angan tentang dunia sedang kematian mencarinya, orang yang lalai sedang dia tidak dilalaikan, dan orang yang tertawa terbahak-bahak sedang dia tidak tahu apakah murka Tuhan semesta padanya atau keridhaan-Nya.” [Salman Al-Farisi]

“Hai yang tertipu kesehatan berketerusan, tidakkan kamu saksikan walau seorang pun yang mati tanpa jatuh sakit? Hai yang tertipu oleh kesempatan lapang, tidakkah kamu saksikan orang yang diambil (nyawanya) tanpa persiapan? Allah merahmati hamba yang bekerja untuk saat kematiannya. Allah merahmati hamba yang bekerja untuk saat setelah kematiannya. Allah merahmati hamba yang menginstropeksi dirinya sebelum maut datang. [Syamith bin Ajlan]

“Ingatlah saat menuruni galiannya dan terpisah dari kerabat, bangkitlah dari tidur nyenyak, dan katakanlah, “Saya bertaubat.” Lekaslah raih keutamaan-keutamaan sebelum hilang kesempatan, karena kusir memacu dengan cepat, unta-unta tak kenal lelah dan kematian terus mencari.” [Syaikh Mahmud Al-Mishri]

Bumi Allah, April, 2012

Berikan Opini:

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s