[DOWNLOAD Mp3] Kajian KITAB TAUHID ~ (Pentingnya Belajar Tauhid & Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya)

Dengerin & Unduh Kajian KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimmi’

yang disajikan oleh Oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray

 

 

LIHAT SIDEBAR SEBELAH KANAN PADA BLOG INI, UNTUK MENDAPATKAN LINK DOWNLOAD KAJIAN KITAB TAUHID INI

 

Kenapa kita harus belajar tauhid?

Kenapa para nabi seluruhnya selalu mendakwahkan kepada tauhid? Dan kenapa Allah ampuni segala dosa seorang hamba selama ia memelihara tauhidnya sampai ujung hayatnya…

Tatkala Allah memerintahkan sesuatu kepada kita maka Allah tidak semata-mata memerintahkan begitu saja, namun agar kita antusias untuk melaksanakan perintah-Nya maka Allah memberikan iming-iming kepada kita. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perintah yang paling agung yang Allah wajibkan kepada seluruh manusia adalah perintah untuk mentauhidkan Allah yaitu agar manusia hanya beribadah kepada Allah semata. Oleh Karena itulah Allah memberikan iming-iming yang tidak tanggung-tanggung lagi bagi orang yang melaksanakannya. Lalu apakah iming-iming tersebut? Marilah kita simak pembahasan berikut ini.

 

Di antara keutamaan tauhid adalah:

1. Orang yang mentauhidkan Allah akan mendapatkan ketenangan serta hidayah.

Baik hidayah di dunia berupa ilmu serta taufiq untuk mengmalkan ilmu tersebut maupun hidayah di akhirat yaitu petunjuk untuk menuju surga. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am : 82)
Ibnu Mas’ud mengatakan, “ketika ayat ini turun, terasa beratlah di hati para sahabat, mereka mengatakan siapakah di antara kita yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri (mis. berbuat maksiat pent.), maka Rasulullah bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi yang dimaksud (dengan kezaliman pada ayat tersebut) adalah kesyirikan. Tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Lukman kepada anaknya,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Lukman : 13). (HR. Bukhari & Muslim)

Syirik disebut kezaliman karena orang yang melakukan syirik telah menujukan ibadah kepada sesuatau yang tidak berhak mendapatkannya. Ibadah adalah hak Allah semata, tidak pantas ditujukan kepada makhluk, meskipun kepada Nabi ataupun malaikat, lebih-lebih kepada jin atau arwah orang fasik.

Macam-macam Kezaliman:
a. Kezaliman yang paling besar yaitu menyekutukan Allah (Syirik).
b. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri yaitu bisa berupa maksiat atau tidak memberikan hak-hak dirinya sendiri, misalnya menyiksa diri sendiri dengan aksi mogok makan dan lain-lain.
c. Kezaliman seseorang terhadap orang lain, misalnya mengganggu ketenangan orang lain, mencuri harta orang lain, menganiaya orang lain dan lain-lain.
Seberapa besarkah ketenteraman dan hidayah yang didapat oleh orang yang tidak melakukan Kezaliman?
Jika keimanan seseorang sempurna dan tidak tercampuri oleh maksiat maka ia akan mendapat ketenteraman yang mutlak/sempurna, dan jika keimanan tersebut tidak sempurna maka rasa aman yang ia dapatkan juga tidak sempurna.

Sebagai contoh orang yang melakukan dosa besar (di bawah kesyirikan) maka ia tetap mendapat rasa aman dari ancaman kekal di neraka karena dosa besar tidak menyebabkan seseorang kekal di neraka akan tetapi ia tetap tidak merasa aman dari ancaman azab di neraka meskipun tidak kekal.

2. Orang yang bertauhid pasti akan masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersyahadat bahwa: tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Isa bin Maryam adalah hamba dan utusan-Nya serta kalimat yang Dia sampaikan pada Maryam serta ruh dari-Nya(yaitu ruh ciptaan-Nya, pent), surga adalah benar adanya, neraka adalah benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke surga betapapun amalan yang telah ia perbuat. (HR. Bukhari & Muslim).

Apakah yang dimaksud dengan bersyahadat?
Syahadat adalah persaksian yang disertai pengucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati serta pembuktian dengan amalan badan.

Jika anda bertanya kenapa harus terpenuhi tiga hal tersebut untuk disebut sebagai syahadat yang benar? Maka, sebagaimana kita ketahui, bukankah orang-orang munafik di zaman Nabi dulu juga mengucapkan syahadat, akan tetapi syahadat mereka tidak bermanfaat, bahkan mereka kelak akan berada di kerak neraka.

Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS. An Nisa :145).

Adapun tentang syahadat mereka, maka Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Ketika orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Namun pada kelanjutan ayat, Allah justru mengingkari syahadat mereka serta membongkar keadaan mereka yang sebenarnya, Allah berfirman yang artinya, “sedangkan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun : 1)

Jika kita tilik, kenapa syahadat orang munafik tidak diterima maka akan kita dapatkan dua hal yang menyebabkan hal tersebut:
a. Syahadat mereka tidak diiringi dengan keyakinan di dalam hati atau hanya sekedar di mulut mereka belaka.
b. Syahadat mereka tidak diiringi dengan amalan anggota badan, di mana amalan merupakan bukti benarnya syahadat seseorang.

3. Orang yang bertauhid akan terbebas dari Hisab dan azab dan api neraka

Yang dimaksud terbebas ada dua jenis, yaitu:
a. Terbebas dalam arti tidak pernah masuk neraka sama sekali
b. Terbebas dalam arti dikeluarkan dari neraka setelah dimasukkan ke dalamnya selama beberapa waktu.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal,

”Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya?” Aku menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau pun bersabda,”Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.” Beliau bersabda lagi, “Apakah kamu tahu apakah hak mereka jika mereka memenuhi hak Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Allah tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan (masuk) neraka bagi orang yang mengucapkan “laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharap (pahala melihat) wajah Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah tidak semata-mata mengucapkan namun harus disertai dengan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibadah haji, beliau bersabda,

“Haji adalah (wukuf di) Arafah” (HR Ashhabus Sunan).

Sekarang kita tanyakan, Sahkah hukumnya orang yang berhaji namun hanya melaksanakan wukuf di arafah saja? Tentu orang yang mengetahui akan mengatakan tidak, agar ibadah hajinya sah maka ia harus melaksanakan rukun-rukun haji yang lain serta syarat-syaratnya. Nah, begitu juga dengan orang yang mengucapkan syahadat “laa ilaha illallah” maka ia harus melakukan syarat, rukun serta konsekuensi dari ucapan tersebut agar ia mendapatkan keutamaan terbebas dari api neraka sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Di antara contoh tidak melaksanakan konsekuensi dari ucapan ini adalah orang yang mengucapkannya tidak meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Oleh sebab itu banyak kita jumpai orang yang mengaku islam namun masih menggantungkan nasibnya pada jimat, keris, Nyi Roro Kidul, dukun, ramalan-ramalan, dan masih banyak lagi. Padahal itu semua termasuk dalam kategori syirik yang merupakan kebalikan dari tauhid.

4. Bobot timbangan tauhid melebihi timbangan langit dan bumi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Musa ‘alaihisallam berkata, ‘wahai Rabbku, ajarilah aku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu’, Allah berfirman, ‘Katakanlah wahai Musa, laa ilaha illallah’, maka Musa berkata, ‘wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan hal ini’, Allah berfirman, ‘wahai Musa seandainya ketujuh langit beserta penghuninya selain aku serta ketujuh bumi berada pada satu daun timbangan dan laa ilaha illallah berada pada daun timbangan (yang lain), niscaya laa ilaha illallah lebih berat timbangannya dengan itu semua.”( HR Ibnu Hiban dan al Hakim dan ia menshahihkannya).

5. Tauhid merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah berfirman, wahai anak adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau mendatangiku dengan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, maka pasti aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar bumi. (HR Tirmidzi dan beliau menghasankannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Sungguh Allah akan membebaskan seorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat di mana ketika itu dibentangkan 99 gulungan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman,’Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini, apakah para (malaikat) pencatat amal telah menganiayamu? Dia menjawab,’Tidak, Wahai Rabbku’. Allah bertanya,’Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?’ Dia menjawab,’Tidak wahai Rabbku’. Allah berfirman,’Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak dianiaya sedikitpun’. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan ‘Asyhadu an La ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadan Abduhu wa Rasuluh’. Lalu Allah berfirman,’Datangkan timbanganmu.’ Dia berkata,’Wahai Rabbku, apakah artinya kartu ini jika dibandingkan dengan seluruh gulungan dosa itu?’ Allah berfirman,’Sungguh kamu tidak akan dianiaya’. Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (la ilaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari sesuatu terdapat nama Allah” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang tentang keutamaan tauhid, akan tetapi karena keterbatasan tempat, hanya secukupnya yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan hal ini dapat memotivasi kita untuk giat mempelajari tauhid beserta rincian-rinciannya, mengamalkannya serta mendakwahkannya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

MAKNA “LAA ILAHA ILALLAAH” [Untuk Diketahui Agar Ibadah Tak Menjadi Sia-sia]

بسم الله الرحمن الرحيم

لا إِلَهَ إِلا اللهُ

Oleh: Al-Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah

Makna Kalimat Tauhid لااله الا الله

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf : 86)

Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.” (HR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini :

Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata (لا), kata (إِلَهَ), kata (إِلا) dan kata (اللهُ). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut :

1) Laa (لا) adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya).

Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.


2) Ilaha
(إِلَهَ) adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek) sehingga bermakna ma`luh yang artinya adalah ma’bud (yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud.

Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf :

وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَإِلَهَتَكَ

“ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?” .

Il ahat aka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah

3) Illa (إِلا) Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa.

Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.

4) Lafadz Allah (اللهُ) asal katanya adalah Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.

Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) :

“Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.

Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah.

Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa Laa ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab- membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya :

عَمَلَ إِنَّ اجْعَلْ لِلاَ فِي نَكِرَه ……..

“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khobar) untuk laa bila isimnya nakirah”.

Isim laa adalah kata ilaha, adapun khobarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama As-Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30 :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ

“Yang demikian itu karena Allahlah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62.

Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah.

Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya.

Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin maupun yang kafirnya- tatkala mereka mendengar perkataan laa ilaha illallah sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.

Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan benarnya apa yang telah kami paparkan :

*) Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh :

“Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)”.

Dan beliau juga berkata :

“Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.


*) Berkata Imam Ibnu Rajab :

“Al-Ilah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”.


*) Berkata Al-Imam Al-Baqo`iy :

“Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata”.

*) Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh :

“Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut :

  • Pertama :An-Nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha.

Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.

  • Kedua :Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat Illallah.

Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja.

Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan).

Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini :

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS. Al-Baqarah : 256).

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku ; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf : 26-27)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa` : 36)

Untuk melaksanakan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia serta langit dan bumi sebagai fasilitas buat mereka :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah : 29)

Karenanya Allah mengutus para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36)

وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya` : 25).

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ

“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (QS. Az-Zukhruf : 45)

Dan karenanya pulalah Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya :

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ

“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah”. (QS. Hud : 1-2)

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.”. (QS. Az-Zumar : 2)

Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala alihi wasallam semisal Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya, sebagaimana yang diungkap oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta mereka :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)

Maka lihatlah –semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.

{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh}

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau (2/5) :

“Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh saudara kita di jalan Allah Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Umar bin Ahmad Al-Malibary tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya :

Pertama : Laa Ma’buda bihaqqin illallah (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah).

Kedua : Laa Mutho’a bihaqqin illallah (Tidak ada yang berhak ditaati kecuali Allah).

Ketiga : Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).

Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau jelaskan. Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firmanNya Subhanahu :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 5)

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Isra` : 23)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Hajj : 62)

Demikianlah, dari penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, makna Syahadat “laa ilaha illallaah” adalah merupakan prinsip dasar kita dalam melaksanakan semua bentuk ibadah. Tanpa didasari pada prinsip tersebut ibadah kita menjadi tidak benar atau sia-sia, atau bahkan membuat kita terperangkap pada perbuatan syirik tanpa kita sadari, dan dapat mengekalkan seseorang ke dalam api neraka, karena perbuatan syirik termasuk dosa besar yang tidak Allah ampuni. Seorang Muslim yang ibadahnya tidak didasari pada makna ‘laa ilaha illallaah’ bisa jadi terjerumus pada ilustrasi-ilustrasi di bawah ini:

Seseorang bisa menyatakan ‘saya seorang Muslim’, bahkan dia berdzikir Syahadat ribuan kali, tapi dia tidak menafikan adanya penyembahan lain selain Allah, maka ibadahnya menjadi sia-sia, dan dia bukan termasuk golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam. Contohnya: kaum yang menyatakan dirinya Muslim, namun mengadakan ritual-ritual atau tradisi tertentu, seperti tradisi sekatenan, yaitu memberikan sesembahan kepada (Syetan) Nyi Roro Kidul, para nelayan atau petani yang memberikan sesembahan kepada (Syetan) Dewa Laut atau (Syetan) Dewi Padi, melakukan penyembelihan hewan kepada mereka dan bukan karena Allah. Memberikan sesajen-sesajen ketika membangun rumah atau menguburkan seseorang. Datang kepada seseorang untuk meminta atau menghentikan hujan. Mendatangi kuburan orang-orang suci, wali-wali bahkan shalat menghadap kuburan mereka, dan bukan kepada kiblat dan dilakukan di masjid, dll.

Ini artinya, orang-orang tersebut, walaupun menyatakan dirinya Muslim, melakukan ibadah shalat, puasa, membayar zakat, dll, tapi mereka tidak menafikan bahwa Allah adalah sesembahan yang satu dan hanya Dia yang patut disembah, karena mereka juga melakukan penyembahan-penyembahan kepada selain-Nya. Juga, mereka telah menyamakan sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah, dan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, kepada makhluk yang lain. Seperti mereka mengharapkan rezeki, keselamatan, dll, di mana hal tersebut hanya Allah yang bisa memberikan, kepada selain Allah. Mereka juga takut bahwa makhluk lain bisa menimpakan mara bahaya, bencana, dll, di mana hal tersebut tidak akan bisa menimpa seseorang, bila Allah tidak menghendaki tertimpa kepada mereka. Dan di sinilah, bagaimana mereka, orang-orang yang merasa dirinya seorang Muslim, telah terperangkap jauh ke dalam perbuatan syirik besar, di mana api neraka yang kekal adalah balasan bagi perbuatan tersebut.

Atau, seorang Muslim yang beribadah hanya karena mengharapkan sesuatu, misalnya pahala dan surga. Walaupun surga dan pahala adalah ganjaran bagi orang-orang yang beribadah, tapi dia telah menjadikan niat untuk beribadah tersebut hanya mengharapkan balasan Allah, bukan dia dirikan hanya karena kecintaan dia kepada Allah semata. Bahkan lebih buruk lagi seseorang beribadah karena ‘Riya’, karena ingin mendapat predikat sebagai orang shaleh, karena status dan jabatan, karena ingin mendapat pujian, karena ingin populer dan kaya, seperti kesesatan sebagian orang yang menyebut diri mereka para pendakwah, tapi di luar itu mereka berfoya-foya, menyukai kemewahan dan menikmati kepopuleran mereka, di mana hal-hal tersebut justru jauh dari nilai-nilai Islam yang berusaha mereka dengung-dengungkan, dll.

Atau, seorang muslimah yang mengenakan jilbab bukan karena diniatkan karena Allah semata, tapi karena alasan-alasan tertentu, seperti malu kepada pihak-pihak lain jika ia tidak mengenakannya; karena jilbab merupakan fashion yang sedang trend sekarang; karena tekanan-tekanan orang lain (misalnya di sekolah/kantor setiap muslimah wajib menggunakan jilbab, dsb), sehingga berjilbabnya bukan atas dasar keinginan sendiri dan karena Allah semata, dll.

Sehingga seorang muslimah, meskipun ia sedang melaksanakan satu syariat Islam, yaitu menutup aurat, tapi karena ibadahnya tidak dilandasai makna tauhid, ibadahnya menjadi sia-sia bahkan jauh menyimpang dengan apa syariatkan. Contohnya, ia menggunakan jilbab tapi masih menuruti hawa nafsunya, yakni mengikuti mode yang sedang trend dibandingkan berjilbab sesuai syar’i, seperti berpakaian ketat, menggunakan wangi-wangian yang mengundang nafsu seksual lawan jenis, berjilbab sanggul (walaupun dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam telah melaknat wanita-wanita yang menghiasi kepalanya layaknya punuk unta, dan mengharamkan atas mereka wanginya surga), dll.

Tidak memahami dengan benar akan tujuan dari jilbab itu sendiri, yakni melindungi aurat sehingga tidak menjadi fitnah bagi non-mahram, sehingga mereka walaupun berjilbab namun masih menjalin hubungan dengan non-mahram sebelum pernikahan/pacaran dan melakukan perbuatan-perbuatan zina, pergi berduaan dengan non-mahram, bercampur baur dan bergaul bebas dengan non-mahram, atau ketika seseorang mengingatkan mereka bagaimana berjilbab yang syar’i, mereka menafikan hal tersebut karena takut terlihat jelek, ditertawakan orang lain, dsb, di mana hal-hal tersebut sangatlah bertentangan dengan tujuan jilbab itu sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain, ibadah-ibadah kita sehari-hari yang tanpa kita sadari menjadi sia-sia dan bahkan menyimpang dari syariat yang telah ditetapkan karena minimnya pengetahuan mereka akan makna ‘laa ilaha illallaah’.

Apabila seorang Muslim tidak mengetahui makna syahadat dan menjadikannya sebagai landasan dalam setiap peribadahannya, maka dia pun tidak tahu bagaimana mengamalkan ibadahnya secara benar. Alih-alih benar, dia justru terjerumus ke dalam kesesatan dan dosa.

Oleh karena itu, merupakan kewajiban setiap Muslim untuk mengetahui makna ‘laa ilaha illallaah’ dan memantapkan tauhid di dalam setiap hati mereka. Setiap Muslim wajib mencari ilmu dan pengetahuan mengenai hal tersebut, sebelum ia melakukan segala peribadatan-peribadatan kepada Allah, sehingga dia mengetahui konsekuensinya, mengetahui bagaimana mengamalkannya dan meninggal di atasnya serta mendakwahkannya kepada orang lain. Insha Allah.

Sumber :

Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006 dengan tambahan.

Dengerin dan Unduh Kajian Mengenai Makna Syahadat bersama Ustadh Chalid Ruray dari KITAB TAUHID Karangan ‘Syaikh Muhammad At-Tamimi’

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-1) :

DAKWAH KEPADA SYAHADAT ‘LAA ILAHA ILLALLAAH (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-1) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-2) :

PENJELASAN TAUHID DAN MAKNA SYAHADAT (BAG-3) :

Artikel Terkait:

Kenapa Setiap Muslim Harus Mempelajari ILMU TAUHID dan Urgensinya di Atas Ibadah Shalat, Puasa, Zakat dan Haji

Kajian Kitab Tauhid [Pentingya Belajar Tauhid dan Kesesatan Bagi Yang Mengabaikannya]

sunnah atau bid'ah

Pentingnya Mengetahui Macam-macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Definisi

Bid’ah secara Bahasa (Etimologis)

Shiddiq Hasan Khan berkata,

“Bid’ah secara bahasa adalah apa-apa yang dilakukan tanpa adanya contoh.” (Al-Ajwibah An-Nafi’ah)

Bid’ah secara Istilah (Terminologis)

Syaikh Al-Albani menukil definisi bid’ah secara istilah dari penyusun kitab Al-Ibda’ (hal.15) di dalam risalah Shalat At-Tarawih (hal.35-36),

“Sebuah cara di dalam agama yang sengaja dibuat-buat dan bertentangan dengan syariat dengan tujuan agar sampai ibadah tersebut kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Pentingnya Mengetahui Macam-Macam BID’AH dan Waspada Terhadapnya

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang harus, yaitu mengetahui keburukannya bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya.

Syaikh Al-Albani Rahimahullah di bagian penutup bukunya yang lurus Al-Ajwibah An-Nafi’ah (109-115) di dalam Pasal “Bid’ah-bid’ah di Hari Jumat”, berkata,

“Di antara apa-apa yang wajib diketahui yaitu mengetahui berbagai macam bid’ah yang dimasukkan ke dalam agama adalah perkara yang sangat penting. Karena, tidak akan sempurna taqarrub seorang Muslim kepada Allah Ta’ala melainkan dengan menjauhinya. Adapun hal itu tidak mungkin dilakukan, melainkan dengan mengetahuinya satu per satu, jika tidak diketahui kaidah-kaidah dan pokok-pokoknya. Jika tidak demikian, seseorang akan tergelincir ke dalam bid’ah dengan tidak menyadarinya.”

Ini termasuk ke dalam kaidah: apa yang tanpanya kewajiban tidak bisa tegak, maka hal tersebut adalah wajib, sebagaimana yang dikatakan para ulama bidang ushul fiqih rahimahumullah.

Sama dengan hal itu yaitu mengetahui kesyirikan dan macam-macamnya. Orang yang tidak mengetahui hal itu akan tergelincir ke dalamnya. Sebagaimana bisa disaksikan pada kebanyakan kaum Muslimin yang mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang sesungguhnya kesyirikan, seperti bernadzar untuk para wali dan orang-orang shalih, bersumpah dengan nama mereka, berthawaf di pekuburan mereka, membangun masjid di atas kubur mereka, dan lain sebagaimana yang semuanya diketahui kesyirikannya oleh para ahli ilmu.

Oleh sebab itu, dalam beribadah tidak cukup hanya dengan mengetahui Sunnah. Akan tetapi, harus mengetahui apa-apa yang bertentangan dengannya, berupa berbagai macam kesyirikan. Kepada hakikat yang demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan sabdanya,

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaha Ilallaah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) dan mengingkari apa-apa yang disembah selain Allah, haram harta dan darahnya, serta perhitungannya terserah kepada Allah.” (Diriwayatkan Muslim) (1)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mencukupkan hanya dengan tauhid, akan tetapi beliau menggabungkan kepadanya kekufuran akan apa-apa selain-Nya. Yang demikian itu mengharuskan seseorang mengetahui kekufuran. Jika tidak, dia akan terjerumus ke dalamnya, sedangkan dirinya tidak menyadari.

Demikian juga pendapat yang berhubungan dengan Sunnah dan bid’ah, tidak ada bedanya. Islam tegak di atas dua pilar yang sangat agung: kita tidak menyembah selain kepada Allah dan tidak menyembah, melainkan dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah.

Barang siapa merusak salah satu di antara keduanya, dia telah merusak yang lainnya dan tidak menyembah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Pendapat berkenaan dengan dua pokok ini bisa dilihat disajikan secara panjang-lebar di dalam kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim Rahimahumallahu.

Mengetahui macam-macam bid’ah adalah perkara yang wajib, agar ibadah setiap Mukmin selamat dari bid’ah yang akan menghilangkan nila ta’abbud yang murni hanya kepada Allah Ta’ala. Macam-macam bid’ah(2)  adalah keburukan yang harus diketahui; bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Engkau mengetahui keburukan bukan

untuk keburukan, akan tetapi untuk mengantisipasinya

Adapun orang yang tidak tahu keburukan

dati kebaikan, maka dia rentan tergelincir ke dalamnya

Makna di atas diadopsi dari Sunnah. Hudzaifah bin Al Yaman Radhiyallahu Anhu telah berkata, ”

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan. Lalu, Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Maka, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?” Beliau menjawab, ‘Ya’. Aku katakan, ‘Apakah setelah keburukan itu lantas datang kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, namun di dalam hatinya sudah berkarat.’ Aku katakan, ‘Apa keburukannya?’ Beliau menjawab,

‘Suatu kaum yang menetapkan sunnah yang bukan Sunnahku, mereka memberi petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau mengetahui di antara mereka maka engkau menghindarinya.’

Aku katakan, ‘Apakah setelah kebaikan itu lantas muncul keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya’, para penyeru di depan pintu jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka kepadanya, mereka dilemparkan ke dalamnya.’

Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami.’ Beliau bersabda,

‘Ya’, suatu kaum berkulit sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita…’.” (Hadits ditakhrij oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Aku katakan, “Oleh sebab itu, merupakan sesuatu yang sangat penting memberikan peringatan kepada kaum Muslimin akan adanya berbagai macam bid’ah yang masuk ke dalam lingkungan agama. Dan masalahnya tidak sebagaimana yang diperkirakan oleh sebagian orang bahwa cukup dengan mengenalkan kepada mereka tauhid dan Sunnah, juga dinyatakan tidak seharusnya menyindir ketika menjelaskan berbagai macam kesyirikan dan bid’ah, akan tetapi harus diam dan tidak membicarakan semua itu.”

Ini adalah pandangan yang sangat picik yang dihasilkan oleh minimnya pengetahuan dan ilmu berkenaan dengan hakikat tauhid yang berseberangan dengan kesyirikan, dan Sunnah yang berseberangan dengan bid’ah. Pada waktu yang bersamaan menunjukkan kepada kebodohan sebagian orang, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam bid’ah hingga orang alim sekalipun.

Hal ini karena penyebab bid’ah sangat banyak, tidak cukup menerangkannya sekarang ini. Di antara sebab-sebab bid’ah di dalam agama adalah hadits-hadits lemah dan palsu. Sebagian di antaranya tidak diketahui oleh para ahli ilmu, bahkan mereka menyangkanya hadits-hadits shahih, sehingga mengamalkannya dan dengannya mereka bertaqarrub kepada Allah Ta’ala. Kemudian, dalam hal ini mereka diikuti oleh para penuntut ilmu dan masyarakat umum, sehingga menjadi sunnah yang diikuti.

Sehubungan dengan ini -misalnya- Syaikh Allamah Muhaqqiq Sayyid Jamaluddin Al-Qasimi menyusun kitabnya yang bagus, Ishlahul Masajid minal Bida’ wal ‘Awaid. Namun demikian, dalam bukunya beliau menyebutkan satu buah pasal berkenaan dengan perkara-perkara yang harus diperhatikan lebih. Di dalamnya beliau menyebutkan dua puluh masalah, di anataranya masalah keenam belas (Masuknya anak-anak ke dalam masjid). Pada halaman 205 beliau berkata, “Di dalam sebuah hadits:

‘Dan jauhkan masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila di antara kalian.’

Hal itu karena yang selalu dilakukan anak-anak adalah bermain sehingga permainnya mengganggu orang-orang yang sedang menunaikan shalat. Bahkan, bisa jadi masjid mereka jadikan tempat bermain sehingga dengan demikian menghilangkan fungsi masjid sehingga dengan demikian harus dijauhkan darinya.”

Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits di atas lemah, tidak bisa dijadikan dalil dan telah dilemahkan oleh kelompokpara imam, seperti: Abdul Haq Al-Isybili, Ibnul Jauzi, Al-Mundziri, Al-Bushairi, Al-Haitsami, Al-‘Asqalani, dan selainnya. Namun demikian, kondisi hadits tersebut masih juga tidak diketahui oleh Syaikh Al-Qasimi sehingga dia membangun di atasnya hukum syar’i, yaitu menjauhkan anak-anak dari masjid-masjid guna mengagungkan masjid. Padahal, sesungguhnya hal itu adalah bid’ah karena bertentangan dengan apa yang ada di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihii wa Sallam sebagaimana telah dijelaskan di tempatnya di dalam kitab-kitab Sunnah.”(3)

Peringatan akan perkara bid’ah adalah perkara yang wajib hukumnya bagi para ahli ilmu. Sekelompok dari mereka telah melakukan hal demikian itu sehingga mereka menyusun buku yang sangat banyak jumlahnya berkenaan dengan bab ini. Sehingga berkenaan dengan kaidah-kaidah, macam-macam bid’ah, dan dasar-dasarnya(4). Sebagian yang lain berkenaan dengan cabang-cabangnya, sedangkan sebagian yang lain menggabungkan antara keduanya.

Catatan Kaki:

1. Dalam kitab Al-Iman, nomor 23.

2. Sebagaimana sesudahnya di dalam kitab Ahkamul Janaiz, hal.305, cetakan Al Ma’arif.

3. Perhatikan buku Syaikh Al-Albani, “Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” hal.73 – cetakan ketiga.

4. Buku terbaik yang disusun di bidang itu adalah Al-I’tisham karya Asy-Syathibi.

Sumber : Disarikan dari Buku-buku Syaikh Al-Albani, oleh murid beliau Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman dan Abu Abdillah Ahmad bin Ismail Asy-Syakukani dalam buku “Qamus Al-Bida”

 

Artikel Terkait:

1. Apakah itu Bid’ah? (Part 1)

2. Polemik Antara Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Tercela: Tidak Benar Bahwa ImamSyafi’i Membenarkan Adanya Bid’ah Hasanah (Part 2)

3. BAHAYA-BAHAYA BID’AH: Bila Amalan Itu Baik, Tentu Para Sahabat Telah Mendahului Kita Melakakukannya (Part 3)

Sakaratul Maut dan Panggilan Malaikat Maut

majelis ilm

Mati merupakan suatu yang pasti terjadi, tidak terhalangi oleh kekukuhan benteng, tidak ada hijab yang menghalangi, dan tidak ada pintu yang menolaknya, Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah, “Seseungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), ynag mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Jumuah:8) “Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (Al-Anfal : 50)

Al-Qurtubi berkata, “Buatlah peran tentang dirimu hai yang terpedaya, sewaktu sakaratul maut datang kepadamu, rasa sakit dan penderitaan tiba padamu, lalu ada yang berkata bahwa si fulan telah berwasiat dan hartanya telah dihitung, yang lain berkata bahwa si fulan lisannya susah berkata, sehingga ia tidak kenal tetangganya dan tidak dapat berkata kepada saudara-saudaranya, seakan-akan…

Lihat pos aslinya 1.629 kata lagi