MAKNA “LAA ILAHA ILALLAAH” [Untuk Diketahui Agar Ibadah Tak Menjadi Sia-sia]

بسم الله الرحمن الرحيم

لا إِلَهَ إِلا اللهُ

Oleh: Al-Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah

Makna Kalimat Tauhid لااله الا الله

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf : 86)

Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.” (HR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini :

Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata (لا), kata (إِلَهَ), kata (إِلا) dan kata (اللهُ). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut :

1) Laa (لا) adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya).

Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.


2) Ilaha
(إِلَهَ) adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek) sehingga bermakna ma`luh yang artinya adalah ma’bud (yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud.

Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf :

وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَإِلَهَتَكَ

“ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?” .

Il ahat aka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah

3) Illa (إِلا) Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa.

Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.

4) Lafadz Allah (اللهُ) asal katanya adalah Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.

Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) :

“Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.

Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah.

Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa Laa ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab- membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya :

عَمَلَ إِنَّ اجْعَلْ لِلاَ فِي نَكِرَه ……..

“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khobar) untuk laa bila isimnya nakirah”.

Isim laa adalah kata ilaha, adapun khobarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama As-Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30 :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ

“Yang demikian itu karena Allahlah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62.

Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah.

Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya.

Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin maupun yang kafirnya- tatkala mereka mendengar perkataan laa ilaha illallah sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.

Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan benarnya apa yang telah kami paparkan :

*) Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh :

“Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)”.

Dan beliau juga berkata :

“Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.


*) Berkata Imam Ibnu Rajab :

“Al-Ilah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”.


*) Berkata Al-Imam Al-Baqo`iy :

“Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata”.

*) Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh :

“Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut :

  • Pertama :An-Nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha.

Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.

  • Kedua :Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat Illallah.

Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja.

Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan).

Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini :

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS. Al-Baqarah : 256).

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku ; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf : 26-27)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa` : 36)

Untuk melaksanakan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia serta langit dan bumi sebagai fasilitas buat mereka :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah : 29)

Karenanya Allah mengutus para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36)

وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya` : 25).

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (QS. Az-Zukhruf : 45)

Dan karenanya pulalah Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya :

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ

“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah”. (QS. Hud : 1-2)

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.”. (QS. Az-Zumar : 2)

Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala alihi wasallam semisal Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya, sebagaimana yang diungkap oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta mereka :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)

Maka lihatlah –semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.

{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh}

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau (2/5) :

“Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh saudara kita di jalan Allah Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Umar bin Ahmad Al-Malibary tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya :

Pertama : Laa Ma’buda bihaqqin illallah (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah).

Kedua : Laa Mutho’a bihaqqin illallah (Tidak ada yang berhak ditaati kecuali Allah).

Ketiga : Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).

Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau jelaskan. Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firmanNya Subhanahu :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 5)

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Isra` : 23)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Hajj : 62)

Demikianlah, dari penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, makna Syahadat “laa ilaha illallaah” adalah merupakan prinsip dasar kita dalam melaksanakan semua bentuk ibadah. Tanpa didasari pada prinsip tersebut ibadah kita menjadi tidak benar atau sia-sia, atau bahkan membuat kita terperangkap pada perbuatan syirik tanpa kita sadari, dan dapat mengekalkan seseorang ke dalam api neraka, karena perbuatan syirik termasuk dosa besar yang tidak Allah ampuni. Seorang Muslim yang ibadahnya tidak didasari pada makna ‘laa ilaha illallaah’ bisa jadi terjerumus pada ilustrasi-ilustrasi di bawah ini:

Seseorang bisa menyatakan ‘saya seorang Muslim’, bahkan dia berdzikir Syahadat ribuan kali, tapi dia tidak menafikan adanya penyembahan lain selain Allah, maka ibadahnya menjadi sia-sia, dan dia bukan termasuk golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam. Contohnya: kaum yang menyatakan dirinya Muslim, namun mengadakan ritual-ritual atau tradisi tertentu, seperti tradisi sekatenan, yaitu memberikan sesembahan kepada (Syetan) Nyi Roro Kidul, para nelayan atau petani yang memberikan sesembahan kepada (Syetan) Dewa Laut atau (Syetan) Dewi Padi, melakukan penyembelihan hewan kepada mereka dan bukan karena Allah. Memberikan sesajen-sesajen ketika membangun rumah atau menguburkan seseorang. Datang kepada seseorang untuk meminta atau menghentikan hujan. Mendatangi kuburan orang-orang suci, wali-wali bahkan shalat menghadap kuburan mereka, dan bukan kepada kiblat dan dilakukan di masjid, dll.

Ini artinya, orang-orang tersebut, walaupun menyatakan dirinya Muslim, melakukan ibadah shalat, puasa, membayar zakat, dll, tapi mereka tidak menafikan bahwa Allah adalah sesembahan yang satu dan hanya Dia yang patut disembah, karena mereka juga melakukan penyembahan-penyembahan kepada selain-Nya. Juga, mereka telah menyamakan sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah, dan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, kepada makhluk yang lain. Seperti mereka mengharapkan rezeki, keselamatan, dll, di mana hal tersebut hanya Allah yang bisa memberikan, kepada selain Allah. Mereka juga takut bahwa makhluk lain bisa menimpakan mara bahaya, bencana, dll, di mana hal tersebut tidak akan bisa menimpa seseorang, bila Allah tidak menghendaki tertimpa kepada mereka. Dan di sinilah, bagaimana mereka, orang-orang yang merasa dirinya seorang Muslim, telah terperangkap jauh ke dalam perbuatan syirik besar, di mana api neraka yang kekal adalah balasan bagi perbuatan tersebut.

Atau, seorang Muslim yang beribadah hanya karena mengharapkan sesuatu, misalnya pahala dan surga. Walaupun surga dan pahala adalah ganjaran bagi orang-orang yang beribadah, tapi dia telah menjadikan niat untuk beribadah tersebut hanya mengharapkan balasan Allah, bukan dia dirikan hanya karena kecintaan dia kepada Allah semata. Bahkan lebih buruk lagi seseorang beribadah karena ‘Riya’, karena ingin mendapat predikat sebagai orang shaleh, karena status dan jabatan, karena ingin mendapat pujian, karena ingin populer dan kaya, seperti kesesatan sebagian orang yang menyebut diri mereka para pendakwah, tapi di luar itu mereka berfoya-foya, menyukai kemewahan dan menikmati kepopuleran mereka, di mana hal-hal tersebut justru jauh dari nilai-nilai Islam yang berusaha mereka dengung-dengungkan, dll.

Atau, seorang muslimah yang mengenakan jilbab bukan karena diniatkan karena Allah semata, tapi karena alasan-alasan tertentu, seperti malu kepada pihak-pihak lain jika ia tidak mengenakannya; karena jilbab merupakan fashion yang sedang trend sekarang; karena tekanan-tekanan orang lain (misalnya di sekolah/kantor setiap muslimah wajib menggunakan jilbab, dsb), sehingga berjilbabnya bukan atas dasar keinginan sendiri dan karena Allah semata, dll.

Sehingga seorang muslimah, meskipun ia sedang melaksanakan satu syariat Islam, yaitu menutup aurat, tapi karena ibadahnya tidak dilandasai makna tauhid, ibadahnya menjadi sia-sia bahkan jauh menyimpang dengan apa syariatkan. Contohnya, ia menggunakan jilbab tapi masih menuruti hawa nafsunya, yakni mengikuti mode yang sedang trend dibandingkan berjilbab sesuai syar’i, seperti berpakaian ketat, menggunakan wangi-wangian yang mengundang nafsu seksual lawan jenis, berjilbab sanggul (walaupun dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam telah melaknat wanita-wanita yang menghiasi kepalanya layaknya punuk unta, dan mengharamkan atas mereka wanginya surga), dll.

Tidak memahami dengan benar akan tujuan dari jilbab itu sendiri, yakni melindungi aurat sehingga tidak menjadi fitnah bagi non-mahram, sehingga mereka walaupun berjilbab namun masih menjalin hubungan dengan non-mahram sebelum pernikahan/pacaran dan melakukan perbuatan-perbuatan zina, pergi berduaan dengan non-mahram, bercampur baur dan bergaul bebas dengan non-mahram, atau ketika seseorang mengingatkan mereka bagaimana berjilbab yang syar’i, mereka menafikan hal tersebut karena takut terlihat jelek, ditertawakan orang lain, dsb, di mana hal-hal tersebut sangatlah bertentangan dengan tujuan jilbab itu sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain, ibadah-ibadah kita sehari-hari yang tanpa kita sadari menjadi sia-sia dan bahkan menyimpang dari syariat yang telah ditetapkan karena minimnya pengetahuan mereka akan makna ‘laa ilaha illallaah’.

Apabila seorang Muslim tidak mengetahui makna syahadat dan menjadikannya sebagai landasan dalam setiap peribadahannya, maka dia pun tidak tahu bagaimana mengamalkan ibadahnya secara benar. Alih-alih benar, dia justru terjerumus ke dalam kesesatan dan dosa.

Oleh karena itu, merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengetahui makna ‘laa ilaha illallaah’ dan memantapkan tauhid di dalam setiap hati mereka. Setiap Muslim wajib mencari ilmu dan pengetahuan mengenai hal tersebut, sebelum ia melakukan segala peribadatan-peribadatan kepada Allah, sehingga dia mengetahui konsekuensinya, mengetahui bagaimana mengamalkannya dan meninggal di atasnya serta mendakwahkannya kepada orang lain. Insha Allah.

Sumber :

Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006 dengan tambahan.

Dengerin dan Unduh Kajian Mengenai Makna Syahadat bersama Ustadh Chalid Ruray dari KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimi’

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-1) :

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-1) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-3) :

Artikel Terkait:

Kenapa Setiap Muslim Harus Mempelajari ILMU TAUHID dan Urgensinya di Atas Ibadah Shalat, Puasa, Zakat dan Haji

Kajian Kitab Tauhid [Pentingya Belajar Tauhid dan Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya]

Berikan Opini:

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s