sunnah atau bid'ah

Pentingnya Mengetahui Macam-macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Definisi

Bid’ah secara Bahasa (Etimologis)

Shiddiq Hasan Khan berkata,

“Bid’ah secara bahasa adalah apa-apa yang dilakukan tanpa adanya contoh.” (Al-Ajwibah An-Nafi’ah)

Bid’ah secara Istilah (Terminologis)

Syaikh Al-Albani menukil definisi bid’ah secara istilah dari penyusun kitab Al-Ibda’ (hal.15) di dalam risalah Shalat At-Tarawih (hal.35-36),

“Sebuah cara di dalam agama yang sengaja dibuat-buat dan bertentangan dengan syariat dengan tujuan agar sampai ibadah tersebut kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Pentingnya Mengetahui Macam-Macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang harus, yaitu mengetahui keburukannya bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya.

Syaikh Al-Albani Rahimahullah di bagian penutup bukunya yang lurus Al-Ajwibah An-Nafi’ah (109-115) di dalam Pasal “Bid’ah-bid’ah di Hari Jumat”, berkata,

“Di antara apa-apa yang wajib diketahui yaitu mengetahui berbagai macam bid’ah yang dimasukkan ke dalam agama adalah perkara yang sangat penting. Karena, tidak akan sempurna taqarrub seorang Muslim kepada Allah Ta’ala melainkan dengan menjauhinya. Adapun hal itu tidak mungkin dilakukan, melainkan dengan mengetahuinya satu per satu, jika tidak diketahui kaidah-kaidah dan pokok-pokoknya. Jika tidak demikian, seseorang akan tergelincir ke dalam bid’ah dengan tidak menyadarinya.”

Ini termasuk ke dalam kaidah: apa yang tanpanya kewajiban tidak bisa tegak, maka hal tersebut adalah wajib, sebagaimana yang dikatakan para ulama bidang ushul fiqih rahimahumullah.

Sama dengan hal itu yaitu mengetahui kesyirikan dan macam-macamnya. Orang yang tidak mengetahui hal itu akan tergelincir ke dalamnya. Sebagaimana bisa disaksikan pada kebanyakan kaum Muslimin yang mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang sesungguhnya kesyirikan, seperti bernadzar untuk para wali dan orang-orang shalih, bersumpah dengan nama mereka, berthawaf di pekuburan mereka, membangun masjid di atas kubur mereka, dan lain sebagaimana yang semuanya diketahui kesyirikannya oleh para ahli ilmu.

Oleh sebab itu, dalam beribadah tidak cukup hanya dengan mengetahui Sunnah. Akan tetapi, harus mengetahui apa-apa yang bertentangan dengannya, berupa berbagai macam kesyirikan. Kepada hakikat yang demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan sabdanya,

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaha Ilallaah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari apa-apa yang disembah selain Allah, haram harta dan darahnya, serta perhitungannya terserah kepada Allah.” (Diriwayatkan Muslim) (1)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mencukupkan hanya dengan tauhid, akan tetapi beliau menggabungkan kepadanya kekufuran akan apa-apa selain-Nya. Yang demikian itu mengharuskan seseorang mengetahui kekufuran. Jika tidak, dia akan terjerumus ke dalamnya, sedangkan dirinya tidak menyadari.

Demikian juga pendapat yang berhubungan dengan Sunnah dan bid’ah, tidak ada bedanya. Islam tegak di atas dua pilar yang sangat agung: kita tidak menyembah selain kepada Allah dan tidak menyembah, melainkan dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah.

Barang siapa merusak salah satu di antara keduanya, dia telah merusak yang lainnya dan tidak menyembah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Pendapat berkenaan dengan dua pokok ini bisa dilihat disajikan secara panjang-lebar di dalam kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim Rahimahumallahu.

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang wajib, agar ibadah setiap Mukmin selamat dari bid’ah yang akan menghilangkan nila ta’abbud yang murni hanya kepada Allah Ta’ala. Macam-macam bid’ah(2)  adalah keburukan yang harus diketahui; bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Engkau mengetahui keburukan bukan

untuk keburukan, akan tetapi untuk mengantisipasinya

Adapun orang yang tidak tahu keburukan

dati kebaikan, maka dia rentan tergelincir ke dalamnya

Makna di atas diadopsi dari Sunnah. Hudzaifah bin Al Yaman Radhiyallahu Anhu telah berkata, ”

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan. Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Maka, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?” Beliau menjawab, ‘Ya’. Aku katakan, ‘Apakah setelah keburukan itu lantas datang kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, namun di dalam hatinya sudah berkarat.’ Aku katakan, ‘Apa keburukannya?’ Beliau menjawab,

‘Suatu kaum yang menetapkan sunnah yang bukan Sunnahku, mereka memberi petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau mengetahui di antara mereka maka engkau menghindarinya.’

Aku katakan, ‘Apakah setelah kebaikan itu lantas muncul keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, para penyeru di depan pintu jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka kepadanya, mereka dilemparkan ke dalamnya.’

Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami.’ Beliau bersabda,

‘Ya’, suatu kaum berkulit sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita…’.” (Hadits ditakhrij oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Aku katakan, “Oleh sebab itu, merupakan sesuatu yang sangat penting memberikan peringatan kepada kaum Muslimin akan adanya berbagai macam bid’ah yang masuk ke dalam lingkungan agama. Dan masalahnya tidak sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian orang bahwa cukup dengan mengenalkan kepada mereka tauhid dan Sunnah, juga dinyatakan tidak seharusnya menyindir ketika menjelaskan berbagai macam kesyirikan dan bid’ah, akan tetapi harus diam dan tidak membicarakan semua itu.”

Ini adalah pandangan yang sangat picik yang dihasilkan oleh minimnya pengetahuan dan ilmu berkenaan dengan hakikat tauhid yang berseberangan dengan kesyirikan, dan Sunnah yang berseberangan dengan bid’ah. Pada waktu yang bersamaan menunjukkan kepada kebodohan sebagian orang, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam bid’ah hingga orang alim sekalipun.

Hal ini karena penyebab bid’ah sangat banyak, tidak cukup menerangkannya sekarang ini. Di antara sebab-sebab bid’ah di dalam agama adalah hadits-hadits lemah dan palsu. Sebagian di antaranya tidak diketahui oleh para ahli ilmu, bahkan mereka menyangkanya hadits-hadits shahih, sehingga mengamalkannya dan dengannya mereka bertaqarrub kepada Allah Ta’ala. Kemudian, dalam hal ini mereka diikuti oleh para penuntut ilmu dan masyarakat umum, sehingga menjadi sunnah yang diikuti.

Sehubungan dengan ini -misalnya- Syaikh Allamah Muhaqqiq Sayyid Jamaluddin Al-Qasimi menyusun kitabnya yang bagus, Ishlahul Masajid minal Bida’ wal ‘Awaid. Namun demikian, dalam bukunya beliau menyebutkan satu buah pasal berkenaan dengan perkara-perkara yang harus diperhatikan lebih. Di dalamnya beliau menyebutkan dua puluh masalah, di anataranya masalah keenam belas (Masuknya anak-anak ke dalam masjid). Pada halaman 205 beliau berkata, “Di dalam sebuah hadits:

‘Dan jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila di antara kalian.’

Hal itu karena yang selalu dilakukan anak-anak adalah bermain sehingga permainnya mengganggu orang-orang yang sedang menunaikan shalat. Bahkan, bisa jadi masjid mereka jadikan tempat bermain sehingga dengan demikian menghilangkan fungsi masjid sehingga dengan demikian harus dijauhkan darinya.”

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits di atas lemah, tidak bisa dijadikan dalil dan telah dilemahkan oleh kelompokpara imam, seperti: Abdul Haq Al-Isybili, Ibnul Jauzi, Al-Mundziri, Al-Bushairi, Al-Haitsami, Al-‘Asqalani, dan selainnya. Namun demikian, kondisi hadits tersebut masih juga tidak diketahui oleh Syaikh Al-Qasimi sehingga dia membangun di atasnya hukum syar’i, yaitu menjauhkan anak-anak dari masjid-masjid guna mengagungkan masjid. Padahal, sesungguhnya hal itu adalah bid’ah karena bertentangan dengan apa yang ada di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihii wa Sallam sebagaimana telah dijelaskan di tempatnya di dalam kitab-kitab Sunnah.”(3)

Peringatan akan perkara bid’ah adalah perkara yang wajib hukumnya bagi para ahli ilmu. Sekelompok dari mereka telah melakukan hal demikian itu sehingga mereka menyusun buku yang sangat banyak jumlahnya berkenaan dengan bab ini. Sehingga berkenaan dengan kaidah-kaidah, macam-macam bid’ah, dan dasar-dasarnya(4). Sebagian yang lain berkenaan dengan cabang-cabangnya, sedangkan sebagian yang lain menggabungkan antara keduanya.

Catatan Kaki:

1. Dalam kitab Al-Iman, nomor 23.

2. Sebagaimana sesudahnya di dalam kitab Ahkamul Janaiz, hal.305, cetakan Al Ma’arif.

3. Perhatikan buku Syaikh Al-Albani, “Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” hal.73 – cetakan ketiga.

4. Buku terbaik yang disusun di bidang itu adalah Al-I’tisham karya Asy-Syathibi.

Sumber : Disarikan dari Buku-buku Syaikh Al-Albani, oleh murid beliau Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman dan Abu Abdillah Ahmad bin Ismail Asy-Syakukani dalam buku “Qamus Al-Bida”

 

Artikel Terkait:

1. Apakah itu Bid’ah? (Part 1)

2. Polemik Antara Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Tercela: Tidak Benar Bahwa ImamSyafi’i Membenarkan Adanya Bid’ah Hasanah (Part 2)

3. BAHAYA-BAHAYA BID’AH: Bila Amalan Itu Baik, Tentu Para Sahabat Telah Mendahului Kita Melakakukannya (Part 3)

3 comments on “Pentingnya Mengetahui Macam-macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

  1. Ping-balik: Apakah itu BID’AH (Inovasi dalam Agama) ? (Part-1) | Pendakian Menuju Surga

  2. Ping-balik: BAHAYA-BAHAYA BID’AH – ‘Bila Amalan Itu Baik Tentu Para Sahabat [Rasulullah] Telah Mendahului Kita Melakukannya’ (Part-3) | Pendakian Menuju Surga

  3. Ping-balik: Polemik Antara Bid’ah Hasanah & Bid’ahTercela: Tidak Benar Bahwa Imam Syafi’ie Membenarkan Adanya Bid’ah Hasanah (Part-2) | Pendakian Menuju Surga

Berikan Opini:

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s